Editor:Deditaba | Jumat, 21 Juli 2017 Pukul 23:14:58 Wib,

Menjaga Gambut Menjaga kehidupan kita

,
Menjaga Gambut Menjaga kehidupan kita Keterangan Foto: Pantaugambut.id

Penulis : Dedi Iskamto

Tuhan telah memberikan anugrah kepada bangsa indonesia berupa alam yang indah dan subur. Dimana mata memandang disitulah nampak kehijauan, dimana kaki melangkah disana terdapat tanah yang subur. Memang tidak semua tanah sama masing-masing tempat mempunyai keunikannya sendiri, mempunyai kearifan sendiri. Disebagian tempat dianugrahi tahan hitam yang lunak, disebagian lagi tanah coklat yang liat disebagian lagi Tuhan anugrahi tanah berair yang subur.

Tanah gambut bukanlah kuntukan tetapi adalah anugrah Tuhan yang terindah. Tanah gambut tidak pernah menyusahkan manusia tetapi manusialah yang merusak mereka tanah gambut senantiasa memberikan manfaat tetapi manusialah yang menciptakan mudarat.

Alam tidak meminta dipahami tetapi manusialah harus paham menghadapi alam. Alam memang diciptakan untuk memberikan manfaat bagi manusia tetapi alam juga meminta manusia untuk bertidak arif dan bijaksana terhadap mereka. Eksplotasi yang berlebihan, pengurasan hingga tandas akan menghasilkan ketidakseimbangan alam yang pada akhirnya akan menjadikan alam merana dan manusia merugi.

Beberapa tahun belakang indonesia khususnya Riau, Sumatera Selatan, kalimantan tengah, kalimanta barat mengalami kabut asap yang hebat, jutaan rakyat menderita sesak napas, gangguan kesehatan akibat asap hingga kematian akibat asap.

Masalah

Kesadaran masyakat terhadap pentingnya melestarikan lahan gambut sangat kurang yang ada adalah bagaimana memanfaatkan tanah gambut sedemikian rupa untuk dijadikan lahan perkebunan khususnya perkebunan sawit. Ribuan hingga Ratusan Ribu hektar lahan gambut dibabat.  Airnya dikeringkan dengan dibuat kanal. Kanal ini selain untuk mengurangi kebasahan gambut sekaligus mengurangi sifat asam sehigga dapat ditaman. Akibatnya sifat dasar tanah gambut yang selalu basah berubah menjadi kering khususnya dimusim kemarau. Air yang tadinya bersembunyi di dalam lahan gambut dengan cepat mengalir ke kanal yang ujung ke sungai. Eksplotasi yang luar biasa besar ini telah menyebabkan ribuan hektar lahan gambut menjadi kering kerontang secara cepat.

Selain itu kebiasan membuka lahan dengan cara membakar telah menjadikan lahan gambut sebagai musibah ribuan hektar lahan gambut terbakar. Kebakaran dilahan gambut sulit dipadamkan karena api bukan hanya berada diatas lahan tetapi berada didalam tanah yang tidak terlihat bisa mencapai dalam hingga beberapa meter dibawah tanah.  Untuk memadamkannya membutuhkan air yang sangat banyak sedangkan saat kemarau air juga sulit didapat karena sekitar lahan gambut yang telah dibuat kanal mengalami kekeringan akibatnya api terus menyebar tanpa dapat dihentikan.

Banyak Masyarakat Petani yang pasrah melihat lahannya terbakar karena tidak tahu apalagi yang harus dilakukan untuk memadamkan api.  “Hanya Tuhan yang mampu mematikan api ini” ujar mereka putus asa. Mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat. Mereka baru sadar kesalahan yang mereka buat terhadap alam begitu banyak.  sehingga ketika bencana datang mereka  tidak mampu lagi mengatasinya.

Akibat hebat dari kebakaran gambut selain lahan perkebunan yang tiba-tiba musnah adalah asap yang tebal yang berwarna putih hal ini terjadi karena pembakaran yang tidak sempurna. Asap terus muncul dilahan yang dibakar bergumpal-gumpal menyebar keseluruh penjuru menyebar sejauh puluhan hingga ratusan kilometer. Asap yang dihasilkan oleh pembakaran di Provinsi Riau telah menyebar hingga ke negara tetangga di Singapura dan Malaysia telah membuat jutaan orang menderita. Di Provinsi Riau ada belasan orang yang meninggal baik bayi, anak kecil hingga orang dewasa Keluhannya sama karena kesulitan bernafas dan ribuan orang terganggu kesehatannya.

Sudah tidak terhitung kerugian material akibat asap karena bandara tidak beroperasi, pasar yang sepi, aktivitas ekonomi yang berhenti, kegiatan masyrakat yang juga berhenti, selain itu terjadi kerugian immaterial yang juga tidak terhitung karena sakit, tidak sekolah, tidak beraktifitas hingga biaya untuk mengungsi ke tempat lain.

Solusi

Berkaca dari hal diatas sudah selayaknya kita menyadari bahwa alam ini bukan hanya untuk diekploitasi tetapi juga untuk dihargai untuk dicintai untuk dirawat. Pemanfaatan yang tidak bijaksana dengan berlebihan dapat merugikan bukan hanya para petani tetapi juga seluruh masyarkat dunia.

Saat ini pemerintah sangat konsen dengan kebakaran lahan gambut karena ini sudah menjadi masalah dunia. Kebakaran lahan yang sangat masif telah menjadikan Indonesia sebagai negara yang dianggap tidak peduli lingkungan hidup.

Sudah saatnya masyarakat berhenti untuk membuka lahan dengan cara membakar gunakan cara lain yang lebih baik tentunya pemerintah harus membantu menyediakan peralatan yang dapat membantu masyarakat dalam membuka hutan baik penyediaan alat berat ataupun bantuan dana untuk penyewaan alat. Selain itu pembukaan lahan gambut untuk dijadikan lahan sawit harus dikurangi bila perlu di stop. Tanam lahan sawit dengan tumbuhan lain yang lebih bersahabat seperti pohon enau, pohon sagu, dan lain-lain yang lebih bersahabat.

Sedangkan bagi lahan yang sudah terlanjur dibuka harus dipantau agar tetap lembab dengan pengaturan pembuatan kanal, sekat kanal dan pengairan yang diawasi selalu. Pengawasan terhadap sekat kanal dan potensi timbulnya api harus dilakukan oleh aparat pemerintah baik aparat desa maupun aparat keamanan. Aparat desa harus membuat anggaran perbaikan sekat kanal yang rusak karena anggaran desa sekarang sudah  cukup besar.  Keberadaan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang ada di desa-desa sangat membantu karena mereka adalah ujung tombak dari penanggulangan kebakaran. Sudah seharusnya mereka diperhatikan dan senantiasa mendapat latihan agar penanggulangan kebakaran hutan tidak lagi setengah-setengah. Kerugian akibat kebakaran gambut adalah kerugian kita semua masyarakat dunia bukan hanya petani sawit. 


Akses nadariau.com Via Mobile m.nadariau.com
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA