Jumat, Januari 30, 2026
BerandaIndeksObyektifkah Kritik Taufik Hidayat ke PBSI?

Obyektifkah Kritik Taufik Hidayat ke PBSI?

oleh: Yuniandono Achmad. Gambar Taufik Hidayat dari antaranews[dot]com

MUNCUL berita di beberapa harian ibukota tanggal 15 April 2022 kemarin, bahwasanya Taufik Hidayat mundur dari posisi sebagai staf ahli Pembinaan dan Prestasi (Binpres) PBSI periode 2020-2024. Taufik Hidayat (TH) merasa selama ini jadi pajangan saja. Tidak pernah diajak rapat dan masukan tidak pernah didengar.

Sembari mundur, dia melontarkan beberapa kritik kepada PBSI. Taufik Hidayat menyampaikan kritik setelah melihat prestasi Anthony Sinisuka Ginting dan kawan kawan yang dinilai semakin menurun dalam beberapa turnamen terakhir.

TH mengkritik pemain tunggal kita hanya bisa juara di status turnamen Super 500, atau seperti  Jonatan “jojo” Christie yang baru bisa juara turnamen BWF World Tour Super 300, yakni New Zealand Open, Australian Open, dan Swiss Open.

Anthony Ginting memang pernah menjuarai event Super 1000. Namun, prestasi itu diraih Ginting pada empat tahun lalu tepatnya di China Open 2018.  Selain itu, gelar juara yang didapat Ginting -dua tahun dan setahun lalu- yaitu Indonesia Masters dan Korea Open yang berstatus turnamen Super 500.

TH juga mengkritik posisi kepala pelatih tunggal putra setelah Hendry Saputra yang tak lagi bekerja di PBSI.  Alih-alih mencari pelatih baru, posisi yang ditinggalkan Hendry dirangkap oleh asistennya -bung Irwansyah.  Taufik berharap PBSI selaku induk bulu tangkis Indonesia segera mendapatkan solusi.

Obyektifkah kritikan Taufik? Atau hanya emosional belaka -sebagai pengiring mundurnya dia dari struktur PBSI.

Saat ini Anthony Ginting dan Jonatan Christie menjadi dua pebulu tangkis tunggal putra Indonesia yang masuk jajaran 8 (delapan) besar dunia.

Satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah keberhasilan Ginting dan Jojo menjadi penyumbang angka untuk tim Thomas kita yang berhasil mendapatkan piala ini tahun lalu. Bayangkan lamanya kita menunggu, yaitu 19 tahun, untuk Thomas kembali ke bumi pertiwi.

Saat Indonesia mendapat piala Thomas tahun 2002, dua puluh tahun yang lalu, Taufik juga memperkuat tim Indonesia waktu itu. Pada partai final, Indonesia menang 3-2 atas Malaysia, namun sayangnya Taufik tidak menyumbang poin kemenangan saat itu. Taufik di tunggal kedua kalah melawan Lee Tsuen Tseng. Taufik juga menjadi penyumbang poin bagi Indonesia saat piala Thomas 2000 ketika Indonesia mengalahkan Tiongkok 3-0.

Lebih fenomenalnya lagi di Thomas Cup tahun 2000, pada partai semifinal, Taufik yang berusia 19 tahun mampu mengalahkan Poul Erik Hoyer Larsen (Denmark, peraih emas olimpiade 1996).

Dengan prestasi gemerlap Taufik (emas individu pada AG 2002 dan AG 2006, serta emas olimpiade 2004) memang wajar saja dia menyampaikan prestasi tunggal putra yang menurun. Meski tidak mutlak benar. Atau cenderung subyektif -dengan dirinya sebagai pembanding.

Saat usia 21 tahun TH sudah menjadi juara Asian Games di Busan, Korea, tahun 2002. Persis seperti Jonatan Christie juara AG Palembang- Jakarta tahun 2018. Bedanya adalah saat TH usia 23 tahun, dirinya sudah mendapatkan emas olimpiade, sementara Antony Ginting baru meraih perunggu Olimpiade Tokyo.

Tentang Organisasi PBSI

Pada sisi lain, TH mengatakan bahwa banyak usulan darinya tidak diperhatikan oleh PBSI. Bagian ini yang perlu dibahas lebih lanjut. Kalau kita lihat struktur pengurus PBSI tahun 2020-2024, dan bisa jadi tahun-tahun sebelumnya, sangat amat gemuk organisasinya. Mirip paguyuban.

Setidaknya ada 60 pengurus pusat beserta Dewan Kehormatan, Dewan Penasihat, dan Dewan Pengawas yang pernah dilantik KONI Pusat sebagai pengurus PBSI. karena demikian fat-nya birokrasi pengurus PBSI, maka wajar tidak semua usulan itu ditindaklanjuti. Nah untuk kritikan yang bagian ini, pendapat Taufik bisa kita kembangkan lebih lanjut.

Misal pertanyaannya (1) apakah PBSI memang organisasi yang ideal. (2) apakah PBSI merupakan organisasi modern yang bertipe pembelajar.

Mengacu definisi organisasi dari Chester I. Barnard bahwa, “An organisation is a collection of people working together in a coordinated and structured fashion to achieve one or more goals”, mungkin masih bisa menolerir jumlah anggota yang besar dan tujuan yang banyak. Namun tujuan di PBSI bila dikembalikan ke individu tentunya terlalu banyak -dengan katakanlah 60 orang pengurus memiliki tujuan masing-masing.

Posisi pengurus saat ini kebanyakan adalah “menyambi” di luar bidang jabatan yang dimiliki. Mereka tidak fokus, dan bisa dikatakan kurang professional. Posisi yang terpenting di PBSI malah diduduki orang yang pertama kali berkecimpung dalam organisasi olahraga. Sepertinya menduduki jabatan pengurus adalah semacam pijakan untuk posisi politik lebih tinggi.

Kemudian bila mengutip definisi dari Cambridge Dictionary bahwasanya “a group of people who work together in an organized way for a shared purpose” maka relevan bila kita tanyakan apakah memang semua pengurus adalah mampu bekerja bersama dan bersama sama bekerja (working together). Bila diasumsikan kritikan TH benar dan tepat (bahwa tidak pernah diajak rapat) maka kebersamaan tidak berlaku untuk semua pengurus.

Kemudian terkait shared purpose (tujuan yang dibagi bersama), kembali ke kalimat kalimat sebelumnya, apakah semua memiliki tujuan satu yang sama. Wallahu ‘alam. Bisa jadi semua sibuk dengan core pekerjaan utama mereka di Kementerian/ Lembaga atau badan usaha/ swasta tempat mereka bernaung.

Kritikan TH bahwa dirinya sebagai staf ahli tidak didengar usulannya, mengindikasikan bahwa PBSI tidak masuk kriteria adaptif dan agile organization. Organisasi yang agile berarti organisasi yang memiliki kemampuan untuk berespon dan beradaptasi dengan cepat terhadap keadaan yang berubah. Ada masalah PBSI tanpa pelatih tunggal putra (utama), kemudian hubungan pusat-daerah sebagai penyumbang atet nasional juga tidak harmonis (ini masih mengacu saran TH).

Lalu terkait pertanyaan berikutnya apakah PBSI termasuk organisasi modern bertipe pembelajar (learning organization/ LO). Melihat cerita TH artinya PBSI belum menempatkan dirinya sebagai organisasi pembelajar. Bukan organisasi yang secara sadar melakukan perubahan mendasar untuk mengatasi disfungsi, yakni mengubah reaksi menjadi kreasi, kompetisi menjadi kooperasi, kompetisi menjadi sinergi.

LO mempunyai 5 (lima) komponen, yakni: keahlian pribadi, model mental, visi bersama, pembelajaran oleh tim, dan berpikir sistemik.  Dengan kelima komponen tersebut suatu organisasi diharapkan dapat berjalan secara harmoni.

Terkait keahlian pribadi, memang idealnya Ketua Umum PBSI adalah orang yang berkutat lama di bulutangkis. Bisa jadi dulunya adalah pemain badminton. Seperti Poul Erik Hoyer Larsen -mantan pemain Denmark- yang sekarang mengomandoi BWF. Melihat sejarah PBSI selama ini, hanya Ferry Soonevile mantan pemain yang pernah memimpin PBSI. Pernah dulu Icuk Sugiarto (juara dunia 1983) mencalonkan diri namun kalah. Seingat saya Icuk pernah menduduki jabatan strategis di pengurus daerah atau Pengda PBSI DKI Jakarta. Pengurus utama di PBSI -bahkan yang paling utama- adalah orang yang mengurusi olahraga pertama kali. Sungguh ironis.

Membangun PBSI sebagai organisasi modern, organisasi pembelajar yang agile dan adaptive, berarti berusaha menjadikan PBSI sebagai institusi yang dinamis bergerak dan terus belajar. PBSI perlu membangun kultur terbuka (terhadap segala kritikan, usulan dan masukan). PBSI perlu menjaga iklim kompetisi antar klub -agar berkooperasi- dan menjadi kompetensi menghasilkan pemain bulutangkis yang handal. Jadikan PBSI itu lembaga yang mensinergikan seluruh komponen pengurus dan hubungan pusat – daerah (pengda dan pelatda) yang baik.

TH menyarankan hubungan antara pelatnas dan pelatda yang baik. Sebenarnya ada ciri yang berbeda bulutangkis Indonesia dan Malaysia. Di bawah pelatnas adalah kumpulan klub di tingkat regional. Sedangkan pelatnas Malaysia, cenderung ke provinsi (bukan klub) di tingkat daerah. Menjadi pertanyaan apakah usulan TH ini berupaya mengembalikan potensi pelatda agar lebih berfungsi. Ataukah memperkuat eksistensi klub sebagai penyumbang pemain pelatnas.

Saran saya untuk bagian ini sebaiknya tetap berbasis klub tidak apa-apa. Sedangkan untuk pelatda (pemusatan latihan daerah) dan atau Pengda bisa diaktifkan dengan adanya kompetisi antar daerah yang rutin. Selama ini kita hanya memakai PON empat tahunan sebagai ajang pertemuan tingkat regional, dan -barangkali- Porda yang sering tidak kita dengar gaungnya. Untuk itu cabang bulutangkis bisa menjadi pemantik atau yang memulai misal ada kompetisi antar daerah yang lebih intens.

tentang penulis: Yuni Andono Achmad, SE, ME, adalah staf pengajar di jurusan Manajemen, FE, Universitas Gunadarma, Depok. Sampai sekarang masih aktif terlibat di kegiatan konsultansi beberapa kementerian/ lembaga di Jakarta. Tinggal di kabupaten Bogor, Jawa Barat

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer