Pimpinan dewan sedang rapat tertutup bersama Sekwan dan jajarannya.
Pekanbaru (Nadariau.com) – DPRD Provinsi Riau melaksanakan rapat tertutup bersama pimpinan, yang melibatkan ketua dan wakil, ketua fraksi serta ketua kelengkapan dewan.
Sementara dari pihak eksekutif yakni, Sekwan DPRD Riau Renaldi beserta jajaran. Turut juga dihadiri oleh Plt BPKAD Indra, Kepala BKD Riau Budi Fakhri di Ruang Medium DPRD Riau, Kamis (18/6/2026).
Rapat dipimpin oleh Ketua DPRD Riau Kaderismanto, didampingi Wakil Ketua Parisman Ikhwan dan Budiman Lubis serta pimpinan AKD lainnya. Dalam rapat, tampak para pimpinan ini marah besar.
Rapat yang dimulai sejak pukul 10.00 Wib sampai siap ashar tersebut, seluruh mata dewan tertuju kepada Sekwan DPRD Riau Renaldi, sehingga kondisi rapat terasa sangat panas.
Suara nada kencang, suara nada bergelombang dan suara nada halus tampa bisa diucapkan dengan kata – kata menghempas wajah Sekwan tersebut. Bahkan suara bernada keras itu sampai terdengar keluar ruangan dan memekakkan telinga, hingga mengejutkan pegawai diluar yang mengikuti jalannya rapat di lembaga terhormat tersebut.
Pertanyaan para pimpinan dewan ini hanya satu, yaitu ‘Kenapa’.
Kenapa roda pemerintahan dewan tidak berjalan, kenapa administrasi tidak selesai, kenapa keuangan di sekretariat dewan tidak diurus. Dengan pandangan tajam, raut wajah kusam, mata merah dan gerak tubuh tegang, pertanyaan kenapa ini dilontarkan oleh seluruh dewan.
“Jika kamu tidak mampu, silahkan mundur saja. Jangan bertahan terus,” kata Wakil Ketua DPRD Riau Parisman, seperti ucapan – ucapan anggota dewan yang sudah sering dilontarkan dalam setiap rapat bersama Sekwan itu sejak sebelum-sebelumnya.
“Jauh hari sebelumnya, kami sudah mengingatkan, bahwa bulan Juni ini adalah jadwal reses dewan. Dulu kamu menjawab, bisa menjamin penyelesaian segala pengurusan adminitrasi dan keuangan kegiatan kedewanan. Namun sekarang apa yang bisa kamu jamin, tidak ada yang selesai satu pun,” sambung Parisman, terdengar dari pantaun media di luar pintu kaca ruang medium tersebut.
Sementara Renaldi dilihat tampak mengangguk-ngangguk saja, mendengar lontaran pertanyaan dari dewan. “iya pak, iya pak,” sambil tersenyum.
Ketua Komisi IV Makmun Solihin mengatakan, beliau (Sekwan Renaldi) seharusnya belum layak langsung diberi jabatan Sekwan. Karena selama ini, dia bertugas di daerah dan saat pindah ke provinsi, suasana dan kondisinya tentu tidak sama.
“Seharusnya dia harus ditugaskan dulu di OPD lain, untuk penyesuaian dan mempelajari kinerja pemerintahan provinsi dengan baik. Jadi kepala daerah tidak harus langsung mengangkat beliau menjadi pejabat tertinggi di sini,” kata Makmun, usai rapat.
Akibatnya sekarang, proses kegiatan kedewanan tidak berjalan (Vakum). Kegiatan reses berkemungkinan diundur ke bulan depan (Juli). Jadi, kan telah mengganggu roda pemerintahan di lembaga terhormat ini.
“Dia (Sekwan) dilihat saat ini sedang dilema oleh jabatannya sendiri. Dia dari daerah pindah ke sini, yang dikelolanya lebih dari 300 orang pegawai ditambah 65 anggota dewan. Saat ini, sebagian besar pegawai baru di mutasi keluar dan berganti masuk baru. Dan tentu pegawai yang baru belum bisa bekerja. Jadi akibat ketidakmampuannya mengelola, roda pemerintahan menjadi stagnan (Tidak bergerak),” ujar Makmun usai rapat.
Kabag Risalah Slamet Riyadi mengatakan, penyebab kegiatan macet dikarenakan saat ini belum ada bendahara kesekretariatan, Pengguna Anggaran (PA) dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). SK pejabat itu harus ditandatangani oleh Plt Gubernur Riau. Sementara SK ini sudah diusulkan muda-mudahan bisa ditandatangani oleh gubernur hari ini.
Sementara untuk SK PPK dan PPTK bisa dibuat dan ditekan oleh kepala bagian masing masing. Namun PPK dan PPTK belum bisa dibentuk, jika PA dan KPA belum ditunjuk gubernur.
“Jadi keuangan kita belum bisa berjalan, jika PA dan KPA belum ada. Jika pejabat ini sudah ada, baru kita bisa mengajukan pencairan untuk kegiatan reses dan kegiatan kedewanan lainnya,” jelas Slamet yang akrab dipanggil Slem, kepada wartawan, disaat beliau keluar ruangan disela – sela rapat berlangsung.
Rapat pimpinan dewan dan Sekwan ini tampak berbeda dari rapat-rapat sebelumnya. Dimana, puluhan kuping telinga bergantungan dibalik pintu rapat secara bergantian, mengintip pembicaraan rapat. Karena ribuan orang menggantungkan nansibnya kepada hasil rapat pimpinan dewan tersebut.
Hal ini terkait gaji, tunjangan pegawai dan pencairan kegiatan rekanan pihak ketiga yang belum jelas sejak Bulan Januari 2026 lalu. Apalagi bulan ini kebutuhan sangat tinggi, dikarenakan libur dan anak masuk sekolah. (alin)


