Editor:Zulmiron | Kamis, 20 April 2017 Pukul 18:50:04 Wib,

Gemulai Mangrove di Pinggiran Laut Dumai Bak 'Anak Gadis Desa'

,
Gemulai Mangrove di Pinggiran Laut Dumai Bak 'Anak Gadis Desa' Keterangan Foto: Rombongan Safari Jurnalistik sampena Hari Pers Nasional (HPN) 2017 foto bersama di kawasan konservasi Bandar Bakau dan Situs Putri Tujuh Kota Dumai, Sabtu (15/04/2017).Ft;Ist



 

Penulis : Zulmiron
(Pemimpin Redaksi/Peserta Rombongan Safari Jurnalistik 2017)
Editor : Zulmiron

MUNGKIN banyak yang belum mengenal tanaman yang bernama mangrove, begitupun dengan saya. Untuk mengenal lebih jauh tentang tanaman pesisir ini, saya dan teman-teman rombongan Safari Jurnalistik 2017 sempena Hari Pers Nasional (HPN) 2017 pada Sabtu (15/04/2017) lalu, melihat langsung kawasan mangrove yang berada di Jalan Nelayan Laut Ujung, Kelurahan Pangkalan Sesai, Kecamatan Dumai Barat, Provinsi Riau.

Penanaman secara simbolis pohon   bakau oleh ketua rombongan Safari Jurnalistik Satria Utama Batubara  bersama  Ketua PWI Dumai KambaliKawasan konservasi ini diketahui mulai dibangun sejak tahun 1999 lalu atas inisiatif dan keberanian seorang pecinta lingkungan asal Dumai bernama Darwis Muhammad Saleh. Dimana saat itu Pak Darwis bertekad ingin menyelamatkan lingkungan di sepanjang pesisir Dumai dari kerusakan.

Apalagi di kawasan itu dulunya diketahui mengandung situs atau legenda rakyat, yaitu Legenda Putri Tujuh yang menjadi cikal bakal nama Kota Dumai. Dalam legenda itu disebutkan adanya jenis mangrove yang memiliki unsur mistis yaitu bakau hitam atau biasa disebut belukap. Jenis bakau ini telah membunuh Pangeran Empang Kuala dan pasukannya yang berasal dari Kerajaan Aceh.

Karena itu, Kawasan mangrove yang berada sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Dumai patut menjadi objek wisata Bandar Bakau. Lokasinya yang berada di pinggiran laut Dumai Barat, bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan waktu tempuh sekitar 15 menit dari pusat Kota Dumai. Karena akses jalan menuju lokasi objek wisata Bandar Bakau cukup mulus setelah dibeton rigit oleh Pemerintah Kota (Pemko) Dumai.

Setibanya di kawasan itu, akan terlihat hamparan pohon bakau. Di antara pohon bakau itu ada yang diketahui sudah berusia 50 tahun. Bahkan terbilang langka, karena usianya masuk kategori lanjut usia (lansia) alias tua. Siapapun yang melihatnya, pasti akan terposona. Apalagi saat berada di tengah-tengah kerumunan pohon mangrove yang akar-akarnya menghunjam lumpur pantai dan saling bertautan dan mengikat satu sama lainnya, pesonanya semakin menggoda hati.

Seakan-akan, ada daya tarik mangrove bak magnet 'raksasa' yang membuat pengunjung ingin berlama-lama untuk menikmati segarnya udara. Saking kuatnya daya tarik mangrove itu, membuat pengunjung betah dan nyaman. Dan itu sudah terasa saat memasuki pangkal hutan bakau, suasana teduh, tenang dan nyaman langsung bisa dirasakan pengunjung.

Terlebih lagi, di objek wisata Bandar Bakau itu sudah ada jembatan sepanjang 100 meter untuk mempermudah pengunjung mengelilingi lokasi tersebut. Jembatan yang memanjang dan berkelok-kelok selebar setengah meter berlantaikan kayu itu mempermudah langkah pengunjung untuk menyelusuri hutan bakau lebih ke dalam.

Selain jembatan, di dalam kawasan objek wisata Bandar Bakau juga disediakan tempat istirahat bagi pengunjung untuk merilekskan tubuhnya usai berkeliling dan mengelilingi lokasi tersebut. Tempat istirahat yang terbuat dari papan berjejeran di bawah pepohonan bakau nan teduh, bisa dijadikan pengunjung sebagai tempat bersantai, mengobrol-ngobrol atau makan siang bersama dengan teman maupun keluarga. Sungguh mengasyikkan.

Selain itu, ada pula pondok-pondok untuk berteduh jika terjadi hujan. Bagi pengunjung yang mempunyai hobi membaca, pengelola juga telah menyediakan perpustakaan mini di dalam kawasan Bandar Bakau yang memang terasa sangat sunyi dan jauh dari kebisingan Kota Dumai yang dikenal sebagai kota industri.

Ini didukung dengan posisi Bandar Bakau yang berhadapan langsung dengan perairan Selat Rupat, Kabupaten Bengkalis. Sehingga menjadi sensasi tersendiri bagi pengunjung. Tak pelak, tempat ini dijadikan spot bagus untuk berselfi atau berfoto-foto ria.

Tempat yang bernama Bandar Bakau itu sebenarnya tidak punya keistimewaan dibanding wisata lain yang ada di Provinsi Riau. Namun api populasi mangrove yang hidup hingga 50 tahun itu telah mengangkat nama kawasan tersebut ke berbagai penjuru. Bahkan mampu menyapa dunia. Makanya melalui Riau Menyapa Dunia, Walikota Dumai Zulkifli AS yang akrab disapa Zul AS melibatkan Dumai sebagai lokasi wisata yang patut disinggahi oleh pengunjung berbagai negara, khususnya dari Riau. Selain untuk mengembangkan objek pariwisata, yang pasti keberadaan objek wisata baru ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat Kota Dumai.

''Kita di Riau ini tidak ingin hanya sebagai penonton saja. Kita sadari, potensi wisata kita masih kalah dengan daerah tetangga lainnya. Namun kita tetap akan berbuat dan menggali potensi wisata yang ada di Dumai,'' begitu kata Walikota saat melakukan ramah tamah dengan rombongan Safari Jurnalistik 2017 di rumah dinasnya.

Apa yang disampaikan Walikota Dumai itu, patut untuk dicermati. Apalagi bicara soal pariwisata yang menjadi salah satu daya tarik sebuah daerah. Pariwisata itu bisa dikatakan sebagai 'anak gadis desa', indah dilihat, memukau mata dan memikat hati. Sehingga orang akan tertarik menghampirinya. Pesona bak 'anak gadis desa' itulah yang terpancar dari gemulainya hutan bakau di pinggiran laut Dumai Barat, sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Dumai. Pesona hutan bakau ini tak kalah mengagumkan. Sehingga mampu menjadikan perpaduan keindahan alam yang tak terlukiskan.

Kepada rombongan Safari Jurnalistik sempena HPN 2017, Ketua Pecinta Alam Bahari, Hendra Gunawan (33) memberikan paparan mengenai cikal bakal objek wisata Bandar Bakau ini ada. Diceritakannya, mulainya lahan seluas 11,5 hektare ini sejak tahun 1999 telah dilakukan pembibitan. Dan pada tahun 2014, sekitar 20 ribu bibit dari 19 jenis bakau program Pemerintah Kota (Pemko) Dumai ditanamkan di lokasi objek wisata Bandar Bakau ini. Pada tahun 2017 ini, kawasan wisata bahari kebanggaan masyarakat Kota Dumai semakin berkembang. Pembibitan tidak hanya di tempat ini saja, tapi di daerah Guntung dan Basilam. Dan di area perusahaan Pelindo juga dilakukan pembibitan. Pada tahun 2017 ini penamanan 10 ribu bibit sudah terlaksana di Daerah Purnama. Dari sekian ribu bibit yang ditanam, sekitar 70 persen yang berhasil hidup.

Disamping itu, kawasan hutan mangrove itu kini menjadi destinasi wisata masyarakat Dumai hingga luar Provinsi Riau. Karena itu, Hendra bersama kawan-kawannya bertekad menjadikan tempat ini sebagai ikon wisata Kota Dumai yang patut untuk dikunjungi. Bahkan objek wisata Bandar Bakau ini bisa dijadikan objek penelitian bagi ilmuwan maupun akademisi. Kenapa tidak? karena di dalam kawasan objek wisata Bandar Bakau ini terdapat beragam jenis tanaman bakau mulai dari jenis api-api senia yang cepat tumbuh, kedabu, belukap hingga nyirih yang usianya sudah mencapai 50 tahun. Khususnya jenis bakau nyirih, selain kulitnya bisa diolah menjadi pewarna kain, daun dan buah bakau nyirih ini bisa dijadikan obat untuk wanita usai melakukan persalinan. Selain itu, daun dan buahnya juga bisa diolah untuk penyembuh radang usus atau lambung.

Selain berwisata, sejumlah kegiatan unik juga bisa dilakukan di Bandar Bakau. Contohnya ikut menanam pohon bakau yang bibitnya sudah disediakan oleh pihak pengelola. Menariknya, pengunjung juga bisa meletakkan papan nama di depan bibit pohan bakau yang sudah ditanam itu, sehingga bila berkunjung kembali bisa mengetahui dan melihat perkembangannya.

Seperti yang dilakukan Ketua rombongan Safari Jurnalistik 2017, Satria Utama Batubara dan Ketua PWI Dumai Kambali. Wakil Ketua Bidang Advokasi PWI Riau ini melakukan penanaman bibit pohon bakau sebagai tanda ikut berpartisipasi dan mendukung penuh pelestarian hutan bakau di kawasan Bandar Bakau Dumai.

“Selain ingin melihat langsung kondisi real kawasan mangrove ini seperti apa, kita juga ingin ikut berpartisipasi melakukan penanam dan nantinya akan diserahkan sekitar 1.000 bibit pohon bakau untuk ditanam,” begitu kata Satria Utama Batubara usai melakukan penanaman secara simbolis.(Zulmiron/Pemimpin Redaksi/Peserta Rombongan Safari Jurnalistik 2017)


Akses nadariau.com Via Mobile m.nadariau.com
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA