KUANSING (NadaRiau.com) – Rabu siang, 7 Januari 2026, atmosfer di area pabrik kelapa sawit PT Sinar Utama Nabati (SUN) mendadak mencekam. Sebuah dentuman hebat memecah kebisingan mesin, menyisakan debu dan kepanikan. Di titik ledakan, sebuah tabung perebusan Tandan Kosong (Jangkos) telah hancur, meninggalkan pemandangan mengerikan: Rido (34) tewas seketika, tertimbun di bawah tumpukan limbah janjangan yang tengah diproses.
Kematian Rido bukan sekadar statistik kecelakaan kerja biasa. Ada luka yang lebih dalam di balik tragedi ini—sebuah dugaan kelalaian yang berujung maut. Informasi yang dihimpun dari warga setempat menyebutkan bahwa tabung yang meledak itu sebenarnya sudah memberikan tanda-tanda kerusakan.
“Tabung itu bocor. Rekannya bercerita bahwa Rido sudah melaporkan kondisi itu ke manajemen,” bisik seorang warga dengan nada getir. Namun, laporan itu kabarnya hanya dibalas dengan penilaian dingin: “Masih layak.” Keputusan itu kini terbukti salah besar, dan harganya adalah nyawa seorang pekerja.
Namun, pasca-insiden yang merenggut nyawa pemuda tersebut, manajemen PT SUN seolah membangun benteng tinggi. Upaya konfirmasi yang dilayangkan awak media menemui jalan buntu. Sukiman selaku Manajer, Fernando dari staf SSL, hingga Dedi sang KTU, mendadak kehilangan suara. Pesan WhatsApp yang terkirim hanya menyisakan centang biru tanpa jawaban, dan panggilan telepon pun tak pernah diangkat.
Sikap tertutup ini memicu spekulasi liar di tengah masyarakat. Ada aroma kuat bahwa perusahaan yang kini dioperasikan di bawah bendera PT YBS tersebut tengah berupaya menutupi jejak kelalaian mereka. Padahal, UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 dan PP No. 35 Tahun 2021 telah mengatur dengan tegas bahwa keselamatan pekerja adalah harga mati, dan setiap pelanggaran memiliki konsekuensi hukum yang berat.
Hingga hari ini, keheningan di kantor manajemen PT SUN kontras dengan duka yang menyelimuti keluarga korban. Publik kini menanti, apakah kebenaran akan ikut terkubur bersama tumpukan jangkos, ataukah hukum akan menyeret mereka yang abai terhadap nyawa manusia ke meja hijau?
Satu hal yang pasti, Rido telah tiada. Ia pergi meninggalkan peringatan tentang tabung bocor yang selamanya akan menghantui dinding-dinding pabrik itu.(DONI)


