Selasa, Maret 3, 2026
BerandaHeadlineBerkat Antrian Online JKN KIS di Pelayanan Rumah Sakit Jadi Lancar

Berkat Antrian Online JKN KIS di Pelayanan Rumah Sakit Jadi Lancar

Pekanbaru (Nadariau.com) – Mengidap diabetes mellitus dan kelenjar getah bening membuat Parnelis (58) harus berobat secara berkala. Namun hal ini tak menjadi kendala, sebab selalu ada kemudahan yang ia dapat selama menggunakan Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) ini.

Contohnya seperti saat ini, antrian online yang telah dikembangkan oleh RS Prima Pekanbaru membuat pelayanan menjadi lebih jelas dan pasti.

Kelenjar getah bening yang diderita Parnelis masih terbilang baru, sekitar 6 bulan belakangan ini. Sementara diabetes mellitus dideritanya cukup lama, yakni sejak 2004. Sebagai pensiunan Tentara Nasional Indonesia (TNI), Parnelis sudah menggunakan Program JKN-KIS sejak zaman PT Askes (Persero).

Diceritakan oleh Parnelis, mulanya ia sudah datang pagi untuk berobat dan mendapat antrian nomor 1. Karena ada urusan yang mendesak, ia harus pergi meninggalkan rumah sakit dan akhirnya kembali sekitar pukul setengah dua siang. Saat Kembali mengambil nomor antrean pada konsol antrean online, Parnelis mendapat antrean nomor 5.

“Ternyata nggak lama. Hanya sekitar 10 menit kemudian saya dipanggil masuk ke poli untuk bertemu dokternya. Sebelumnya saya sudah diukur tensi di Zona B bagian nursing,” ungkapnya.

Jika biasanya layanan di rumah sakit bisa menghabiskan waktu hampir setengah hari, dengan antrian online dan alur yang jelas, Parnelis hanya menghabis waktu tak sampai 1 jam di rumah sakit. Apalagi saat itu, ia tinggal menunggu obat di bagian farmasi.

Parnelis mengaku selama berobat di rumah sakit, ia tak mengalami suatu kendala yang krusial. Pelayanan yang diterimanya selalu lancar dan petugas hingga dokter sama-sama memberikan saran-saran yang baik demi kesembuhannya.

“Selama berobat di RS Prima Pekanbaru, pelayanan yang saya peroleh selalu lancar. Semoga BPJS Kesehatan selalu tetap ada, dan pelayanan yang diberikan tetap bagus, karena peserta yang datang bukan gratis, melainkan sudah lebih dulu membayar kewajibannya. Ada yang dipotong gajinya, ada yang bayar mandiri, ada yang dibayari pemerintah, dan sebagainya,” ucap Parnelis. (alin)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer