Kamis, Januari 29, 2026
BerandaIndeksKejuaraan yang “Bittersweet” #INAmaster

Kejuaraan yang “Bittersweet” #INAmaster

OLEH: Yuniandono Achmad. GAMBAR: Alwi Farhan juarai Indonesia Master 2026, foto dari https://bwfworldtour.bwfbadminton(dot)com /news-single/2026/01/26/indonesia-masters-malaysias-three-farhans-glee/

HASIL Indonesia Master 2026 di Istora Senayan memang mengadukaduk perasaan. Dalam hal ini perasaan suporter dan/ atau netizen bulutangkis tanah air. Antara gembira atau senang, dengan perasaan yang was-was, lebih ke arah khawatir atau sedih. Kita bergembira karena ada 1 (satu) gelar yang dibawa -melalui tangan Alwi Farhan. Bandingkan tahun lalu kita zonk alias nir-gelar di Ina Master 2025. Tapi sedihnya di 2026 ini, bahwasanya di ganda putra, pasangan muda kita -yaitu Raymond Indra/ Nikolaus Joaquin- kalah melawan pemain senior Malaysia.

Selain kita bergembira karena pemain muda kita -usia dibawah 22 tahun- pada ke final, yakni sektor MS dan MD. Akan tetapi sedihnya sang juara umum -dengan 3 (tiga) gelar- diambil oleh negeri jiran. Malaysia mendapatkan juara melalui ganda campuran, ganda putra, dan kemenangan WO ganda putri.

Kita bersuka cita kerana pasangan ganda putri kita mendominasi di perempat final. Sedihnya: Zonk babar blas tanpa ada finalis di WD sama sekali. Sedihnya lagi, pasangan Jepang -yang mengalahkan malah cedera di final sehingga mereka mundur (withdrawn). Sehingga pasangan negeri tetangga yakni Pearly Tan/ Thinaah melenggang kangkung untuk mendapat hadiah turnamen level super 500 sebesar 37.500 dolar Amerika.

Negeri Siam Thailand (yang menurut Badan Informasi Geospatial, dan Badan Bahasa, penulisannya menjadi: Tailan) meski tidak mendapat gelar, prestasi pemuda/i mereka juga patut diacungi jempol. Di partai final Thailand mewakilkan Panitchapon Teeraratsakul yang hanya setahun lebih tua dari Alwi Farhan. Satunya petunggal putri usia 19 tahun Pitchamon Opatniputh, yang di luar dugaan mampu mengimbangi Chen Yufei -peraih emas Olimpiade Tokyo 2020. Sebelum ke final, Teraratsaku dengan gemilang menyingkirkan Lakhsya Sen (India) dan Loh Kean Yew dari Singapura. Sementara Opatniputh mempecundangi kejutan lainnya di sektor tunggal putri, yakni Letshanaa Karupathevan dari Malaysia.

Letshana Karupathevan ini di babak perempat final mengalahkan Huang Yu-Hsun dari Taipei. Pada babak sebelumnya Huang menjadi pembunuh raksasa karena mampu menenggelamkan unggulan kedua sekaligus pemain tuan rumah, Putri Kusuma Wardani.

Istilah bittersweet kami ambil dari pernyataan Barack Obama saat memulai kampanye kepresidenan tahun 2008 dulu. Obama merasa gembira karena suasana kampanye yang ramai, namun sedih karena awal November 2008 (alias 2 (dua) hari sebelum hari H kampanye) kala neneknya -yang bernama Madelyn Dunham- meninggal dunia. Saat itu sang nenek wafat ditemani saudara tiri Obama, yaitu Maya Soetoro.

Kata-kata Obama yang viral saat kampanye di California Utara saat itu, “This is a little of a bittersweet time for me.” Campuran antara perasaan yang agak manis sekaligus rada pahit. Bisa diistilahkan dengan: Bittersweet.

Kata tersebut bisa menggambarkan suasana hati netijen tepok bulu NKRI. Bila ditarik jauh ke belakang, perihal ini mirip dengan pernyataan ketua umum PBSI tahun 1986, Jenderal Try Sutrisno. Saat menjadi tuan rumah Thomas-Uber Cup, PBSI mendapat penghargaan dari IBF (sekarang: BWF) sebagai penyelenggara turnamen terbaik sampai saat itu. Namun sayangnya, piala Thomas dan Uber digondol tim Tiongkok.

Seandainya kita menjadi warga negara lain, anggaplah sebagai on behalf of Malaysian di ajang Malaysia Open awal Januari lalu, kemudian sebagai penduduk India kala jadi tuan rumah India Open sepekan yang lalu, maka kekecewaan menjadi semakin bertambah a.k.a tumpah ruah. Karena tuan rumah Malaysia dan India tidak mendapat gelar sama sekali. Kita masih mending mendapat 1 emas dan 1 perak (juara tunggal putra dan runner up untuk ganda putra).

Jadi ya lumayanlah buat PBSI saat ini. Meski yang menyesakkan adalah, pesaing terdekat kita mendapat “kejohanan” penuh di Istora. Menurut catatan BWFfans Malaysia menjadi juara umum pertama kalinya di sepanjang rangkaian turnamen BWf ya di Ina Master ini. Dengan demikian negeri jiran mampu mensejajarkan dirinya dengan Tiongkok, Jepang, Korea dan Indonesia, yang pernah mengalami hal tersebut.

                          Anyway bila dilihat dari jumlah penonton, tentunya tahun ini membaik. Lumayan membaik dari sisi antusiasme, karena Indonesia Masters 2026 digelar dengan suasana ramai dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ada tambahan prestasi dengan 1 (satu) gelar juara dan 1 (satu) predikat runner up. Alwi Farhan mendapatkan gelar Super 500 pertamanya. Namun meski meraih juara, masih ada pekerjaan rumah. Yakni membalas kekalahan dari sesama yunior (Alex Lanier dari Perancis) di Malaysia Open 2 (dua) pekan yang lalu.

Para pemain yunior, kita anggap sebagai potensi. Memang menyakitkan kekalahan Raymond/ Joaquin atas Goh Sze Fei/Nur Izzuddin Rumsani, dengan skor 19-21, 13-21. Padahal sewaktu menjuarai Australia Open bulan November lalu, Raymond/ Joaquin mampu mengandaskan Goh Sze Fei/Nur Izzuddin Rumsani di partai semifinal. Kita harap seiring faktor usia yang bertambah dewasa (sementara Goh Sze Fei/Nur Izzuddin Rumsani telah berumur 28 tahun) maka pembalasan atas kekalahan kemarin bisa jadi hanya menunggu waktu saja.

Sebagai penutup, perlu direnungkan prinsip hidup Lucius Annaeus Seneca, yang lebih dikenal sebagai Seneca the Younger (Seneca Muda) yang pernah hidup antara 4 SM sampai dengan 65 Masehi. Dalam prinsip stoikisme ala Seneca, yang namanya harapan (spes) dan ketakutan (metus) adalah dua sisi dari koin yang sama. Keduanya muncul karena manusia menggantungkan diri pada masa depan. Sama-sama berpotensi mengganggu ketenangan batin.

Masih lanjut si Seneca “Spes et metus sunt duo vitia animi” (harapan dan ketakutan adalah dua penyakit jiwa). Sehingga bagi Seneca, hidup yang baik bukan hidup penuh harapan, juga bukan hidup putus asa. Melainkan hidup dengan rasionalitas, kebajikan, dan kesiapan menerima kenyataan. Maka tatap masa depan, lihat turnamen-turnamen selanjutnya. PBSI akan menjadi tuan rumah lagi nanti di bulan Juni, di ajang Indonesia Open -turnamen termahal kedua sejagad setelah China Open. Ayo ngistora lagi di bulan Juni: Eeaaa eeeaaa …………………………………………….

ditulis oleh YUNI ANDONO ACHMAD, S.E., M.E.,

pemerhati olahraga dari Bogor, provinsi Jawa Barat.

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer