Rabu, Maret 18, 2026
BerandaHeadlineSiswa Meninggal Diduga Karena Dibully, Sekolah Bantah Ada Kekerasan

Siswa Meninggal Diduga Karena Dibully, Sekolah Bantah Ada Kekerasan

Pekanbaru (Nadariau.com) — Dugaan kasus perundungan di SD Negeri 108 Tangkerang Labuai, Pekanbaru, berujung tragis. Seorang siswa bernama Muhammad Abdul Rohid (9) meninggal dunia pada Minggu (16/11/2025).

Keluarga melalui kuasa hukumnya, Suroto, menyebut kematian anak kelas 6 itu terkait tindak kekerasan fisik yang diduga dilakukan oleh sesama siswa.

Menurut penuturan Suroto, peristiwa berawal pada Kamis, 13 November 2025. Sepulang sekolah, korban menangis dan menolak kembali ke sekolah, namun tak memberi penjelasan.

Keesokan harinya, Jumat siang, kondisi korban mendadak memburuk—ia mengalami kelumpuhan. Dalam keadaan lemah, barulah korban mengaku bahwa kepalanya ditendang oleh seorang murid berinisial FP saat kegiatan belajar kelompok di kelas.

Aksi kekerasan itu disebut disaksikan seorang teman, AK, yang bahkan sudah melaporkannya kepada wali kelas. Namun laporan tersebut diklaim tidak mendapat tindak lanjut dari pihak sekolah.

Melihat kondisi korban melemah, keluarga membawanya ke pengobatan alternatif, sebelum diarahkan menuju puskesmas. Namun upaya mendapat layanan medis terhenti karena fasilitas kesehatan tutup pada hari Sabtu. Korban akhirnya dirawat di rumah hingga menghembuskan napas terakhir pada Minggu.

Kuasa hukum keluarga juga mengungkap bahwa almarhum pernah menjadi korban kekerasan sebelumnya.

“Pada pertengahan Oktober 2025, korban dipukul murid berinisial SM hingga mengalami luka di dada dan harus dirawat satu minggu di rumah sakit,” ungkap Suroto.

Saat itu pihak sekolah memang mempertemukan kedua orang tua, tetapi keluarga korban menilai penyelesaiannya tidak tuntas. Bahkan, Suroto menyebut terdapat laporan dari wali murid lain bahwa kekerasan antarsiswa cukup sering terjadi di sekolah tersebut.

Kepala SDN 108 Tangkerang Labuai, Artina, menegaskan bahwa tidak ada praktik perundungan di lingkungan sekolah.

“Almarhum itu anak yang baik, pendiam, dan agak lemah dalam belajar. Tidak ada bullying di sekolah kami, semua berada dalam pengawasan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pihak sekolah rutin memberikan edukasi anti perundungan kepada siswa dan baru mengetahui kabar meninggalnya murid tersebut belum lama ini.

Meski demikian, Artina menyampaikan pihak sekolah akan meningkatkan pengawasan.

“Supaya tidak ada lagi bullying, pengawasan akan kami perketat. Kami tidak ingin kejadian seperti ini terulang,” kata Artina.

Sementara, Kuasa hukum korban Suroto mengatakan hingga kini keluarga masih mempertimbangkan kemungkinan menempuh jalur hukum, termasuk opsi autopsi untuk memastikan penyebab kematian.

“Jika masuk proses hukum, harus otopsi dan makam dibongkar. Keluarga belum sanggup, mereka masih menunggu itikad baik dari sekolah, orang tua pelaku, dan pihak terkait,” kata Suroto.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Dinas Pendidikan Pekanbaru maupun pihak kepolisian terkait tindak lanjut kasus ini.(sony)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer