Selasa, Maret 10, 2026
BerandaIndeksEkonomiPedagang di Stadion Utama Riau Resah Akibat Dugaan Pungli Mengaku Ahli Waris

Pedagang di Stadion Utama Riau Resah Akibat Dugaan Pungli Mengaku Ahli Waris

Pekanbaru (Nadariau.com) – Pedagang di Stadion Utama Riau dibuat resah akibat dugaan Pungutan Liar (Pungli) yang dilakukan oleh Pasangan Suami Istri (Pasutri) yang mengaku sebagai ahli waris pemilik tanah di lokasi lapak pedagang dipinggir jalan.

Alhasil, sejak 3 tahun lebih, Pasutri ini sudah meminta uang sewa tanah kepada setiap pedagang dengan lancar. Nilainya sewa satu lapak sekitar berkisar antara Rp 800.000 hingga Rp 1.500.000 per bulan.

Inisial Z salah satu pedagang yang tidak mampu membayar sewa tanah mengaku telah diusir oleh Pasutri tersebut. Karena nilai sewa dinilai tidak wajar dan juga tidak sanggup membayar setiap bulannya.

“Pungutan ini dilakukan oleh Pasutri itu sejak 3 tahun lebih. Awalnya hanya Rp 10.000 perhari. Kemudian berubah per minggu dan selanjutnya per bulan. Seterusnya setiap bulan terus naik hingga Rp 1.500.000 per bulan. Pilihannya, jika tidak sanggup bayar ‘keluar’, dengan nada kasar” kata Z kepada media di Stadion Utama, Selasa (8/11/2022).

Hal senada juga di katakan inisial E. Ia mengaku sangat butuh berusaha, makanya selalu dipaksakan untuk membayar sewa tanah setiap bulan.

Ketika ditanya, apakah benar Pasutri tersebut pemilik tanah dipinggir jalan ditempat lapak pedagang, E mengaku juga tidak tahu. Sebab jika tidak dibayar, istrinya bernama Yanti bikin heboh. Sehingga pengunjung yang sedang berbelanja menjadi pergi.

“Akhirnya, para pedagang terpaksa pasrah tapi tak rela untuk tetap membayar sewa setiap bulannya,” kata E.

Berdasarkan informasi dari pedagang lain berinisial I, bahwa Pasutri tersebut hanya meminta diatas tanah yang di klem sebagai milik orang tuanya saja. Artinya tidak semua pedagang yang berhasil terpengaruh oleh ancamannya. Sebab bagi pedagang yang berani melawan tak diminta.

Disisi lain, Pasutri ini juga berhasil memungut uang sampah sebesar Rp 3000 per hari, kepada setiap pedagang yang berjumlah sekitar 100-an lapak di Stadion Utama (Dari ujung ke ujung). Mulai dari pedagang jus, permainan sepeda dan pedagang makanan lainnya.

Jadwal Pasutri ini datang memungut yaitu pada sore hari dan/atau malam hari. Bagi yang tidak mau membayar, maka pedagang tersebut akan diserang melalui kata kata pedas oleh istrinya yang bernama Yanti tersebut.

Ketika ditanya kemana uang sampah disetorkan, I mengatakan bahwa Pasutri itu pernah mengaku disetorkan ke DLHK dengan jumlah sebanyak Rp500.000 per bulan. Meski pedagang dipungut iuran sampah, namun kebersihan dilingkungan stadion utama tidak pernah diurus atau dibersihkan.

Selanjutnya, dari video yang direkam pedagang, Pasutri ini berani menantang Polres atau penegak hukum lainnya, jika ingin membela pedagang. Karena beliau mengaku tanah dipinggir jalan Stadion Utama itu adalah milik orang tuanya dan mereka adalah ahli waris yang sah.

“Sebenarnya, kami sudah sangat resah kepada Pasutri itu. Beliau sangat berani dan memiliki penasehat hukum. Sekarang kami tidak tahu kepada siapa ingin mengadu. Kami berharap kepada pemerintah maupun penegak hukum bisa menertibkan Pasutri ini. Sehingga pedagang bisa aman dan nyaman berusaha,” kata I. (olo)

 

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer