oleh: Yuniandono Ahmad. GAMBAR Muh Zaki Ubaidillah dari https://bwfworldtour.bwfbadminton.com/news-single SETELAH digdaya banget di Thailand Masters tanggal 27 Januari sampai 01 Februari, tim kita keok di semifinal BATC (Badminton Asian Team Championship) tahun 2026.
Bayangkan bahwa sebelumnya sama sekali tidak dinyana, PBSI menjadi juara umum di turnamen level super 300 di Thailand (melalui raihan juara di sektor tunggal putra, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran). Namun sayangnya seminggu kemudian secara tim/ beregu kita kalah melawan putra Jepang dan putri Korea.
Apa pasal kejayaan (menjadi juara umum) menjadi kekalahan yang mengharu biru hanya dalam seminggu? Mungkin seperti kejadian yang menimpa Icuk Sugiarto -di empatpuluhan yang lampau. Persoalan peak performance -yang telah diperoleh di turnamen sebelumnya. Sehingga sepekan kemudian -telah habis penampilan puncaknya.
Dulu di tahun 1983, Icuk Sugiarto menjadi juara dunia di usia 20 tahun dalam partai all Indonesia final melawan kompatriotnya, Liem Swie King. Final yang disebut “the phantom badminton” itu berlangsung di kota Kopenhagen, Denmark. Harapan begitu tinggi untuk Icuk agar mengulangi kejayaan di level dunia, sehingga hanya selang seminggu diturunkan ke ajang Sea Games di Singapura. Sayangnya Icuk mengalami under perform dan langsung kalah. Medali emas direbut oleh pemain tuan rumah, Wong Shoon Keat.
Saat ini, mungkin demikian pula yang terjadi pada pemain kita. Ganda putra Leo Rolly Carnando/ Bagas Maulana (juara Thailand Masters 2026 atau TM 2026), kemudian Siti Fadia Silva Ramadhanti/ Amallia Cahaya Pratiwi (sama-sama juara TM 2026) serta Raymond Indra/ Nicolaus Joaquin (runner up TM 2026). Dan hampir saja “kutukan” itu terjadi mengarah ke Zaki Ubaidillah (juara TM 2026). Hanya selang seminggu juara di Thailand, kemudian stamina “habis” di stadium gimnastik Qingdao, sebuah kota di Tiongkok.
Pada partai semifinal BATC, ganda Leo/ Bagas kalah melawan ganda non peringkat dari Thailand, pun ganda putra harapan masa depan kita -Raymond/ Joaquin. Khusus untuk ganda Leo/ Bagas kekalahan dialami di penyisihan (melawan pasangan Malaysia), dan perempat final. Saat semifinal, Leo dipasangkan dengan Rian Ardianto, namun kalah melawan pasangan peringkat bawah dari Jepang.
Sedangkan ganda putri Fadia/ Pratiwi kalah melawan ganda Korea yang peringkatnya jauh di bawah, Lee Seo Jin/ Lee Yeon Woo. Sedangkan Zaki Ubaidillah sempat kalah di penyisihan melawan Justin Ho dari Malaysia.
Meski sebenarnya tim kita -baik beregu putra maupun beregu putri- tidak mutlak gagal 100 persen. Bisa tampil di semifinal merupakan prestasi. Terutama tim putri kita. Tim putri mampu menyingkirkan unggulan keempat yaitu Thailand.
Tim putra juga tidak begitu buruk. Mampu juara grup dengan mengandaskan Malaysia, padahal kita ketinggalan 0-2 terlebih dahulu. Untung kekalahan Ubaidillah dan ganda Leo/ bagas bisa ditebus oleh kemenangan Pradishka Bagas Sujiwo, kemudian ganda Raymond/ Joaquin dan pemain veteran Antony Sinisuka Ginting.
Saat opini ini ditulis, beregu putri Korea mengandaskan tuan rumah China dengan 3-0. Korea memang pantas juara, karena menurunkan pemain intinya yaitu An Seo Young dan ganda Baek Ha Na/ Lee So Hee. Sementara tim Tiongkok menurunkan para pemain pelapisnya.
Turnamen sekelas BATC ini memang hanya level antara, dengan tujuan utama adalah piala Thomas Uber Cup (TUC). Negara-negara penguasa bulutangkis memang hampir semua berada di benua Asia. Kecuali Denmark untuk pria, dan tahun ini Perancis sebagai kuda hitam. Untuk putri sepertinya semifinal BATC ini menggambarkan TUC nanti, berkisar di Korea Selatan, Tiongkok, Jepang dan Indonesia, serta barangkali Thailand.
Tentang TUC ini, nanti di bulan April, negara Denmark menjadi tuan rumah. Semoga Denmark menjadi tempat keberuntungan bagi Indonesia. Seperti tahun bahkan era sebelumnya, seperti 1983 dan 2021. Partai final kejuaraan dunia antara Icuk melawan King berlangsung di Denmark. Kemudian tahun 2021, kita menjadi juara Thomas Cup yang ke-14 kalinya, setelah menunggu 19 tahun lamanya.
Sisi positif BATC ini bagi Indonesia adalah ajang unjuk gigi pemain muda, dan evaluasi untuk senior. Pemain senior yang bermain di Qingdao ini adalah Antony Ginting dan Ester Nurumi Tri Wardoyo, serta pasangan Leo Rolly/ Bagas dan Rian Ardianto. Diantara keempatnya, pasangan Leo/ Bagas yang tampak masih terengahengah untuk beregu. Semoga kekalahan mereka itu hanya karena dekatnya waktu bermain, tanpa istirahat dari Thailand ke Tiongkok.
Sisi menggembirakan adalah penampilan pemain yunior seperti Febi Setianingrum/ Rachel Allessya yang mampu menyingkirkan Chiharu Shida/ Arisa Higashino saat tampil di penyisihan grup. Kemudian tunggal putri Ni Kadek Dinda Amartya Putri yang hanya sekali kalah melawan Opatniputh dari Thailand. Tunggal putra kita usia 18 tahun, Mohammad Zaki Ubaidillah, juga tampak melampaui usia karena menang atas pemain senior negara lain. Ubed mampu mengalahkan Kenta Nishimoto dari Jepang, dan Panitchapon Teerarasatkul dari negeri gajah putih selama 2 (dua) kali beruntun dalam sepekan.
Tunggal yunior yang lain juga memberi harapan seperti Prahdiska Bagas Shujiwo (mampu ke perempat final Thailand Masters) dan Richie Duta Richardo yang mampu menanggung beban tim saat kedudukan 2-2. Walaubagaimanapun pencapaian semifinal baik beregu putra maupun putri di BATC 2026 ini sebagai prestasi yang baik. Dua tahun lalu, tim putra tidak mampu ke semifinal. Sedangkan untuk putri, tahun ini harapan kepada tunggal putri yunior menemukan titik cerah. Semoga ada pelapis setelah istirahatnya Gregoria Mariska Tunjung, dan Putri Kusuma Wardani yang “sendirian” di 10 besar dunia.
Kolom/ opini olahraga ini ditulis oleh YUNI ANDONO ACHMAD, S.E., M.E., pemerhati bulutangkis dari Bogor.



