Rabu, Maret 4, 2026
BerandaHeadlineManusia dan Kewajiban Moral Tanpa Batas Menjaga Keberlangsungan Peradaban

Manusia dan Kewajiban Moral Tanpa Batas Menjaga Keberlangsungan Peradaban

Pekanbaru (Nadariau.com) — Filsuf Jerman Immanuel Kant pernah menegaskan bahwa manusia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari alam. Meski dianugerahi rasionalitas yang lebih tinggi dibanding makhluk lainnya, manusia tetaplah bagian dari sistem alam itu sendiri, bukan entitas yang berdiri di luar atau di atasnya.

Kesadaran ini menempatkan manusia bukan sebagai penguasa mutlak alam, melainkan sebagai bagian dari keseluruhan ekosistem yang saling terhubung. Alam bukan objek eksploitasi tanpa batas, melainkan ruang hidup bersama yang menentukan keberlangsungan peradaban manusia.

Pandangan tersebut saya sampaikan dalam diskusi santai bertema Hello Green Movement bersama anak-anak muda Partai Hijau Riau di Hutan Kota Pekanbaru, Minggu (18/1/2026).

Dalam kesempatan itu, saya menekankan pentingnya menekan ego manusia yang selama ini cenderung mengeksploitasi alam demi pemenuhan kebutuhan semata.

Paradigma ini dikenal sebagai homo ecologicus, sebuah antitesis dari pemikiran homo economicus yang telah mendominasi cara pandang manusia selama beberapa dekade terakhir. Homo economicus memposisikan alam hanya sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi demi keuntungan ekonomi.

Padahal, paradigma tersebut tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga memicu krisis spiritual yang mendalam. Manusia menjadi terasing dari alam, padahal alam adalah bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia itu sendiri.

Sebagai bagian dari alam, manusia sejatinya memiliki ecological imperativeskewajiban moral tanpa batas untuk menjaga, melindungi, dan melestarikan lingkungan.

Tidak ada alasan bagi manusia, terutama dalam aktivitas ekonomi dan politik, untuk mengesampingkan perlindungan serta keberlangsungan alam yang lestari.

Manusia hidup berdampingan dengan alam. Satu pohon tidak bisa dipandang sekadar sebagai makhluk hidup lain, melainkan sebagai simbol masa depan umat manusia khususnya bagi Riau dan Indonesia. Nilai itu mungkin tidak langsung terlihat hari ini, tetapi akan sangat menentukan lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Oleh karena itu, manusia harus menanggalkan ego untuk menghabiskan hasil bumi secara berlebihan. Kewajiban moral terhadap alam tidak boleh berhenti sebagai wacana, melainkan harus bertransformasi menjadi kebiasaan yang membentuk karakter.

Karakter mencintai lingkungan tanpa batas merupakan tanggung jawab manusia sebagai makhluk berakal yang mampu hidup selaras dengan alam. Menariknya, nilai ini sejatinya telah lama hidup dalam kearifan lokal masyarakat Riau melalui Tunjuk Ajar Melayu.

Syair dan pantun yang diwariskan secara turun-temurun hampir selalu menempatkan pohon dan alam sebagai simbol kehidupan, kebijaksanaan, dan masa depan.

“Jadilah pohon yang kuat dengan batang yang kokoh untuk tempat bersandar, dahan yang kuat untuk bergantung, serta daun yang lebat untuk berlindung.”
Nilai-nilai inilah yang seharusnya kembali menjadi fondasi dalam membangun peradaban yang berkelanjutan.

Oleh: Kapolda Riau
Irjen Pol. Dr. Herry Heryawan, S.I.K., M.H., M.Hum

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer