Kamis, April 23, 2026
BerandaHeadlineBerkat BPJS Kesehatan Harmis Kurniaty Pra Lansia Lancar Jalani Kraniotomi

Berkat BPJS Kesehatan Harmis Kurniaty Pra Lansia Lancar Jalani Kraniotomi

Pekanbaru (Nadariau.com) – Gangguan kesehatan biasanya mulai dirasakan saat seseorang memasuki masa pra lanjut usia (Pra Lansia) di usia 45 sampai 59 tahun. Seperti yang dialami oleh Harmis Kurniaty (56), ibu dari Maskha Ruri.

Untungnya, Harmis sudah terdaftar sebagai peserta JKN yang menjalani Program Rujuk Balik (PRB). PRB adalah program BPJS Kesehatan untuk menjamin pelayanan kesehatan, termasuk kebutuhan obat, bagi peserta yang memiliki penyakit kronis dengan kondisi stabil dan diagnosa tunggal tanpa komplikasi.

Harmis tampak senang saat menyambut kunjungan Jamkesnews dari atas tempat tidurnya. Ia belum bisa banyak bergerak dengan leluasa. Tak heran, sebab Harmis merupakan pasien yang telah menjalani kraniotomi. Kraniotomi adalah operasi untuk membuka bagian tengkorak (tempurung kepala) dengan tujuan memperbaiki dan mengetahui kerusakan yang ada di otak.

Pasien pasca-operasi ini tak jarang tampak seperti linglung karena lambat merespon namun ia tahu jika diajak berinteraksi. Harmis mengalami perdarahan subarachnoid atau subarachnoid hemorrhage (SAH) yang dalam kasusnya terjadi secara spontan akibat tekanan darah tinggi atau hipertensi.

“Mama memang ada riwayat hipertensi. Rutin minum obat, hanya saja terkadang lupa juga,” ungkap Maskha yang merupakan seorang pegawai swasta di Pekanbaru, Rabu (01/03).

Maskha menuturkan bahwa pada tanggal 3 Februari 2023 yang lalu, tepatnya dini hari, ibunya tengah berada di kamar mandi dan tiba-tiba terjatuh. Istri Maskha yang saat itu berada di rumah segera mengabari Maskha. Mereka pun langsung membawa ibunya ke Unit Gawat Darurat (UGD) RS Awal Bros Pekanbaru.

“Begitu sampai di UGD, mama langsung diperiksa, tekanan darahnya saat itu 230. Oleh dokter diberikan penanganan awal berupa obat untuk meredakan mual dan lambung. Setelah mulai stabil, mama lalu dibawa ke radiologi untuk menjalani pemeriksaan CT Scan,” terang Maskha.

Dari hasil pemeriksaan CT Scan, dokter menjelaskan bahwa ada pembuluh darah yang pecah di kepala Harmis. Harmis pun menjalani perawatan intensif dan dijadwalkan untuk konsultasi ke dokter syaraf dan dokter bedah syaraf.

“Mama kemudian diminta untuk menjalankan pemeriksaan lanjutan untuk mendeteksi kelainan pembuluh darah di bagian otaknya. Dokter lalu menjelaskan ada benjolan seperti bisul yang mau pecah. Salah satu penyebabnya bisa karena hipertensi,” ujar Maskha.

Dokter pun melakukan tindakan pemasangan clipping melalui proses kraniotomi. Pembuluh darah Harmis yang mengalami pembengkakan tadi dijepit agar tidak pecah guna mencegah perdarahan hebat. Pasca menjalani tindakan medis, Harmis lantas dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) sekitar empat hari.

Kemudian ia dipindahkan ke ruang Intermediate Care (IMC) supaya bisa terus dipantau intensif oleh perawat dan dokter. IMC merupakan ruang peralihan bagi pasien dari ruang ICU sebelum ke kamar rawat inap biasa, atau sebaliknya.

Setelah kondisi mulai stabil, Harmis dipindahkan ke kamar rawat inap biasa. Tampak hanya ia sendiri yang berada di kamar ini. Meski Harmis merupakan peserta JKN kelas III, namun karena kebutuhan medis, ia ditempatkan di kamar rawat inap kelas I. Hal itu membuat Maskha terenyuh karena pihak rumah sakit betul-betul memberikan pelayanan sepenuh hati kepada ibunya.

“Saya bersyukur karena orang tua saya sudah dirawat sejak 3 Februari sampai hari ini 1 Maret 2023. Alhamdulillah masih mendapat perawat dengan sepenuh hati baik dari perawat maupun dokternya. Saya juga diberi tahu kalau tidak ada biaya yang harus saya keluarkan. Kondisi mama saat ini sudah mulai stabil, dan besok direncanakan untuk pulang, homecare dan rawat jalan,” terang Maskha. (ed)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer