Jumat, Januari 30, 2026
BerandaHeadline Tak Pernah Terang, Sebelum Gelap

[kolom sastra] Tak Pernah Terang, Sebelum Gelap

oleh: Chris Triwarseno, S.T., alumni Universitas Gadjah Mada. Penulis buku “Bait-bait Pujangga Sepi”.

Tak Pernah Terang, Sebelum Gelap

: Renungan Kartini

Pagi bersinar, membersamaiku

Di Telukawur, Jepara

Ku semai pemikiran, dalam pingitan

Serupa benih-benih padi, menebar

Kelak memakmurkan.

Di sudut pendopo joglo, ku suarakan

Janin-janin kebebasan, pendapat

Memilih hidupnya, kelak menyuarakan.

Tidak lagi, dalam pasung adat

Berbincang perempuan, dalam kodrat

Kebaya-kebaya pribumi terhormat

Hanya bersimpuh, terdiam taat.

Dalam surat, ku tuliskan

Derap-derap pengharapan, sebuah kemajuan

Tajam kusematkan, kesejajaran

Membebas penindasan.

Ku seru Rosa Abendanon, asa perjuangan

Yang membebas gelap, menuju terang

Tak membatas pribumi, dalam kekang Eropa

Perempuan-perempuan, berdaya dalam karya

Perempuan-perempuan, bermartabat setara

(Ungaran, April 2022)

Interupsi Kami

Penguasa penguasa yang tengah berkarya

Janjikan kami keadilan

Bukankah bualan jika kami meminta

Kepada mereka yang kami percaya

Dan lihatlah keadaan negri ini

Putus putus harapan dari tangis rakyat melarat

Lihat duka dan peluh yang ada dipundak mereka

Sanak saudara bertandang garang

Mereka yang dulu saudara kin bukan lagi

Meraka tak mau menghargai kami

Bahkan engkau yang bukan musuh sekalipun

Memandang kami dengan tatapan hina

Dimana keadilan, kebenaran dan juga kejujuran

Interupsi kami untukmu

Jika telinga-telinga kami masih mendengar

Nyanyian tulus rasa adil

Dan jika mulut kami tidak terbungkam obralanmu

Dan jika mata kami bisa lihat selembar kain putih

Yang terbelit kotornya kain hitam

Penguasa, kami bukan peminta-minta kepada tuan kami

Jika tuan kami bukan pemeras kebebasan yang ada,

Pada kami

(Karanganyar, April 1998)

 

Sebelum Maret 1998

Bulan lalu,

Sewaktu kami dalam duka

Hutan kami membakar diri

Tak tahan melihat pahitnya hidup

Asap dan awan berkarbon

Menyeka hidung

Terasa panas dan menyentak

Hujan tiada lagi janji ditepati

Tanah merahku merekah bengkah

Dan air pun menetes tidak

Bulan lalu,

Ketika mulai turun hujan

Air seolah telah terhina

Sehingga air mengalir tiada pasti

Sungai kecilku merasa muntah

Termuati air yang tak tau isinya

Sungaikupun meluapkan liurnya

Yang akhirnya melanda kami

Manusia yang lagi gulanda

Menanggung beban hidup

Bulan lalu,

Tersentak kabar dari saudaraku

Kami saudarmu dari seberang timur

Sehari secuil nasipun taka da

Perut buncit semakin mengembang

Rambut ikalpun semakin terurai

Saudaraku rasakan ratap tangis

Saudara kecilmu

Bulan lalu,

Pemimpin bangsa berucap

Tutup sebagian tempat penyimpan uang

Sehingga masalah baru muncul

Rakyat kecil terpanggang panasnya suasana

Krisis moneter bertengger

Diatas pundak kami semua

Kain kami semakin lusuh

Karna harga deterjen melambung

Kami sedang duka

Kapankah duka kami berakir

Sejenak kita berpikir

Dan jangan hanya timbun gula pasir

(Karanganyar, Februari 1998)

 

CHRIS TRIWARSENO, lahir di Karanganyar, 14 Februari 1981. Alumni Teknik Geodesi UGM. Seorang karyawan swasta yang tinggal di Ungaran, Semarang. Penulis buku puisi “Bait-bait Pujangga Sepi”, aktif di beberapa komunitas literasi, beberapa karyanya diterbitkan di media seperti : Suara Merdeka, nongkrong.co, nadariau.com, negerikertas.com dan Arahbatin.com

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer