Editor:Zulmiron | Sabtu, 13 Mei 2017 Pukul 21:28:36 Wib,

Sempena Waisak 2561 BE/2017

PUB Bodhisatva Mahasthamaprapta Kunjungan Kasih ke Panti Balita

,
PUB Bodhisatva Mahasthamaprapta Kunjungan Kasih ke Panti Balita Keterangan Foto: Persamuan Umat Buddha (PUB) Bodhisatva Mahasthamaprapta merayakan kegiatan Waisa 2561 BE/2017.Ft;Ist



 

Pekanbaru (nadariau.com) - Sempena rangkaian kegiatan Waisak 2561 BE/2017, Persamuan Umat Buddha (PUB) Bodhisatva Mahasthamaprapta mengunjungi Panti Bayi dan Balita Fajar Harapan dan Panti Asuhan Bakti Muffaridun Pekanbaru. Dalam kunjungan itu, PUB Bodhisatva Mahasthamaprapta yang beralamat di Jalan Sempurna Gang Flamboyan No. 2 C Pekanbaru menyerahkan bantuan sumbangan dari para donatur. Bantuan berupa susu, biscuit, popok, sembako dan buku itu diserahkan oleh Suryanti, selaku Ketua PUB Bodhisatva Mahasthamaprapta Pekanbaru.

Selain kunjungan ke panti asuhan, pengurus persamuan juga merayakan waisak bersama di Lapas kelas II Pekanbaru dan Lapas Sialang Bungkuk pada 9 Mei dan 11 Mei 2017. Sebelumnya, rangkaian kegiatan Waisak sudah di mulai pada 11 Mei 2017 dengan pembacaan Parita Suci, Fangshen burung dan Ikan.

Puncak perayaan Hari Tri Suci Waisak 2561/2017 di persamuan dilaksanakan pada hari Jumat (12/05/2017) dengan dihadiri ratusan umat buddha yang di pimpin oleh Romo Tumiran SE SPd B dan dihadiri dua orang Bhikkhu Sangha Agung Indonesia yakni Bhante Pasanno dan suhu Bhadravacana. Acara dimulai dengan prosesi waisak yang di perankan oleh muda/i Persamuan serta di lanjutkan pembacaan parita suci oleh umat. Dalam pesan Waisak 2561 BE yang mengambil tema Memahami Kebhinekaan Dalam Kebersamaan.           

Dalam Dhammadesananya Bhante Pasano, menjabarkan tema waisak 2561 BE /2017,  tema tersebut mengandung makna bahwa manusia yang hidup di dunia ini ditakdirkan berbeda-beda baik warna kulit, suku, agama dan budaya. Namun apabila selalu disertai rasa simpatik dan cinta kasih sayang, semuanya dapat melebur menjadi satu, itulah yang disebut kebhinekaan.

“Kita masing-masing mempunyai keyakinan, kepercayaan, iman sesuai dengan keyakinan masing-masing,” kata Bhante Pasanno.
 
Dikatakannya,Waisak merupakan momen  mengingatkan umat Buddha untuk meneladani apa yang diajarkan oleh Sang Buddha.

Melalui makna Hari Suci Waisak diharapkan kondisi selalu damai dan tentram.  Dan berharap dapat bergandengan tangan dengan semua agama, karena Buddha selalu berpesan hidup rukun, menghormati perbedaan dan rendah hati.

“Ajaran Buddha selalu mengarahkan umatnya berbuat lebih baik, mengutamakan perdamaian dan mengasihi sesama umat," katanya seraya berharap, umat dapat meneladani Sang Buddha yang mengajarkan tentang kesederhanaan hidup, dengan memilih jalan tengah dalam setiap persoalan yang dihadapi.

“Jalan tengah itu artinya jangan berlebihan, sedang-sedang saja, makanya kalau kita ada masalah, penyelesaiannya itu harus jalan tengah,'' katanya.

Acara di akhiri dengan menyanyikan lagu pujian waisak dan ramah tamah.  (ron)


Akses nadariau.com Via Mobile m.nadariau.com
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA