
oleh: Yuniandono Achmad SE ME pemerhati bulutangkis, akademisi di kota Depok
Berbeda dengan nasib tim putri, tim putra menuai kekalahan pada final Badminton Asian Team Championship (BATC) atau kejuaraan bulutangkis beregu Asia 2022. Setelah menciptakan “hattrick” juara di tahun 2016, 2018, dan 2020, kita harus puas menjadi runner-up di event dua tahunan ini.
Sebaliknya tim putri sukses dalam mencatat sejarah menjadi kampiun untuk pertama kalinya di ajang piala Asia yang diselenggarakan sejak tahun 2016 tersebut. Negara selain Indonesia yang pernah meraih emas beregu Asia adalah Jepang (2 kali) dan Tiongkok (1 kali). Tentunya ini sebuah credit point bagus bagi Gregoria Mariska Tunjung, Putri Kusuma Wardani, Stephanie Widjaja, pasangan Febriana D. Kusuma/Amalia C. Pratiwi dan pasangan Nita V. Marwah/Lanny T. Mayasari, beserta 3 (tiga) pemain lainnya. Selamat tim putri!
Sedangkan tim putra mempertahankan prestasi untuk selalu ke final sejak BATC 1 tahun 2016. Hanya sayangnya kali ini kita kalah di final melawan tuan rumah Malaysia. Kekalahan ini mengingatkan pada pernyataan MF Siregar, tokoh olahraga nasional yang bereputasi dunia, pada saat tim kita kalah 1-3 melawan (lagi-lagi) tuan rumah Malaysia di final Piala Thomas tahun 1993.
Mangombar Ferdinand SIregar -meninggal tahun 2010 pada usia 82 tahun- pernah mendapat penghargaan tertinggi olahraga dari IOC pada tahun 1986. Diantara seabreg posisi di dunia olahraga, beliau juga pernah menjadi Kepala Bidang Pembinaan PBSI. Salah satu momen yang tampaknya mengecewakan beliau ialah ketika tahun 1992 -saat mendampingi tim Thomas Cup melawan Malaysia di final.
Perdebatan saat itu, siapa yang akan dipasang menjadi tunggal kedua, apakah Alan Budi Kusuma atau Hermawan Susanto. Hasil diskusi tim tetap memasang Alan BK sebagai tunggal kedua. Sayangnya pada pertandingan final Malaysia versus Indonesia tersebut Alan BK mengalami antiklimaks. Riuh rendah dan gempita penonton di Stadium Negara Kuala Lumpur telah meluluhlantakkan ketrampilannya. Alan BK nervous dan tumbang di tangan pemain gaek Foo Kok Keong.
Ketika diwawancara wartawan seusai pertandingan final tersebut, MF Siregar sempat menyeritakan kegalauannya. Mengapa bukan Hermawan Susanto saja yang dipasang, pikir dia. Tapi beberapa saat kemudian, MF Siregar menyatakan bahwa Hermawan Susanto -atau Aim panggilannya- bisa saja kalah. Namun kemudian beliau sedikit mengkoreksi, siapa tahu si Aim akan bermain lebih bersemangat dan pantang menyerah. Pada partai pertama Ardy Wiranata kalah melawan Rashid Sidek dengan rubber game. Akan tetapi publik tidak marah karena Ardy bermain dengan daya juang tinggi. Partai kedua Edy Hartono/ Rudy Gunawan menang secara heroik melawan Razif/ Jalani Sidek. Begitu partai ketiga, masyarakat republik berharap banyak karena peringkat Alan BK yang lebih baik. Namun sayang, Alan grogi.
Terlepas dari muncul “blessing in disguise” bahwa PBSI kemudian melakukan perlakuan (treatment) khusus kepada Alan BK pasca Thomas Cup, sehingga bisa meraih emas olimpiade, namun analogi yaitu sebentuk keprihatinan dari MF Siregar dapat diberlakukan juga saat melihat final BATC sektor putra kemarin (20/02/22). Seandainya saja “professor olahraga” MF Siregar masih hidup, barangkali akan menyatakan keprihatinan yang sama.
Mengapa tetap memasang Ihsan Leonardus Imanuel Rumbay? Kok misalnya tidak menaikkan Cristian Adinata menjadi tunggal kedua.
Pihak yang meragukan Rumbay pasti melihat track record selama pemain itu bermain di BATC ini. Turun main sebanyak 4 (empat) kali, hanya menang 2 kali, dan kalah 2 kali. Kemenangannya diraih atas pemain Hong Kong dan India. Sedangkan kalah saat bermain melawan Korea dan Singapura di semifinal. Padahal kedua pemain yang mengalahkannya tersebut memiliki rangking di bawah Rumbay. Artinya peluang menang Rumbay jauh lebih besar.
Pada sisi lain, Cristian Adinata selama BATC 2022 ini selalu menang sebagai tunggal ketiga (partai kelima). Bahkan saat melawan Korea dan Singapura, bebannya sungguh berat, ketika kedudukan imbang 2-2. Cristian Adinata mampu mengatasi tekanan mental tersebut.
Pihak yang membela Rumbay mungkin berasumsi bahwa seandainya posisi sempat 1-2, kemudian ganda kedua Indonesia mampu menang sehingga 2-2, apakah Yonatan Ramlie -sebagai tunggal ketiga- akan bermain sebaik Christian Adinata? Siapa tahu kalah juga, dan Malaysia tetap juara dengan kemenangan 3-2.
Disinilah ungkapan MF Siregar menjadi berlaku. Seandainya kalah, namun tetap berjuang sekuat tenaga, dengan mengeluarkan segenap kemampuan, maka penonton pribumi akan puas. Mungkin mendiang MF Siregar lebih menekankan proses (ketimbang hasil) saat itu. Dan saya kira berlaku juga di pertandingan Rumbay versus Ng Tze Yong ini. Tampaknya spirit untuk bertempur sampai titik darah penghabisan belum dimiliki oleh Ihsan Rumbay.
Kita bandingkan dengan 2 (dua) partai pendahulu. Pada partai pertama yaitu Cico Aura Dwi Wardoyo kalah dalam 3 (tiga) set. Namun ia mampu bermain rubber, melawan pemain yang peringkatnya jauh di atas. Walaupun sebenarnya Cico dan Lee Jii Zia dari Malaysia ini lahir pada tahun yang sama dengan Cico, namun mungkin karena Lee lebih banyak dimainkan di pertandingan internasional maka lebih terasah kemampuannya. Lee juga merupakan peraih juara All England tahun lalu.
Kemudian partai kedua, pasangan Leo Rolli Carnando/ Daniel Marthin bahkan sempat membersitkan harapan ketika unggul tipis di set ketiga melawan peraih perunggu Olimpiade Tokyo lalu, yaitu Aaron Chia/ Soh Wooi Yik. Usia terpaut 4 (empat) tahunan, sepertinya senjang atau gap pengalaman yang membuat pasangan belia kita kalah.
Berikutnya Rumbay (22 tahun) melawan Ng Tze Yong (21 tahun). Rumbay kalah straight set, dan angkanya selalu ketinggalan. Meski kita berharap, Rumbay ini seperti Alan BK waktu final Thomas Cup tahun 1992. Kalah saat beregu, namun Alan BK mempersembahkan emas olimpiade Barcelona. Kita harap PBSI membenahi mental dan fisik Rumbay, siapa tahu nanti pada saat Sea Games 2022 (bulan Mei nanti) ia bernasib lebih baik. Mungkin emas perseorangan, atau menyumbang emas beregu. Kira harapkan semoga Rumbay mampu memetik pengalaman berharga di ajang BATC ini.
Bila dilanjut evaluasi ke pemain lain, tentunya jempol perlu kta acungkan kepada pasangan ganda putra Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana yang mampu selalu bermain apik sehingga meraih 2 (dua) kemenangan pada dua kali main. Sebaliknya pasangan Pramudya Kusumawardana/ Yeremia Rambitan selalu kalah dalam dua kali permainan, padahal diturunkan sebagai andalan pertama. Tekanan bermain di beregu -apalagi dipasang sebagai ganda pertama- tampaknya belum bisa ditaklukkan oleh Pram/ Rambitan ini.
Kembali ke tunggal pertama -yaitu Cico Aura Dwi Wardoyo- salah satu prestasi membanggakan di BATC ini adalah kemampuannya mengalahkan tunggal Hong Kong peringkat 17 dunia. Pemain itu adalah Lee Cheuk Yiu yang selama ini sangat menyulitkan Antony Sinisuka Ginting. Sedangkan Yonatan Ramlie belum bisa dievaluasi mendalam, karena hanya bermain sekali, itupun kalah melawan pemain India yang berperingkat di bawahnya.
Sebagai penutup tulisan, walau bagaimanapun prestasi di BATC ini pantas disyukuri. Apalagi tim Putri yang mampu menjadi jawara. Bagi tim putra, terutama yang Yunior, tantangan terdekat adalah Sea Games di Vietnam bulan Mei nanti. Pertahankan emas beregu SG dan upayakan rebut medali di nomor perseorangan. Yakinlah bahwa pengalaman bermain di BATC ini akan menjadi batu loncatan yang bermanfaat ke depan. Tetap semangat, Bro. [***]


