Kamis, Februari 12, 2026
BerandaHeadlineDipimpin Brigjen Jossy, Satgas Tindak PETI Bakar 4 Rakit di Kuantan Tengah

Dipimpin Brigjen Jossy, Satgas Tindak PETI Bakar 4 Rakit di Kuantan Tengah

Kuansing (Nadariau.com) – Asap mengepul dari lahan sawit di Pintu Gobang Kari, Kecamatan Kuantan Tengah, Kamis (31/07/2025) siang.

Empat rakit penambangan emas tanpa izin (PETI) dibakar Satgas Tindak PETI Polda Riau. Aksi ini bukan sekadar penertiban ini pernyataan perang terhadap perusak lingkungan.

Dipimpin langsung Wakapolda Riau Brigjen Jossy Kusumo, operasi besar-besaran ini digelar hanya beberapa jam setelah apel gelar pasukan.

Sebanyak 52 personel gabungan menyisir lokasi yang dikenal rawan PETI.

Hasilnya 4 rakit dihancurkan, mesin pompa, gulungan selang, dulang emas, drum plastik, hingga karpet cacing disita. Namun, pelaku sudah lebih dulu kabur.

Dalam penindakan tersebut, Wakapolda Riau hadir bersama para pejabat Utama diantaranya Dirreskrimsus Kombes Ade Kuncoro, Dansat Brimob Kombes I Ketut Gede Adi Wibawa, Kabid Propam Kombes Harissandi, Dirsamapta Kombes Syahrial M Said, serta Kapolres Kuansing Kombes Raden Ricky Pratidiningrat. Kehadiran mereka menegaskan ini bukan operasi biasa.

“Penegakan hukum harus berpihak pada kelestarian alam. Ini pendekatan Green Policing, bukan sekadar razia,” kata Wakapolda Riau Brigjen Jossy Kusumo.

Ia juga menyebut koordinasi lintas provinsi telah dilakukan, karena aliran Sungai Kuantan berhulu di wilayah Sumatera Barat.

“Kerusakan lingkungan tak kenal batas administratif. Citra Riau bisa tercoreng hanya karena satu unggahan di media sosial,” kata Brigjen Jossy. .

Sebelumnya, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan juga menyampaikan bahwa operasi ini dilaksanakan sebagai bagian dari pendekatan Green Policing, yaitu penegakan hukum yang berpihak pada kelestarian alam dan kesadaran kolektif.

Polda Riau juga telah berkoordinasi dengan Polda Sumatera Barat dalam penindakan ini, yang mana Sungai Kuantan ini hulunya ada di wilayah Sumbar.

“Karena dampak kerusakan lingkungan ini lintas batas. Persepsi publik bisa terbentuk hanya dari satu unggahan media sosial, dan itu bisa berdampak pada citra seluruh masyarakat Riau,” tegas Kapolda.

Sementara itu, Gubernur Riau Abdul Wahid menegaskan, tidak ada lagi ruang kompromi bagi aktivitas tambang ilegal yang merusak sungai dan lingkungan, khususnya menjelang perhelatan nasional Festival Pacu Jalur di Kuansing.

“Saya, bersama Bapak Kapolda, Bupati, Danrem, dan Kajati, sepakat bahwa tidak ada lagi toleransi terhadap aktivitas-aktivitas yang merusak, terutama di wilayah sungai. Sungai adalah sumber air, sumber budaya, dan bagian dari marwah kita,” ujar Abdul Wahid di Teluk Kuantan.

Ia juga menegaskan, Pemprov Riau saat ini sedang menyiapkan penerbitan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) melalui Dinas ESDM sebagai solusi legal bagi masyarakat agar tetap dapat beraktivitas secara sah dan berkelanjutan.

“Kami tidak ingin masyarakat hanya ditertibkan, tapi juga harus diberikan alternatif ekonomi yang legal, aman, dan produktif,” lanjut Gubernur Wahid.(sony)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer