Yuni Andono Achmad SE ME, dosen Universitas Gunadarma
PRESIDEN Prabowo Subianto saat peluncuran Biodiesel 50 yang dilakukan di Rest Area KM57 Tol Jakarta-Cikampek, Jawa Barat, pada hari Kamis (9/7/2026) menyatakan kegelisahannya mengapa PSSI belum bisa masuk piala dunia sepakbola atau FIFA World Cup. “Bagaimana caranya masuk Piala Dunia? Jangan anggap enteng, sepak bola itu kehormatan,” kata Prabowo Subianto.
Seperti pembaca tahu pada kualifikasi Piala Dunia 2026, Indonesia terhenti di babak keempat. Meski gagal, menurut saya hal tersebut patut disyukuri -karena menjadi laju terjauh Indonesia di kualifikasi Piala Dunia selama ini. Artinya ada perbaikan, meski tim Merah Putih harus menunggu empat tahun lagi untuk menggapai tiket ke Piala Dunia 2030.
Apakah memang keunggulan sepakbola hanya dilihat dari kesebelasan yang kuat? Dari perspektif ekonomi ternyata tidak. Kita bisa melihat dari 32 negara yang lolos babak kedua, dan 16 negara yang masuk perempatfinal Piala Dunia 2026 ini, bahwa kemakmuran ekonomi suatu negara juga menjadi salahsatu faktor keberhasilan bermain bola. Logikanya, memakai paradigma “ekonomi industri” adalah: Structure – Conduct – Performance atau SCP.
Apa itu SCP? Kaidah mengenai Structure-Conduct-Performance (SCP) adalah salah satu teori paling terkenal dalam Ekonomi Industri (Industrial Organization). Paradigma ini dikembangkan oleh para ekonom dari Harvard School, terutama Joe S. Bain dan Edward S. Mason pada tahun 1930 sampai 1950-an.
Paradigma SCP menjelaskan bahwa struktur suatu industri akan memengaruhi perilaku perusahaan, dan perilaku perusahaan pada akhirnya menentukan kinerja industri. Structure (Struktur Pasar) akan menentukan bagaimana kondisi industrinya. Conduct (Perilaku Perusahaan) terkait bagaimana perusahaan bertindak. Dan performance (Kinerja) inheren dengan bagaimana hasil akhirnya.
Paradigma SCP juga dapat diterapkan di luar sektor manufaktur, misalnya pada industri olahraga. Misalnya “Structure” adalah jumlah klub professional, kualitas liga, sistem promosi-degradasi, regulasi federasi, dan investasi akademi
Kemudian “conduct” berhubungan dengan jual/ beli pemain, pembinaan yunior (atau melatih pemain muda), mencari sponsor, membangun stadion, dan mengembangkan sport science. Terakhir adalah “performance” terkait dengan kualitas kompetisi, prestasi klub, prestise menjadi pemain timnas, jumlah penonton, dan pendapatan industri sepak bola.
Bagaimana dengan hasil FIFA World Cup kemarin (12 Juni sampai dengan 20 Juli 2026)?Kita lihat komposisi dari negara yang lolos 32 besar. Babak 32 yang dimulai hari Senin 29 Juni 2026, selain tuan rumah USA, Canada, dan Mexico, ada 29 negara lainnya yang lolos, Mereka adalah Swiss, Paraguay, Brasil, Maroko, Jerman, Prancis, Norwegia, Argentina, Kolombia, Afrika Selatan, Bosnia Herzegovina, Pantai Gading, Ekuador, Belanda, Jepang, Swedia, Australia, Spanyol, Cape Verde, Inggris, Ghana, Mesir, Portugal, Belgia, Kroasia, Senegal RD Kongo, Austria, dan Aljazair.
Sepakbola masih menjadi primadona di benua Eropa, dilihat dari kuantitas negara terbanyak yang lolos sebanyak 13 negara. Artinya adalah kompetisi terbaik juga ada di liga Eropa. Bayangkan dari 32 negara yang lolos, hampir 40 persen dari benua Eropa. Ini membuktikan bahwa ras Eropa memang unggul dalam memadukan 11 pemain (plus 10 lainnya di bangku cadangan) untuk berkutat di lapangan berukuran 110 x 90 meter ini.
Berikutnya 8 (delapan) negara benua Amerika, yaitu Meksiko, Kanada, Amerika Serikat, Brasil, Paraguay, Argentina, dan Kolombia, serta Ekuador. Kompetisi di US (yang disebut Major League Soccer) bisa dikatakan menyamai Eropa. Namun negara benua Amerika ini adalah supplyer pemain bola dunia, terutama yang berkompetisi di Eropa. Brasil. Argentina, dan Uruguay dikenal memiliki stok pemain terbaik dunia.
Benua Afrika meloloskan 9 (sembilan) negara, yakni Maroko, Afrika Selatan, Pantai Gading, Cape Verde, Ghana, Mesir, Senegal, Republik Demokratis Kongo, dan Aljazair. Seingat saya di Piala Dunia 1986, sang komentator termashyur bernama Rob Hughes meramalkan bahwa masa depan sepakbola ada di Afrika. Sampai sejauh ini, banyak pemain Afrika yang memang brilian di lapangan hijau. Namun sayangnya kebanyakan telah pindah kewarganegaraan
Benua dengan penduduk terbesar di dunia, yakni Asia, untuk edisi 2026 ini hanya meloloskan dua negara, yakni Jepang dan Australia. Negara yang berpenduduk besar bahkan tidak bisa lolos ke putaran piala dunia seperti Tiongkok, India, dan Indonesia. Uniknya negara yang masuk 10 besar penduduk terbesar di dunia, hanya Amerika Serikat yang dapat disebut “jago” dalam bermain bola. Negara besar yang absen selengkapnya adalah India, China, Indonesia, Pakistan, Nigeria, Brasil, Bangladesh, Rusia, dan Ethiopia.
Dari sisi kemakmuran, negara Kelompok G7 -yang merupakan negara dengan skala ekonomi terbesar di dunia- hampir 100 persen masuk ke 32 besar. Kecuali satu negara yaitu Italia. Keenam negara G7 yang lolos adalah Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, dan Jepang.
Sedangkan apabila dilihat dari anggota G20 yang terdiri dari negara-negara besar dunia, lebih dari 50 persen yang lolos 32 tim. Selain Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, dan Jepang, ditambah dengan Argentina, Brasil, Meksiko, Australia, dan Afrika Selatan, totalnya 11 negara.
Ke-6 tim anggota G7 yang lolos menunjukkan dominasi negara maju dengan ekonomi besar, meski Italia (anggota G7) tidak lolos. Sedangkan 11 tim lolos dari G20 berarti hampir sepertiga peserta berasal dari negara dengan ekonomi terbesar dunia. Implikasi geopolitik adalah negara negara G20 mendominasi panggung global, dan kehadiran mereka di Piala Dunia memperkuat citra sebagai kekuatan ekonomi sekaligus budaya.
Bagaimana dengan nilai spiritualnya? Kebanyakan negara berdasar agama Nasrani (Kristen dan Katolik). Sedangkan negara muslim yang dominan ada 4 (empat) yaitu Maroko, Mesir, Aljazair, dan Senegal. Sedangkan yang muslim mayoritas namun tidak dominan ada 3 (tiga) yakni Bosnia dan Herzegovina, Ghana, dan Pantai Gading.
Representasi dunia Muslim menunjukkan implikasi geopolitik kalau dunia Muslim menyumbang perwakilan negara yang cukup besar (sekitar 20 persen dari peserta). Dengan catatan sebagian besar berasal dari Afrika, bukan Timur Tengah atau Asia. Hal ini mencerminkan pergeseran pusat gravitasi sepak bola Muslim ke Afrika Utara dan SubSahara. Kompetisi terbaik sepakbola Islam barangkali ada di Arab Saudi, Qatar dan negara Asia Tenggara (Malaysia dan Indonesia) namun ternyata belum cukup mengatrol permainan -atau prestasi bolanya- sampai ke level dunia. Bahkan untuk negara Arab, pemainnya 100 persen di liga sendiri, sehingga malah tidak percaya diri (PD) ketika bermain di level internasional.
Maka secara ringkasan pola global, setidaknya ada 10–12 negara protestan (Eropa Utara, Anglo-Saxon, Afrika Selatan), lalu ada 12–14 negara Katolik (Amerika Latin, Eropa Selatan). Serta beberapa negara campuran, yaitu negara Afrika dan Balkan memiliki distribusi seimbang antara Katolik, Protestan, dan Islam.
Terdapat beberapa negara miskin yang mampu lolos ke-32 besar. Jika dilihat dari tingkat kemakmuran ekonomi (PDB per kapita dan indeks pembangunan manusia/ HDI), maka negara yang tergolong paling miskin berada di kawasan Afrika SubSahara. Republik Demokratik Kongo termasuk salah satu negara termiskin di dunia dengan PDB per kapita di bawah US$ 600 per tahun. Negara Amerika Latin (Brasil, Argentina, Kolombia, Meksiko) berada di tingkat menengah—tidak miskin, tetapi masih menghadapi kesenjangan sosial. Negara Afrika lainnya, seperti Senegal, Cote de Ivore, dan Ghana, menempati posisi sedang agak bawah dalam hal pendapatan per kapita dan kualitas hidup.
Artinya dari 32 peserta, RD Kongo adalah negara paling miskin secara ekonomi, diikuti oleh Senegal, Ghana, dan Pantai Gading. Namun, menariknya, beberapa di antaranya justru memiliki prestasi sepak bola yang kuat, menunjukkan bahwa kualitas tim nasional tidak selalu sejalan dengan tingkat kemakmuran ekonomi.
Secara rata-rata sepakbola mencerminkan kekuatan ekonomi suatu negara global, yang ditandai dengan PDB tinggi, infrastruktur (terutama infrastruktur olahraga maju), liga profesional yang besar dan rapi, serta investasi tinggi dalam sepak bola. Semakin sejahtera suatu negara, maka (biasanya atau kebanyakan) sepakbola akan maju.
Ekonomi Pembangunan dan Olahraga
Dengan mempergunakan kaidah teori “central limit theorem”, bisa disimpulkan bahwa ajang piala Dunia 2026 menunjukkan menyerminkan kemajuan ekonomi negara. Sepak bola bukan sekadar pertandingan memperebutkan gelar juara, melainkan juga dinamika peradaban bangsa. Negara-negara yang lolos ke babak 32 besar menggambarkan hubungan antara kualitas pembinaan olahraga, kekuatan ekonomi, sejarah, budaya, bahkan pengaruh geopolitik.
Meskipun kemakmuran sering berkorelasi dengan prestasi sepak bola, terdapat pula negara-negara yang membuktikan bahwa semangat, pembinaan, dan talenta mampu melampaui keterbatasan ekonomi. Di sisi lain, absennya beberapa negara besar dari putaran final menjadi pengingat bahwa jumlah penduduk maupun kekuatan ekonomi saja tidak cukup tanpa sistem pembinaan yang berkelanjutan.
Piala dunia 2026 ini mengajarkan bahwa keberhasilan lahir dari investasi jangka panjang, kompetisi yang sehat, serta pengembangan sumber daya manusia yang konsisten. Sepak bola pun menjadi bahasa universal yang mempertemukan berbagai bangsa. Para nations dengan latar belakang ekonomi, agama, budaya, dan sejarah yang berbeda dalam satu panggung yang sama. Meski secara umum tetap: Negara maju, sepakbolanya pun maju. Atau bisa juga agak sedikit dibalik: Sepakbola maju, pasti negara maju.
Dari ke-32 negara tersebut, saling bertemu di sistem gugur atau penyisihan kalah menang, menghasilkan 16 negara yang lolos adalah sebagai berikut (in alphabetically order). Argentina, Belgium, Brazil, Canada, Colombia, Egypt, England, France, Mexico, Morocco, Norway, Paraguay, Portugal, Spain, Switzerland, dan Amerika Serikat (United States).
Secara ringkas keenambelas negara tersebut masuk kelompok (cluster) atau kategori negara maju, literasi pendidikan tinggi, dan berada di “Barat” alias benua Eropa.
Dengan mempergunakan indikator GDP per kapita (paritas daya beli atau purchasing power parity/ PPP) dan Human Development Index (HDI) maka separo dari 16 adalah negara maju. Yakni USA, Switzerland, Norway, Canada, Belgium, France, England, Spain, dan Portugal. Kemudian menengah atas perekonomiannya adalah Brazil dan Argentina. Menengah adalah Meksiko dan Kolombia.
Khusus untuk Brazil dan Kolombia ini diperkirakan akan menguasai nanti di pertengahan abad XXI. Brazil dimasukkan ke “BRIC” oleh Jim O’Neill dari Goldman Sachs. Bric yang terdiri dari Brazil Rusia India China menjadi “Brics” dengan tambahan South Africa, atau Afrika Selatan. Kemudian negara Kolombia masuk dalam “Civets” yang sempat terkenal di sekitar tahun 2010. Setelah BRICS berikutnya adalah Civet. Anggota CIVET adalah Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, dan Turkiye.
Sedangkan negara yang sedang berkembang (menuju negara menengah) adalah Morocco, dan Paraguay. Artinya apa? Sama sekali tidak ada negara miskin. Negara -negara tersebut bisa juga dikelompokkan berdasar kemampuan matematika dan literasi bahasa. Dengan indikator hasil PISA OECD dan TIMSS serta PIRLS.
Arti dari PISA lalu TIMSS beserta PIRLS. Pisa adalah Programme for International Student Assessment dengan penyelenggaranya adalah OECD atau “Organisation for Economic Co-operation and Development” yang mulai dilaksanakan tahun 2000 dan dilaksanakan setiap 3 tahun sekali dengan usia peserta 15 tahun. Yang diukur bukan hafalan, tetapi kemampuan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan. Sedangkan TIMSS adalah “Trends in International Mathematics and Science Study” yang dimulai sejak tahun 1995 dilaksanakan setiap 4 tahun. Pesertanya kelas 4 SD dan kelas 8 SMP. Lalu PIRLS adalah “Progress in International Reading Literacy Study” dilaksanakan setiap 5 tahun peserta anak kelas 4 SD. Ia berfokus pada kemampuan membaca dan memahami bacaan.
Dari ke-16 negara yang masuk kelompok sangat tinggi adalah Switzerland, Canada, Belgium, Norway, dan Inggris. Lalu masuk kelompok tinggi adalah France, Portugal, Spain, dan USA. Negara-negara ini sedikit berada di bawah Swiss dan Kanada tetapi tetap jauh di atas rata-rata OECD. Kelompok menengah adalah Argentina dan Brazil. Sedangkan golongan “Menengah ke bawah” adalah Mexico, Colombia, dan Morocco. Sedangkan yang masuk golongan rendah literasi (relatif dibandingkan yang lainnya) adalah Egypt dan Paraguay. Artinya apa? Kalau mau lolos babak selanjutnya, ada prasyarat: Negara maju dan berpendidikan tinggi.
P e n u t u p. Mengacu pada lolosnya tuan rumah bersama (Amerika, Kanada, dan Meksiko) ke-16 besar maka bisa menginspirasi keempat negara Asia Tenggara -atau ASEAN- ini untuk memusyawarahkan kemungkinan tuan rumah bersama World Cup. Pengalaman sukses penyelenggaraan Piala Asia AFC tahun 2007 yang dilaksanakan secara bersama oleh Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam, keempat negara tersebut memiliki modal pengalaman, infrastruktur, serta kapasitas koordinasi regional untuk menjajaki kemungkinan mengajukan diri sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia FIFA pada masa mendatang.
Sehingga harapan Presiden Prabowo agar PSSI maju ke piala dunia bisa dengan mengajak negara terdekat untuk menjadi tuan rumah bersama. Tentunya keinginan ini akan menjadi kenyataan bila didukung kekuatan pertumbuhan ekonomi domestik. Dengan ekonomi maju maka anggaran bisa spend ke infrastruktur olahraga seperti stadion dan sarana transportasi.
Ditengarai bahwa ke16 negara yang lolos ke babak ketiga Piala Dunia 2026 bukan hanya sekadar peserta kompetisi olahraga, melainkan juga representasi dari peta ekonomi, dan pendidikan. Sebagian besar dari mereka (lebih dari 50 persen) adalah adalah negara maju dengan indeks pembangunan manusia tinggi.Sementara sisanya adalah negara menengah, dan hanya sedikit (kecil) yang merupakan negara berkembang. Sama sekali tidak ada negara miskin.
Hal ini menunjukkan bahwa sepak bola tetap menjadi panggung inklusif, di mana negara dengan latar belakang ekonomi berbeda dapat bersaing di level tertinggi. Ditinjau dari indikator literasi pendidikan seperti PISA, TIMSS, dan PIRLS, terlihat bahwa negaranegara maju tetap mendominasi dalam kualitas sumber daya manusia. Beberapa negara berkembang yang lolos juga menunjukkan potensi besar untuk mengejar ketertinggalan.
Melihat lolosnya para negara maju di Piala Dunia 2026, maka negara menengah terutama kawasan Asia Tenggara (ASEAN terutama Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Malaysia) bisa meniru langkah mereka. Agar bisa lolos ke putaran Piala Dunia 2032 memerlukan prasyarat pembangunan ekonomi. Intinya diperlukan strategi jangka panjang yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan, lalu penguatan infrastruktur sepak bola dan kualitas sumber daya manusia. Utamanya agar talenta lokal dapat berkembang sejak dini dan siap bersaing di level internasional.
Untuk mendukung peluang negara ASEAN lolos ke Piala Dunia 2032, pertumbuhan ekonomi yang harus dikejar adalah pertumbuhan yang inklusif dan berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Artinya, bukan sekadar mengejar angka GDP, tetapi memastikan distribusi hasil pembangunan merata, terutama pada sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur olahraga. Pertumbuhan yang berbasis pada inovasi, digitalisasi, serta investasi berkelanjutan akan menciptakan ekosistem yang mendukung perkembangan atlet muda.
Dus literasi siswa dan kemampuan matematika menjadi faktor penting dalam membangun generasi yang tangguh, termasuk di bidang olahraga. Indikator seperti PISA, TIMSS, dan PIRLS menunjukkan bahwa negara dengan literasi tinggi cenderung memiliki daya saing global lebih baik. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan dasar dan menengah, khususnya dalam membaca, sains, dan matematika, harus menjadi prioritas. Literasi yang kuat melatih kemampuan berpikir kritis, strategi, dan disiplin -kompetensi yang juga relevan dalam sepak bola modern. Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan peningkatan literasi siswa, negaranegara ASEAN akan memiliki modal besar untuk bersaing di panggung Piala Dunia.

Yuni Andono Achmad SE.ME.,
memiliki IG di andonoachmad


