Siak (Nadariau.com) – Tim Kukerta Unri kembangkan potensi sumber daya alam berbasis ekowisata melalui potensi hutan mangrove di Kampung Mengkapan Kabupaten Siak, Riau.
Mangrove merupakan awal dari rantai makanan di pesisir pantai. Jadi bisa dibayangkan betapa pentingnya ekosistem hutan mangrove ini bagi struktur kehidupan yang ada di perairan tersebut.
Salah satu wilayah hutan mangrove di Provinsi Riau terdapat di desa Mengkapan Kabupaten Siak, yang juga dijadikan objek ekowisata dan dikenal dengan wisata “Mangrove Jembatan Hitam”.
Sarana ekowisata mangrove jembatan hitam ramai dikunjungi oleh pengunjung. Hal ini sangat memberikan efek terhadap kemampuan perekonomian kampung.
“Wisata ini tentu saja menjadi potensi andalan Kampung Mengkapan, apabila dapat dioptimalkan dengan baik oleh perangkat kampung dan masyarakat sekitar,” kata Yovi Yolanda, salah seorang anggota Tim Kukerta Unri, Sabtu (10/08/2019)
Saat Tim Kukerta Unri melakukan survey lokasi daerah ekowisata mangrove pada bulan Maret. Tim disambut baik oleh Ketua Kelompok Pengelola mangrove Jembatan Hitam yaitu H Masdar.
Dikawasan ekowisata mangrove, tim banyak melihat kerusakan dibeberapa bagian. Karena ekowisata mangrove Jembatan Hitam merupakan potensi yang dimiliki Kampung Mengkapan.
Tim Kukerta Unri sepakat mengangkat objek ekowisata mangrove Mengkapan sebagai tema dari Kukerta kelompok. Mangrove Jembatan Hitam akan menjadi bagian spot Gerhana Matahari Cincin (GMC) pada bulan Desember 2019.
“Kami sangat berharap Tim Kukerta Unri dapat membantu untuk menata ulang serta menambah spot ekowisata agar menjadi daya tarik wisatawan domestik maupunn mancanegara untuk melihat Gerhana Matahari Cincin disini,” kata Masdar yang dijumpai saat survey Lokasi. (Penulis, Yovi Yolanda)


