Rabu, Maret 11, 2026
BerandaHeadlineAntara Pemain Festival dan Komersial

Antara Pemain Festival dan Komersial

Oleh: Yuniandono Achmad, Pengamat bulutangkis, Dosen PTS di kota Depok.

Artikel ini muncul berangkat dari pertanyaan beberapa netizen, “Mengapa sih ya Indonesia bisa juara Thomas, tapi pemainnya (terutama tunggal putra) kok keok di turnamen level super series?”.

Nada tanya ini beredar di FB dan twitter. Padahal Thomas adalah kejuaraan beregu -bersama Uber- di level tertinggi, dengan memainkan 3 (tiga) tunggal dan 2 (dua) ganda. Artinya mereka yang terpilih -bahkan yang juara- memang pemain terbaik di negaranya, bahkan sampai juara di tingkat dunia.

Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya memakai analogi penyanyi festival versus penyanyi komersial (atau pasar).

Jadi begini, dulu di era 80-an kita kenal penyanyi bersuara emas, Harvey Malaiholo. Harvey sering menjadi juara di festival pop dalam negeri, bahkan dunia.

Apabila kita googling, Harvey pernah menjuarai festival menanyi di Budokan Hall (Jepang), mengalahkan Celine Dion dari Perancis. Namun ketika mengeluarkan kaset di pasaran -artinya sebagai penyanyi komersial- album lagu dari Harvey cenderung dapat dikatakan: tidak laku.

Harvey berbeda dengan Faris Rustam Munaf saat itu. Faris RM dapat dikatakan belum pernah menjuarai festival, tapi album lagunya laku terus. Demikian pula dengan Dedy Dukun dan Dian Pramana Putra, mereka dapat dikatakan “satu kubu” dengan Faris RM, yaitu sebagai penyanyi komersial.

Sementara yang satu kubu dengan dengan Harvey -sebagai penyanyi festival- misalnya Utha Likumahuwa, Trie Utami, dan Melky Goeslaw (bapaknya si Melly Goeslaw).

Namun ada juga penyanyi yang bisa berjaya di festival dan di komersial. Sebagai contoh adalah Vina Panduwinata, dan Yana Yulio -yang saat ikut kejuaraan festival tergabung dalam grup Elfa’s Seciora. Mereka juara di festival, dan album lagunya juga laku.

Kembali ke pertanyaan terkait bulutangkis di atas, maka pemain bulutangkis kita juga demikian. Ada yang tipe pemain (turnamen) festival, dan ada juga yang tipe pemain komersial.

Turnamen festival adalah pertandingan atau kompetisi yang jarang diadakan rutin -atau bukan tahunan. Kita mengenal Olimpiade dan Asian Games yang 4 (empat) tahun sekali, kemudian Sea Games yang 2 (dua) tahunan. Sedang di level beregu -kita tahu ada Thomas dan Uber Cup sebagai event dua tahunan.

Sementara turnamen komersial adalah rutin setiap tahun, yang biasa disebut level series atau super series. Memang gegara musibah pandemi covid 19 maka jadwal turnamen menjadi kacau.

Tetapi setidaknya gelaran beregu dunia, dan turnamen kelas “festival” telah hampir semua terselenggara -kecuali Sea Games yang tertunda, padahal semestinya digelar tahun ini.

Lalu apa hubungannya dengan keberhasilan di Thomas dan kegagalan di turnamen regular? Pemain kita -terutama tunggal- adalah pemain kelas festival. Jagonya di even yang beregu dan kejohanan (istilah Melayu) berselang tahunan.

Misal kita ambil contoh Jonathan Christie dan Antony Sinisuka Ginting. Keduanya berhasil saat Asian Games 2018 dengan meraih emas dan perunggu. Ginting masih berlanjut dengan medali perunggu di Olimpiade Tokyo 2020 -yang terselenggara di tahun 2021.

Selepas dari Thomas Cup kemarin, mereka kalah di babak-babak awal pada turnamen di Jerman, Perancis, dan Indonesia. Alhasil namanya tidak masuk pemain yang berkompetisi di BWF World Tour Final di Bali awal Desember ini.

Mirip sebelas duabelas dengan pasangan ganda putri emas kita, Greysia Polii/ Apriyani Rahayu. Memang kadang juara di turnamen super series, atau minimal runner up.

Tapi sewaktu Olimpiade Tokyo kemarin, mereka berdua sama sekali tidak diunggulkan, namun bisa meraih satu-satunya pundi emas bagi kontingen Indonesia -sehingga merah putih berkibar di podium juara. Bisa jadi matangnya Apriyani (23 tahun) memang pada tahun ini. Dengan tidak menafikkan persiapan matang yang dibuat oleh coach Eng Hian selama setengah tahun sebelumnya.

Eng Hian sendiri adalah peraih perunggu Olimpiade tahun 2004 (bersama Flandi Limpele) sehingga punya pengalaman berharga menghadapi even berkala sekelas olympic.

Sebaliknya dengan pasangan ganda Marcus/ Kevin. Mereka tipe pemain komersial. Meski sekarang menurun, karena sering hanya runner up, tapi tetap ganda nomer satu. Sehabis Thomas Cup, selalu masuk final di setiap turnamen yang diikuti.

Sewaktu di kejuaraan beregu Thomas Cup kemarin, mereka tidak selalu diturunkan, sempat dipisah bahkan. Pada saat Sudirman Cup, mereka kalah dengan ganda Malaysia -peraih perunggu Olimpiade Tokyo- yaitu Aaron Chiah/ Soh Woo Yik. Meski kemudian dibalas saat perempat final Thomas, saat itu Indonesia menang 3-0.

Sedangkan ganda Hendra Setiawan/ Mohammad Ahsan, mungkin bisa diibaratkan Vina Panduwinata, mereka jago di festival dan komersial.

Pasangan Ahsan/ Hendra, meski sekarang menurun, pernah meraih All England, kemudian juara Asian Games tahun 2014. Uniknya, saat berpasangan dengan Markus Kido (almarhum) koh Hendra tergolong pemain festival.

Jarang juara di turnamen super series, tapi mereka mendapat emas Olimpiade 2008, dan Asian Games 2010.

Lebih uniknya lagi, Indonesia tahun ini bisa juara Thomas, setelah sejak tahun 2008 tidak memasang Hendra Setiawan sebagai pemain di partai puncak. Walaupun bisa jadi, tahun ini juga kesuksesan Hendra sebagai kapten regu (playing captain) pertama kalinya di level beregu dunia.

Contoh nyata pemain yang seratus persen pemain festival adalah Firman Abdul Kholik. Sekarang dia sudah bermain di klub tidak pelatnas lagi. Firman Abdul Kholik selalu bermain bagus di level beregu, terutama mengantar tim kita untuk juara penyisihan tingkat asia. Namun begitu di turnamen level series, kalah di babak awal.

Ada juga Ihsan Maulana Mustofa, sekarang kembali ke PB Djarum, merupakan contoh pemain kelas festival ini. Ihsan mengantar PBSI meraih emas beregu Sea Games tahun 2015 lalu. Serta sempat menjadi tunggal ketiga saat RI mendapat runner up di piala Thomas tahun 2016.

Analogi pemain kelas festival dan kelas komersial ini bisa diterapkan untuk pemain Jepang dan Thailand yang berjaya di 3 (tiga) turnamen secara berturut-turut di Bali. Mereka pemain kelas komersial.

Apalagi bagi Jepang, Olimpiade Tokyo 2020 kemarin adalah musibah. Menempatkan para pemainnya sebagai unggulan pertama, bahkan sebagai tuan rumah, namun hanya mendapat 1 (satu) buah perunggu di sektor ganda campuran.

Demikian pula pemain ganda campuran Thailand, Dechapol Puavaranukroh/ Sapsiiree Taerattanachai, juga contoh pemain komersial. Mampu menciptakan hattrick di pulau Bali, namun agak apes di Olimpiade, dan juga di kejuaraan beregu. Terutama Sapsiree yang di piala Uber turun di ganda putri namun lebih banyak kalahnya.

Bermain di Thomas Cup dan di level super series memang berbeda. Beberapa pemain menyatakan bahwa ketegangan lebih mendera saat bermain beregu.

Sedangkan untuk turnamen seperti olimpiade, persiapan harus lebih matang. Berbeda dengan level super series, karena jarak antar turnamen kadang hanya sepekan, dibutuhkan ekstra stamina agar lebih sustain permainannya.

Di sinilah pintar-pintarnya pelatih dan pengurus PBSI untuk memilih dan memilah, tipe pemain yang manakah Si A atau B ataukah C. Kita harapkan tahun 2022 bulutangkis Indonesia semakin Berjaya. (***)

 

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer