Minggu, Februari 1, 2026
BerandaHeadlineAll England Turnamen Bulutangkis: Sudah Terlalu Lama ….

All England Turnamen Bulutangkis: Sudah Terlalu Lama ….

Yuniandono Achmad SE ME, Pemerhati bulutangkis, tinggal di Bogor

oleh: Yuniandono Achmad SE ME, Pemerhati bulutangkis, tinggal di Bogor

Bulan Maret 2022 akan bergulir lagi rangkaian turnamen bulutangkis yang diadakan oleh Badminton World Federation atau BWF. Setidaknya terdapat 3 (tiga) turnamen series yang akan berlangsung selama bulan Maret. Pertama, adalah Spain Masters 2022, lalu kedua ialah German Open. Jerman Terbuka ini menjadi turnamen pemanasan sebelum ajang bergengsi -atau turnamen bulutangkis tertua di muka bumi- yaitu All England Open sebagai urutan ketiga.

Kejuaraan All England Open 2022 dijadwalkan terjadi pada tangga 16-20 Maret di Birmingham, Inggris. All England bergulir sejak tahun 1899. Saat itu turnamen All England memang hanya diperuntukkan pemain Inggris (England) sehingga bernama All England. Tidak ada turnamen bulutangkis setua All England ini. Bahkan mungkin juga bagi ajang olahraga lainnya. Jepang Terbuka -yang disebut All England ala Asia- baru terselenggara tahun 1977. Lima tahun kemudian baru ada Indonesia Open, kemudian China Open dan seterusnya.

Pemain Indonesia pertama yang menjadi juara All England adalah Tan Joe Hok di sektor tunggal putra, pada tahun 1959 dalam pertarungan “All Indonesian Final” melawan kompatriotnya, Ferry Soonevile. Sesudah itu sejarah bergulir kencang. Rudy Hartono mendapatkan “Guinnes Book of World Record” karena mampu memenangi All England sebanyak 8 (delapan) kali -dengan 7 (tujuh) kalinya berturut turut dari tahun 1968 sampai 1974. Kemudian pasangan legendaris kita Tjun Tjun/ Johan Wahyudi mampu memenangi 7 (tujuh) kali gelar All England, dari 1974-1980 secara selang seling.

Terdapat semacam mitos di bulutangkis, mereka yang juara All England kebanyakan kurang sukses di Kejuaraan Dunia. Demikian pula sebaliknya, mereka yang kampiun kejuaraan dunia, bisanya kurang berhasil di ajang All England. Hal tersebut terutama berlaku di tunggal putra.

Seperti misalnya Liem Swie King yang menjadi kampiun All England sebanyak 3 (tiga) kali, namun belum pernah sekalipun juara dunia. King menjadi kampiun All England tahun 1978, 1979, dan 1981. King pernah mencapai final juara dunia tahun 1983 namun takluk di tangan yuniornya, Icuk Sugiarto. Pertarungan apik antara King versus Icuk disebut dengan “phantom badminton” oleh media Eropa saat itu. Sementara Icuk Sugiarto -belum genap berusia 21 tahun – menjadi juara dunia 1983 bertempat di Kopenhagen, Denmark. Namun Icuk belum pernah sekalipun menjuarai All England Open. Icuk pernah ke final All England namun takluk di tangan Morten Frost Hansen.

Legenda dari benua Eropa, Morten Frost Hansen (Denmark) yang pernah menjadi juara All England sebanyak 4 (empat) kali, namun ketika mengikuti kejuaraan dunia, hanya mampu menjadi finalis tahun 1985 dan 1987. Morten kalah di final Kejuaraan Dunia saat melawan Han Jian dan Yang Yang. Han Jian dari Tiongkok belum pernah juara All England namun sempat mencicipi juara dunia.

Namanya “kutukan” semacam itu masih berlanjut kepada Joko Suprianto, Taufik Hidayat, dan Lee Chong Wei (Malaysia). Hanya bedanya Joko Suprianto dan Taufik pernah juara dunia namun belum pernah meraih gelar All England. Joko kalah di final melawan “master deception” Zhao Jianhua, sedangkan Hidayat kalah saat bertarung dengan Peter Gade (Denmark) di final. Sementara Lee Chong Wei pernah meraih kampiun All England sebanyak empat kali, tetapi belum pernah mendapat gelar nomor satu dari Kejuaraan Dunia.

Adakah pemain yang bisa meraih keduanya? Maksudnya menjadi juara dunia sekaligus juara All England. Tentunya ada. Mereka adalah Rudy Hartono (juara dunia 1980), Yang Yang dari China, Hariyanto Arbi, Lin Dan, dan Chen Long. Sedangkan dari sektor tunggal putri adalah Susy Susanti yang pernah menggabungkannya. Susy Susanti mendapatkan jawara All England sebanyak 4 (empat) kali pada tahun 1990, 1991, 1993, dan 1994.

Selain yang disebut di atas, beberapa pemain kita yang pernah meraup sukses di kejuaraan All England misalnya Ardy Bernardus Wiranata di tunggal putra. Kemudian ganda putranya adalah Tjun Tjun/ Johan Wahyudi, Christian Hadinata/ Hadibowo, Kartono/ Heriyanto, LS King/ Kartono, Edy Hartono/ Gunawan, Gunawan/ Bambang Suprianto, Ricky Subagya/ Rexy Mainaky, Toni Gunawan/ Chandra Wijaya, Tony/ Halim Heryanto, Chandra/ Sigit Budiarto, Moh Ahsan/ Hendra Wijaya, dan terakhir adalah “the Minnions” Marcus Gideon/ Kevin Sanjaya Sukomuljo. Nomor ganda putra Indonesia merupakan sektor yang paling sukses dibandingkan keempat sektor lainnya dalam meraih kejohanan All England.

Sedangkan ganda putri kitayang pernah menjadi juara adalah Minarni Sudaryanto-Retno Koestijah pada tahun 1968, berikutnya adalah Verawaty-Imelda Wiguna di tahun 1979. Sedangkan ganda campuran diawali oleh Christian Hadinata-Imelda Wiguna (1979), kemudian Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir yang pernah meraih jawara AE sebanyak 3 kali di tahun 2012-2014, dan terakhir ialah pasangan Praveen Jordan-Debby Susanto pada tahun 2016.

Format kejuaraan dunia sudah berubah sejak 2005 dengan tidak dua tahunan lagi -artinya menjadi series per tahun. Pamornya agak menurun, terutama karena eksisnya bulutangkis di Olimpiade empat tahunan, mulai tahun 1992.

Kembali ke membahas turnamen All England. Tahun lalu kita mendapat pengalaman buruk dari penyelenggara All England ini. Para pebulu tangkis Indonesia gagal mengikuti turnamen All Engalnd Open, padahal mereka sudah berada di Birmingham, Inggris. Seluruh wakil Indonesia tak bisa menyelesaikan turnamen karena mereka satu pesawat dengan orang yang terdeteksi positif Covid-19. Tentunya kejadian yang sangat disesalkan.

Kemudian kalimat “SUDAH TERLALU LAMA” sebagai judul tulisan ini, apa maksudnya? Kalimat itu kami ambil dari salah satu fragmen antara Rangga dan Cinta di film “Ada Apa dengan Cinta 2”. Rangga menyapa Cinta, “Sudah terlalu lama”. Cinta menjawab, “Ya …terlalu lama”.

Apakah yang telalu lama dari All England? Indonesia juara tunggal putra. Padahal tunggal kita berlimpah akhir-akhir ini. Belum lagi predikat runner up piala Thomas tahun 2016, dan juara Thomas tahun lalu. Juara All England terakhir dari Indonesia adalah Hariyanto Arbi pada tahun 1994, artinya sudah 28 tahun yang lalu. Demikian pula tunggal putri, karena terakhir adalah Susy Susanti di tahun 1994 juga. Mestikah kita menunggu 30 tahunan lebih agar nama pemain Indonesia terpampang di “hall of fame”-nya All England. Entahlah.

Kalimat “Sudah terlalu lama” juga berlaku pada sektor ganda putri. Apakah kita perlu menunggu lebih dari 43 tahun untk mendapat gelar ganda putri All England? Waktu yang akan menjawab. Dan pelatnas harus menjawab tantangan waktu tersebut.

Pelatih ganda Eng Hian telah mampu menorehkan tinta emas dengan mampu mempersembahkan emas ganda putri Olimpiade Tokyo bulan Agustus 2021 lalu, melalui pesangan emas -sekaligus anak didiknya- yaitu Greysia Polii/ Apriyani Rahayu. Kita harapkan regenerasi yang mulai menampakkan hasilnya di ganda putri akan berlanjut di kejuaraan All England. Mungkin memang tidak tahun ini, tapi semoga tahun depan.

Semoga sukses tim All England kita. Meminjam kalimat penyemangat dari Jenderal Agum Gumelar yang dibisikkan ke pasangan Rexy/ Ricky sesaat sebelum menjuarai Olimpiade Atlanta 1996, “Kita harus bisa!! (***)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer