OLEH Yuniandono Ahmad. GAMBAR pasangan ganda campuran Indonesia, Muh Luthfi Habibi/ Dian Ramadhani Mukti didapat dari https://bwfbadminton.com/ pada judul: 2026/10/18/world-juniors-low-breaks-jinx-two-gold-for-indonesia
Bulan Oktober ini menjadi penanda kejayaan bulutangkis kita. Tepatnya awal bulan sampai dengan pertengahan. Dari mulai Asian Games (AG) di Aichi Nagoya, Jepang, lanjut kejuaraan dunia yunior di Kairo, Mesir, dan terakhir adalah turnamen Denmark Terbuka. Meminjam istilah positif dalam bahasa Spanyol barangkali “Bendiciones de Octubre” atau berkah di bulan Oktober.
Oktober 2026 memang sedang membawa bona fortuna -keberuntungan yang baik- bagi dunia bulutangkis kita. Satu demi satu kemenangan hadir, membuktikan bahwa keberhasilan bukan hanya soal bakat dan kekuatan, melainkan juga kemampuan bangkit saat tertinggal. Bahkan ketika satu poin lawan akan membawa kekalahan sudah berada di depan mata.
Dari mana rentetan “power of kepepet” itu? Mungkin pemain melihat atau mendengar cerita dari para senior mereka dalam kisah heroik terdahulu. Seperti ketika tim Sudirman ketinggalan 0-2 saat melawan Korea Selatan di final tahun 1989. Partai ketiga Susi Susanti sudah ketinggalan dan lawannya (seingat saya Lee Yung Suk) posisi match point. Namun Susi mengejar pelan pelan, lalu deuce 10-10 dan menang.
Atau saat final Asian Games 2006 di Doha Qatar, saat Taufik Hidayat ketinggal 17-20 melawan Lin Dan dari Tiongkok. Namun lima angka berturut-turut didapat Taufik sehingga menang 22-20 secara straight game. Pun kondisi yang dihadapi oleh Ihsan Maulana Mustofa sebagai tunggal ketiga (partai kelima) saat kedudukan 14-20 melawan Muh AB Latif dari Malaysia di semifinal beregu Sea Games 2015. Bisa deuce 20-20 dan menang 22-20 sehingga Indonesia melaju ke final beregu -dan menang 3-2 di final mengalahkan Thailand.
Bisa juga disebut “the Comeback Effect” ketika tim beregu kita sudah ketinggalan 0-2 (akibat kalahnya Jonatan Christie (melawan Shi Yuqi), dan tumbangnya Fajar/ Fikri di tangan Liang Wei Keng/ Wang Chan), namun Alwi Farhan -pemain usia 21 tahun yang masa kecilnya dialami di daerah Pasar Kliwon, Solo- memiliki semangat lebih untuk mengandaskan serangan Li Shifeng. Li adalah peraih emas AG tiga tahun lalu di sector tunggal putra. Di partai terakhir, Zaki Ubaidillah, anak Sampang, Madura, benar-benar melakukan comeback karena tertinggal 16-20 melawan pemain kawakan Tiongkok, Weng Hongyang. Menang secara gilang gemilang dan mempersembahkan emas beregu.
Emas dari beregu putra tersebut, seakan mengobati kerongkongan prestasi tim kita setelah menanti 28 tahun untuk meraih emas Asian Games. Ditambah kejayaan Leo Rolly Carnando/ Daniel Martin di ganda putra, yang menambah daftar emas ganda sejak 2010 yang selalu dikuasai Indonesia. Hanya saat AG 2023 saja emas sektor ini terbang ke India, melalui pasangan Satwiksairaj/ Chirag Shetty.
Di ajang kejuaraan dunia yunior, memang kita tidak mendapat emas beregu (campuran). Bahkan takluk di semifinal melawan Malaysia, yang kemudian kalah di partai final melawan Tiongkok. Namun dua gelar perseorangan mengobati kekecewaan. Bahkan terjadi all Indonesian’s final di tunggal putra.
Pasangan ganda campuran kita, Muhammad Luthfi Habibi/Dian Ramadhani Mukti berhasil menjadi juara dunia junior 2026. Sedangkan Radithya Bayu Wardhana menang dalam perang saudara mengalahkan Fardhan Rainanda Joe -dalam perebutan gelar tunggal putra.
Kejuaraan Dunia Junior BWF 2026 bertajuk all Indonesian final yang berlangsung di Stadion Internasional Kairo, Mesir, Sabtu (17/10) malam. Dua atlet tunggal putra Indonesia bertemu pada partai puncak Kejuaraan Dunia Junior BWF.
Ini merupakan kali pertama terjadi final sesama atlet Indonesia di sektor tunggal putra (yang diselenggarakan sejak tahun 1992). Indonesia sendiri baru sekali merebut juara nomor ini di ajang junior pada 2023 melalui Alwi Farhan yang mengalahkan Hu Zhean (China).
Dalam perjalanannya menjadi juara dunia junior, mereka memenangkan sejumlah duel maut yang harus ditentukan lewat setting. Di laga final, Luthfi/Dian sudah tertinggal 11-14 dari Feng Yi Lang/Li Meng Han.
Bayangkan bahwa satu poin lagi, Feng/Li akan jadi juara dunia. Namun nyatanya, di situasi terdesak, Luthfi/Dian justru bisa tampil luar biasa. Mereka menggagalkan tiga match point lawan dan membuat skor deuce lalu menang 16-14 (Keterangan: Nilai atau poin kemenangan mengadaptasi skor baru).
Sementara itu di nomor tunggal putra, Fardhan Rainanda Joe yang berstatus unggulan 18 melakukan langkah comeback di partai semfinal setelah ketinggalan 11-14 melawan unggulan pertama Mady Sow dari Perancis. Juaranya, Radithya Bayu Wardhana merupakan unggulan 31.
Saat tulisan ini selesai disusun, Fajar Alfian/ M Shohibul Fikri mampu mengalahkan musuh bebuyutan asal negeri jiran, Aaron Chia/ Soh Woi Yik di final Denmark Terbuka. Permainan agresif dari Fajar/ Fikri benar benar memporakporandakan pasangan Malaysia yang terlihat berusaha defensive. Fajar Fikri menang mudah dengan straight game.
Pada titik ini kita perlu bersyukur bahwa PBSI memiliki modal yang apik untuk bersaing di 3 atau 5 tahun mendatang. Untuk 1-2 tahun ini dari lima sektor, tampaknya tunggal putri dan ganda putri yang patut menjadi perhatian. Hasil AG 2026 menunjukkan prestasi yang berkemajuan di beregu putri (dengan meraih perunggu) namun untuk individu -pemain putri kita tumbang di babak awal. Berlanjut di Denmark Open, tunggal Putri KW dan ganda Febriana Kusuma/ Meilysa Trias dan Rachel Rose/ Febi Setianingrum, berguguran di babak 16 besar.
Uniknya -atau apesnya- di babak 32 besar Perancis Terbuka mulai Selasa besok, pasangan Febriana/ Meilysa akan baku hantam dengan rekan pelatnas, Siti Fadia/ Pratiwi.
Dengan comebacknya coach Nova Widianto di jajaran pelatih ganda campuran Pelatnas, diharapkan menambah kegairahan sector ini. Baru seminggu Nova melatih kembali, prestasi perak AG ditorehkan oleh anak didiknya, pasangan Amri Syahnawi/ Nita Violina. Bahkan di semifinal mengalahkan pasangan nomor wahid dunia, Feng Yanze/ Huang Dopngping. Sayang di final, keunggulan di set pertama berbalik kalah, dan bisa dikatakan hancur di set kedua. Amri/ Nita Violina kalah straight set melawan Jiang Zhenbang/ Wei Yaxin dari Tiongkok. Pasangan Jiang/ Yaxin dengan demikian melakukan hattrick, selalu juara dalam tiga turnamen terakhir yaitu AG di Nagoya, Arctic Open, dan sekarang Denmark Open. Dua turnamen terakhir tersebut terjadi all Chinesse final.
Walhasil kejayaan beruntun tim pelatnas ini memang pantas disyukuri. Namun tantangan dari luar dan kelemahan tim kita masih menganga.
Ambil contoh di Denmark Open untuk sektor ganda campuran, tiga semifinalis berasal dari Tiongkok. Seakan tembok Cina ini begitu tebal untuk ditembus pasangan di luar Tiongkok. Kita harapkan kehadiran coach Nova berpengaruh signifikan untuk mengembalikan kedigdayaan XD kita layaknya era Tontowi Ahmad/ Lilyana Natsir atau Praven Jordan/ Debi Susanto.
Terjadinya all Indonesian final untuk sektor tunggal putra yunior merupakan prestasi yang membanggakan. Semoga langkah mereka ke jenjang senior juga lancar. Juara tunggal Denmark Open adalah Alex Lanier dari Perancis. Lanier ini tahun 2023 “hanya” mampu ke semifinal kejuaraan dunia yunior, kalah melawan Hu Zhean (CHN), dan Alwi Farhan yang menjadi juara. Namun prestasi di senior lebih mengkilap dibanding Alwi dan Hu Zhean. Alwi bahkan lebih mendingan karena sudah dipercaya menjadi anggota inti skuad beregu, sedangkan Hu Zhean masih berada di posisi second layer karena di papan atas Tiongkok masih ada Shi Yuqi, Li ShiFeng, Weng Hongyang, dan Lu Ghuang Zu.
Fenomena comeback-nya Leo Rolly/ Daniel Martin juga harus terus dipantau. Mengingat saat babak penyisihan beregu, Leo/ D. Martin sempat kalah melawan pasangan baru Malaysia, Aaron Chia/ Tee Kai Wun. Di turnamen Denmark Terbuka ini pasangan Leo/ Daniel mundur (kalah WO) dengan alasan cedera. Faktor kelelahan itu pula yang dialami oleh Kunlavut Vitidsarn (Tailan) yang kalah melawan pemain tuan rumah yang dari sisi prestasi sudah jauh menurun, Ramsus Gemke.
Penutup. Pemain bulutangkis Indonesia kembali membuktikan bahwa bulutangkis bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari identitas dan kebanggaan bangsa. Hanya ada 2 (dua) momen Ketika bendera merah putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan di negara lain. Pertama ketika Presiden atau Wapres melakukan lawatan luar negeri. Kedua saat para atlet kita mendapatkan emas.
Deretan kemenangan di Asian Games, Kejuaraan Dunia Junior, hingga Denmark Open menunjukkan bahwa semangat juang, daya tahan, dan kemampuan bangkit dari keterdesakan adalah DNA yang melekat pada atlet kita. “The Comeback Effect” yang berulang kali terjadi menjadi simbol bahwa mental juara Indonesia tetap hidup, bahkan di tengah tekanan yang nyaris tak tertanggungkan.
Namun, kejayaan ini juga menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah masih banyak. Sektor tunggal putri dan ganda putri membutuhkan perhatian serius, sementara dominasi Tiongkok di ganda campuran masih menjadi tembok besar yang harus ditembus. Dengan modal regenerasi yang kuat, dukungan pelatih berpengalaman, dan semangat pantang menyerah, Indonesia memiliki fondasi kokoh untuk menatap masa depan, setidaknya sampai dengan Olimpiade 2028 di Los Angeles, USA nanti.
Artikel ini ditulis oleh Yuni Andono Achmad SE ME dari Bogor, Jawa Barat



