
Penulis : Yuniandono Achmad, Pemerhati Bulutangkis, Dosen Manajemen di Universitas Gunadarma, Depok.
Ini akan menjadi kesekiankalinya cobaan buat tim bulutangkis Malaysia. Setelah bulan September 2021 lalu, Goh Jin Wei (21 tahun) mengajukan pensiun dini, sekarang gentian Lee Zii Jia, 23 tahun. Jia mengajukan pengunduran diri dari BAM (Badminton Association Malaysia) dan berencana menjadi pemain professional –dengan cara pindah latihan ke Dubai, Uni Emirat Arab. Duaduanya adalah andalan utama sektor tunggal putri dan tunggal putra.
Goh Jin Wei merupakan juara dunia tunggal putri junior sebanyak 3 (tiga) kali –terakhir 2018. Goh Jin Wei juga pernah mendapat emas Sea Games 2017. Goh Jin Wei atau GJW akan fokus ke penyembuhan penyakit. Sedangkan Lee Zii Jia –peraih kampiun All England tunggal putra tahun lalu- masih misterius terkait alasannya pindah ke Dubai. Beberapa pihak berspekulasi bahwa Zia mencari penghasilan yang lebih tinggi, meski itu telah dibantah olehnya. Akibat ulah tersebut, BAM telah memvonis Zia selama2 (dua) tahun tidak akan mendaftarkannya di seri turnamen BWF atau Badminton World Federation.
Tentunya dua kejadian tersebut sangat memukul perbulutangkisan Malaysia. Proyek Malaysia Gemilang yang pernah dirintis Perdana Menteri Mahatir Muhammad, yang sekarang bernama project24, lagi lagi menemui hambatan untuk sukses.
Sejak tahun 1992 Malaysia mengincar emas bulutangkis olimpiade, namun mentok di medali perak (1996, 2008, 2012, 2016). Dengan mundurnya GJW akan semakin memperpanjang penantian mereka. GJW digadang gadang untuk olimpiade tahun 2024. Demikian pula kejadian Zia ini, sementara Zia telah membuat melambung harapan warga Malaysia.
Demikian pula wakil direktur pelatih BAM, Rexy Mainaky, telah sesumbar bahwa Malaysia akan berusaha merebut Piala Thomas 2022 (telah saya bahas di sini https://nadariau.com/2021/12/13/pernyataan-rexy-apakah-sekedar-joking/ ). Tentunya Zia akan menjadi andalan utamanya.
GJW dan Zia merupakan contoh kesinambungan pembinaan yang bagus dari yunior ke senior. Memang selama ini di dunia bulutangkis ada semacam sustainability dari junior ke senior. Mereka yang juara junior, biasanya kampiun saat senior. Meski tidak semua. Dulu ada juara dunia junior tahun 2014 asal Tiongkok, Lin Gui Pu, yang kemudian malah kena cedera lama, lalu hilang dari kompetisi, dan sekarang meniti lagi karier dari bawah. Lin Gui Pu ini seangkatan sama Antony Sinisuka Ginting (perunggu Olimpiade Tokyo kemarin).
Indonesia bisa jadi merupakan contoh negara bulutangkis yang pemainnya kurang sukses di yunior, tapi berhasil saat senior. Ambil contoh Taufik Hidayat (emas Olimpiade 2004) kemudian Hendra Setiawan dan (alm) Markis Kido yang meraih emas ganda olimpiade 2008. Bahkan Hendra dan Kido ini saat yunior –atau lebih tepatnya taruna- adalah pemain tunggal putra, namun kurang berhasil. Contoh lain misalnya Tantowi Ahmad/ Lilyana Natsir sang peraih emas 2016, dan terakhir Greysia Polii/ Apriyani di 2021.
Sedangkan contoh yang sukses yunior-senior adalah Susy Susanti (emas 1992) dan Ardy Bernardus Wiranata (perak 1992).
Untuk kasus GJW memang Federasi BAM tidak bisa bertindak banyak, karena aspek keselamatan pemain adalah yang utama. Namun langkah BAM dengan menghukum Zia mendatangkan komentar sinis dari banyak netizen bulutangkis dunia. Bahkan ada komentar kontroversial yang menyarankan agar Zia pindah kewarganegaraan.
Bagi Indonesia, dalam jangka pendek kondisi Zia ini menguntungkan untuk bersaing di Sea Games 2022 dan Thomas Cup bulan Mei nanti. Karena persaingan akan sedikit menurun dengan absennya Zia. Namun bagi kontingen lain (selain Malaysia) tentunya juga menguntungkan. Karerna belum pasti kita segrup dengan Malaysia.
Hanya dalam jangka panjang, kondisi ini akan membingungkan bagi beberapa negara yang menggantungkan intervensi negara dalam pembinaan bulutangkis. Sementara BWF sendiri sebagai federasi bulutangkis dunia, masih menyaratkan izin dari negara bersangkutan untuk seorang pemain ikut turnamen seriesnya.
Hal tersebut juga berlaku bagi Indonesia. Bayangkan bila tahun depan, pemusatan latihan Dubai memberi insentif yang sangat amat menarik sehingga Antoy Ginting atau Jonathan Christie jadi kepincut. Atau misalnya Kevin –yang masih dicarikan pasangan selepas Markus- ikutan Dubai training dan dipasangkan pemain dari negara lain. Sementara mereka adalah andalan tim kita.
Sebenarnya model pelatihan Jepang, dibawah pelatih utama Park Joo Bong, bisa menjadi alternatif. Pemain Jepang adalah milik klub (tidak ada pelatnas Jepang) namun Park Joo Bing mempunyai semacam buku atau agenda pelatihan yang menjadi target para pemain tersebut ketika memakai nama punggung “Japan” di kaosnya. Memang kondisi Malaysia dan Dubai ini berbeda dengan Jepang, karena Zia memilih tidak berlokasi di Malaysia, namun di belahan dunia yang lain –negara UEA tepatnya.
PBSI pernah mengalami kejadian yang mirip saat dipimpin Chairul Tanjung. Waktu itu Taufik Hidayat berencana pindah latihan ke Singapura (keluar dari pelatnas Cipayung) karena di sana ada coach Muljo Handojo. PBSI mengalah dan memilih untuk mengambil sang pelatih beserta anak didiknya agar kembali ke Indonesia. Dampak positifnya, Indonesia mendapat emas olimpiade 2004 dan Asian Games 2006 dari tangan Taufik.
Kejadian Zia ini semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita bersama, agar suatu saat bila pemain kita melakukan hal yang sama maka pengalaman Malaysia itu bisa menjadi yuris prudensi. Memang gelombang profesionalitas adalah bagian dari disrupsi yang melanda industri bulutangkis. Mau tidak mau akan menerpa kita juga. Semoga ini menjadi perhatian kita bersama untuk ditemukan solusi terbaik. (***)


