oleh: Chris Triwarseno, S.T., alumni Universitas Gadjah Mada. Penulis buku “Bait-bait Pujangga Sepi”.
Tak Pernah Terang, Sebelum Gelap
: Renungan Kartini
Pagi bersinar, membersamaiku
Di Telukawur, Jepara
Ku semai pemikiran, dalam pingitan
Serupa benih-benih padi, menebar
Kelak memakmurkan.
Di sudut pendopo joglo, ku suarakan
Janin-janin kebebasan, pendapat
Memilih hidupnya, kelak menyuarakan.
Tidak lagi, dalam pasung adat
Berbincang perempuan, dalam kodrat
Kebaya-kebaya pribumi terhormat
Hanya bersimpuh, terdiam taat.
Dalam surat, ku tuliskan
Derap-derap pengharapan, sebuah kemajuan
Tajam kusematkan, kesejajaran
Membebas penindasan.
Ku seru Rosa Abendanon, asa perjuangan
Yang membebas gelap, menuju terang
Tak membatas pribumi, dalam kekang Eropa
Perempuan-perempuan, berdaya dalam karya
Perempuan-perempuan, bermartabat setara
(Ungaran, April 2022)
Interupsi Kami
Penguasa penguasa yang tengah berkarya
Janjikan kami keadilan
Bukankah bualan jika kami meminta
Kepada mereka yang kami percaya
Dan lihatlah keadaan negri ini
Putus putus harapan dari tangis rakyat melarat
Lihat duka dan peluh yang ada dipundak mereka
Sanak saudara bertandang garang
Mereka yang dulu saudara kin bukan lagi
Meraka tak mau menghargai kami
Bahkan engkau yang bukan musuh sekalipun
Memandang kami dengan tatapan hina
Dimana keadilan, kebenaran dan juga kejujuran
Interupsi kami untukmu
Jika telinga-telinga kami masih mendengar
Nyanyian tulus rasa adil
Dan jika mulut kami tidak terbungkam obralanmu
Dan jika mata kami bisa lihat selembar kain putih
Yang terbelit kotornya kain hitam
Penguasa, kami bukan peminta-minta kepada tuan kami
Jika tuan kami bukan pemeras kebebasan yang ada,
Pada kami
(Karanganyar, April 1998)
Sebelum Maret 1998
Bulan lalu,
Sewaktu kami dalam duka
Hutan kami membakar diri
Tak tahan melihat pahitnya hidup
Asap dan awan berkarbon
Menyeka hidung
Terasa panas dan menyentak
Hujan tiada lagi janji ditepati
Tanah merahku merekah bengkah
Dan air pun menetes tidak
Bulan lalu,
Ketika mulai turun hujan
Air seolah telah terhina
Sehingga air mengalir tiada pasti
Sungai kecilku merasa muntah
Termuati air yang tak tau isinya
Sungaikupun meluapkan liurnya
Yang akhirnya melanda kami
Manusia yang lagi gulanda
Menanggung beban hidup
Bulan lalu,
Tersentak kabar dari saudaraku
Kami saudarmu dari seberang timur
Sehari secuil nasipun taka da
Perut buncit semakin mengembang
Rambut ikalpun semakin terurai
Saudaraku rasakan ratap tangis
Saudara kecilmu
Bulan lalu,
Pemimpin bangsa berucap
Tutup sebagian tempat penyimpan uang
Sehingga masalah baru muncul
Rakyat kecil terpanggang panasnya suasana
Krisis moneter bertengger
Diatas pundak kami semua
Kain kami semakin lusuh
Karna harga deterjen melambung
Kami sedang duka
Kapankah duka kami berakir
Sejenak kita berpikir
Dan jangan hanya timbun gula pasir
(Karanganyar, Februari 1998)

CHRIS TRIWARSENO, lahir di Karanganyar, 14 Februari 1981. Alumni Teknik Geodesi UGM. Seorang karyawan swasta yang tinggal di Ungaran, Semarang. Penulis buku puisi “Bait-bait Pujangga Sepi”, aktif di beberapa komunitas literasi, beberapa karyanya diterbitkan di media seperti : Suara Merdeka, nongkrong.co, nadariau.com, negerikertas.com dan Arahbatin.com


