Tanjungpinang, Nadariau.com – Provinsi Kepulauan Riau dipercaya menjadi tuan rumah ajang internasional bola basket 3×3 melalui penyelenggaraan FIBA 3×3 Women’s Series dan FIBA 3×3 Challenger yang akan berlangsung pada 23–26 Juli 2026 di Alun-Alun Tengku Putri, Tanjungpinang.
Kejuaraan tersebut merupakan bagian dari rangkaian seri dunia yang diselenggarakan oleh FIBA setiap tahun di berbagai negara. Untuk kategori putri, sebanyak 16 negara dijadwalkan ambil bagian dalam kompetisi yang mempertemukan atlet-atlet terbaik dunia tersebut.
Ajang FIBA 3×3 Series sendiri digelar secara bergilir di sejumlah kota dunia, seperti Singapura, Tokyo, Manila, dan berbagai negara lainnya. Kepri menjadi salah satu daerah yang mendapat kepercayaan untuk masuk dalam kalender resmi penyelenggaraan kejuaraan internasional tersebut.
Ketua Umum DPD Perbasi Kepri, H. Suhadi mengatakan meski Provinsi Kepri berstatus sebagai tuan rumah, peserta yang mewakili Indonesia pada ajang ini merupakan tim nasional dan tim profesional yang telah memenuhi standar kompetisi internasional. Selain tim nasional Indonesia, sejumlah tim profesional dari berbagai daerah juga akan turut berpartisipasi.
“Sebagian besar pemain yang tampil merupakan atlet profesional. Karena ini adalah kejuaraan dunia, standar yang diterapkan sangat tinggi, termasuk dalam pembentukan tim dan kualitas pemain yang diturunkan,” ujarnya di Tanjungpinang, Minggu (21/06/2026)
Menurutnya, kepercayaan yang kembali diberikan kepada Kepri sebagai tuan rumah ajang internasional harus menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan atlet basket di daerah.
Ia berharap pemerintah kabupaten dan kota di Kepri dapat terus mendorong penyelenggaraan kompetisi kelompok umur secara berkelanjutan. Saat ini, sejumlah program pembinaan usia dini telah berjalan, khususnya di Batam, melalui berbagai kompetisi kelompok umur mulai dari kategori KU-10, KU-12, KU-14, KU-15, hingga KU-16.
“Kompetisi kelompok umur sangat penting untuk menciptakan regenerasi atlet. Anak-anak yang mulai bertanding sejak usia dini akan memiliki kesempatan berkembang hingga ke level yang lebih tinggi,” katanya.
Menurutnya, Kepri masih menghadapi tantangan besar dalam melahirkan atlet yang mampu bersaing di tingkat nasional. Karena itu, pembinaan harus dilakukan secara konsisten melalui kompetisi, pelatihan, coaching clinic, dan partisipasi dalam berbagai turnamen di luar daerah.
Ia menambahkan bahwa minat masyarakat terhadap olahraga basket, khususnya di Batam, terus menunjukkan perkembangan yang positif. Antusiasme tersebut menjadi modal penting dalam membangun ekosistem pembinaan atlet yang lebih kuat di masa mendatang.
Target jangka panjang yang ingin dicapai adalah melahirkan atlet-atlet terbaik Kepri yang mampu memperkuat daerah pada ajang Pekan Olahraga Nasional dan menembus kompetisi tingkat nasional.
“Klub-klub di Pulau Jawa saat ini sudah memiliki sistem pembinaan yang berjalan cukup lama. Karena itu, Kepri harus terus memperbanyak kegiatan pembinaan, pelatihan, coaching clinic, serta mengikutsertakan atlet dalam kompetisi nasional agar pengalaman dan kemampuan mereka semakin meningkat,” ujarnya.
Dengan dukungan seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, organisasi olahraga, klub, sekolah, hingga masyarakat, Kepri diharapkan mampu memanfaatkan momentum penyelenggaraan kejuaraan dunia ini untuk mempercepat lahirnya atlet-atlet basket berprestasi yang dapat mengharumkan nama daerah di tingkat nasional maupun internasional


