Selasa, Juli 21, 2026
BerandaHeadlineBuka Pendidikan Bintara Polri, Kapolda Riau: Ingat Doa Orang Tua, Jadilah Bhayangkara...

Buka Pendidikan Bintara Polri, Kapolda Riau: Ingat Doa Orang Tua, Jadilah Bhayangkara Sejati

Kampar (Nadariau.com) – Sebanyak 119 siswa resmi memulai pendidikan pembentukan Bintara Polri Khusus Berkemampuan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Riau, Senin (20/7/2026).

Pembukaan pendidikan ditandai dengan upacara yang dipimpin langsung Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, sebagai bagian dari dimulainya pendidikan serentak bagi 4.799 calon anggota Polri di seluruh Indonesia.

Dalam amanatnya, Kapolda Riau menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta didik yang telah berhasil melewati proses seleksi yang ketat dan memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan pembentukan Polri Tahun Anggaran 2026.

“Mewakili pimpinan Polri, saya mengucapkan selamat kepada seluruh peserta didik yang telah dinyatakan lulus seleksi. Kalian adalah putra-putri terbaik bangsa yang berhasil menyisihkan ribuan pendaftar dan kini memiliki kesempatan mengabdi kepada negara melalui institusi Polri,” kata Irjen Herry.

Ia menjelaskan, pendidikan pembentukan akan berlangsung selama lima bulan dengan total peserta didik sebanyak 4.709 orang, terdiri dari 709 polisi wanita (Polwan) yang mengikuti pendidikan di Sepolwan Lemdiklat Polri dan 4.090 polisi laki-laki yang menjalani pendidikan di 31 SPN Polda di seluruh Indonesia.

Menurutnya, pendidikan ini merupakan program strategis Polri dalam menyiapkan sumber daya manusia yang profesional untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat serta memperkuat pelaksanaan tugas kepolisian di seluruh wilayah Indonesia.

“Pendidikan ini bukan sekadar mengubah status seseorang menjadi anggota Polri, tetapi merupakan proses transformasi pengetahuan, keterampilan, sikap, karakter, mental, dan budaya kerja agar menjadi personel yang benar-benar mahir dan profesional,” tegasnya.

Tahun ini, pendidikan mengusung tema “Membangun Keutamaan Pendidikan Polri Berbasis Moral dan Literasi untuk Mendukung Program Kedaulatan Pangan, Energi, serta Ekonomi yang Produktif dan Inklusif.”

Kapolda menegaskan, tema tersebut mengandung makna bahwa pendidikan Polri tidak hanya membentuk personel yang tangguh secara fisik, tetapi juga memiliki moralitas, integritas, kemampuan berpikir matang, serta mampu menjawab tantangan perkembangan lingkungan strategis.

“Kualitas pendidikan tidak diukur dari kerasnya latihan semata, tetapi dari keberhasilan membentuk personel yang profesional, berintegritas, humanis, dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” katanya.

Irjen Herry juga mengingatkan para siswa bahwa lulusan Bintara berkemampuan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) nantinya akan menjadi garda terdepan dalam melayani masyarakat.

“Masyarakat datang ke kantor polisi dengan berbagai persoalan, ketakutan, dan harapan. Karena itu, kalian harus mampu menerima laporan dengan cepat, berkomunikasi secara santun, memberikan kepastian hukum, pelayanan prima, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia dan prinsip-prinsip demokrasi,” pesan Kapolda.

Kepada seluruh peserta didik, Kapolda memberikan sejumlah pesan penting, di antaranya menjaga kesehatan, menyesuaikan diri dengan kehidupan di lembaga pendidikan, mempersiapkan fisik dan mental, mematuhi seluruh peraturan, menghormati pendidik, menjaga solidaritas, meninggalkan sikap manja dan egois, serta terus menumbuhkan semangat belajar demi mewujudkan cita-cita sebagai Bhayangkara sejati.

Ia juga mengingatkan agar para siswa selalu mengingat perjuangan dan doa orang tua ketika menghadapi berbagai tantangan selama pendidikan.

“Apabila kalian lelah, ingat kembali tujuan kalian datang ke tempat ini. Apabila ingin menyerah, ingatlah doa dan harapan orang tua yang mengiringi langkah kalian. Keringat yang kalian keluarkan hari ini akan menjadi kebanggaan di masa depan,” kata Kapolda Riau.

Di akhir amanatnya, Kapolda Riau memberikan penekanan kepada seluruh tenaga pendidik, instruktur, pengasuh, dan personel SPN agar menyelenggarakan pendidikan secara profesional, tegas, adil, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Ia secara tegas melarang segala bentuk kekerasan, perundungan, penghinaan, maupun tindakan yang merendahkan martabat peserta didik.

“Pendidikan yang keras tidak harus kasar. Latihan yang berat tidak boleh menghilangkan martabat. Ketegasan harus membentuk karakter, bukan menumbuhkan dendam. Jadilah teladan dalam sikap, kedisiplinan, dan integritas karena peserta didik belajar bukan hanya dari materi, tetapi juga dari perilaku para pendidiknya,” kata Irjen Herry.(sony)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer