Penulis Yuniandono Achmad, pemerhati bulutangkis, dosen di Universitas Gunadarma (Depok)
Turnamen bulutangkis India Terbuka telah berakhir kemarin (Ahad, 16 Januari 2022). Penyelenggaraan India Open yang digelar di New Delhi ini, menjadi ajang pembuka kompetisi bulutangkis di awal tahun 2022. Ia sekaligus menjadi turnamen bulutangkis internasional pertama oleh BWF yang digelar di India. India Open terakhir diadakan pada tahun 2019 lalu. Kemudian adanya pandemi telah membuat tutupnya turnamen ini tahun 2020 dan 2021 lalu.
Tragisnya India dikabarkan masih mengalami lonjakan kasus Covid-19 sejak awal 2022. Sehingga banyak pemain utama dunia absen di India Open kali ini. Namun walaubagaimanapun ada beberapa hal menarik yang bisa ditarik benang merah di India Terbuka.
Pertama adalah Hendra/ Ahsan menjadi runner up. Bagi pasangan the daddies ini, hal itu termasuk kegagalan. Mereka gagal menjadi juara sejak tahun 2019. Namun bagi Hendra, turnamen ini semakin mengukuhkan keberhasilan sebagai individu (dalam bermain ganda putra) yang selalu masuk final turnamen bulutangkis, sejak tahun 2002. Artinya selama dua puluh tahun Hendra Setiawan bermain profesional, dirinya selalu masuk ke final tiap tahunnya. Memang tidak selalu juara. Namun koleksi Hendra tergolong lengkap. Juara All England (dengan Markis Kido), juara Olimpiade (juga dengan Kido), juara Asian Games (dengan Kido dan juga dengan Ahsan).
Dengan usia 37 tahun lebih, Hendra Setiawan ini selevel dengan Roger Federer di dunia tenis. Federer masih bisa juara Australia Open ketika usia 36 tahun di tahun 2017 lalu. Sedangkan Hendra di usia 36 masih ikut Olimpiade Tokyo tahun lalu.
Dari beberapa pemberitaan, Federer dikabarkan memiliki “sepasukan” sekondan atau tim yang terdiri dari pelatih, psikolog, dokter, konsultan nutrisi/ gizi, bahkan sampai ahli pijat. Kemudian Federer hanya memilih turnamen yang dia ikuti. Pilihan Federer tersebut dapat dimaklumi terutama mengingat besarnya hadiah di tenis. Turnamen tenis –terutama grand slam- bisa menghasilkan uang bagi pemenang sampai mendekati belasan milyar rupiah. Bandingkan dengan juara India Open yang “hanya’ berkisar 40.000 US dolar atau tidak sampai setengah milyar rupiah. Hadiah tertinggi di bulutangkis, level super series, seperti Indonesia Open memberikan prize senliai Rp 1 Milyar rupiah. Mungkin hanya sepersepuluh hadiah turnamen tenis.
Hendra/ Ahsan sudah sekitar 4 (empat) tahunan tidak lagi ikut pelatnas. Sistem promosi dan degradasi telah menyingkirkan pemain gaek, kalah bersaing dengan pemain muda. Semestinya PBSI perlu memperhatikan dengan skema atau perlakuan khusus terhadap Hendra /Ahsan ini. Hendra Setiawan, yang tahun ini berusia 38 tahun, bisa menjadi asset investasi bagi PBSI. Legacy berupa kepemimpinan dan kemampuan stratejik bermain sehingga efisien dan efektif permainannya, menjadi modal barharga untuk diwariskan kepada pemain muda. Minimal si Hendra ini bisa menjadi pelatih, atau seperti Thomas Cup tahun lalu, menjadi (non) playing captain.
Kedua, keberhasilan Thailand meraih 2 (dua) gelar di sektor putri. Bahkan di tunggal putri, negara Muangthai ini berhasil menciptakan All Thailandnesse Final. Busanan Ombangrupan menjadi juara, mengalahkan rekannya Supanida Katepong (23 tahun). Hebatnya di partai semifinal, Katepong ini mampu mengalahkan jagoannya India, yakni Pusarla V. Sindhu. Keberadaan Katepong tentu akan menambah skuad Thailand untuk menghadapi Piala Uber yang berlangsung di Bangkok bulan Mei nanti.
Thailand juga menjadi kampiun di sektor ganda putri. Pasangan Aimsaard bersaudara –yakni Benyapa Aimsaard/ Nuntakarn Aimsaard- semakin menambah stok alternative ganda putri Thailand. Apabila hasil India Open ini dipakai sebagai tolok ukur, maka kemungkinan tuan rumah Thailand menjadi finalis Uber Cup akan semakin menemukan titik nyata.
Bilapun Thailand belum berhasil di Uber 2022 ini, maka nanti tahun 2024 negara Gajah Putih menjadi ancaman berat bagi juara bertahan Tiongkok dan runner up Jepang. Mengingat komposisi di sektor putri Thailand masih di usia 23 tahun. Bisa jadi menjadi semakin matang 2 (dua) tahun lagi. Bagaimana pemain putri Indonesia? Rata-rata pemain kita lebih muda lagi. Di usia 20 tahunan, bahkan kurang (Putri KW dan rekan-rekan). Apabila permainan mereka berjalan smooth maka barangkali tahun 2026 tim Uber kita baru bisa berbicara banyak.
Ketiga, berhasilnya pemain tuan rumah, Laksya Sen, menjadi juara. Sen mengalahkan Loh Kean Yew (Singapura) di partai final. Uniknya, Sen dan Yew ini merupakan pemain “pelatnas” Dubai di Uni Emirat Arab. Kita tunggu apakah taun 2022 ini nanti, para “siswa” dari pelatnas dubai ini akan menambah pundi-pundi juara. Setelah Axelsen, kemudian Loh Kean Yew, lalu Laksya Sen, kita tunggu juga kiprah Antonsen. Ditambah lagi keberhasilan ganda campuran Singapura –bernama Hee Yong Kai Terry/Tan Wei Han- menjadi juara di New Delhi ini setelah mengalahkan pasangan Malaysia.
Memang salahsatu handicapped turnamen India Open ini adalah banyaknya pemain top yang absen. Kemudian bagi Indonesia sendiri, pemain tunggal putri kita (Fitriani) tidak bisa tampil karena dicoret oleh panitia, demikian pula pasangan ganda putrinya –yaitu Yulia Yosephine Susanto. Pemain Indonesia lainnya, tunggal putra Tommy Sugiarto, hanya mampu bertahan di babak kedua, kalah dari pemain Malaysia. Semua pemain kita di India Open ini (Hendra/ Ahsan, Fitriani. Fitri/ Yosephine, dan Tommy Sugiarto) adalah pemain di luar pelatnas. Namun mereka akan menjadi modal berharga menghadapi Thomas/ Uber dan Sea Games Vietnam 2022 nanti, karena waktunya bersamaan. Sehingga kita perlu menurunkan 2 (dua) tim di saat berbarengan (***)


