GUNAWAN Sumodiningrat, guru besar emeritus Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM (Yogyakarta) menyampaikan hal tersebut di sela-sela acara bedah buku “Tonggak-tonggak Orde Baru” karya Bambang Wiwoho -seorang wartawan senior eks wartawan Istana- hari Kamis Wage (15/08) di Jakarta. Gunawan Sumodiningrat mengatakan bahwa dari sekian keberhasilan pemerintahan Jokowi selama 10 tahun, ada 1 (satu) hal yang ditinggalkan, yaitu aspek pemberdayaan masyarakat (empowerment).
Meski demikian, Gunawan menyatakan bahwa pembangunan di negara manapun dan masa kapanpun memang tidak mungkin akan berhasil 100 persen menyejahterakan warganya. Gunawan Sumo mengakui pada aspek penanggulangan kemiskinan melalui pembangunan infrastruktur desa, era presiden Jokowi patut diacungi jempol.
Gunawan berharap untuk periode pemerintahan di bawah presiden Prabowo Subianto dengan wakil presiden Gibran Rakabuming Raka, agar untuk tetap konsisten menjalankan UUD 1945. Sesuai visi misi pasangan ini yang tercantum dalam kampanyenya, yaitu asta cita.
“Kemiskinan memang menurun di era pak Joko Widodo. Namun itu dilakukan dengan top down yakni pelibatan masif aparat pemerintah desa. Sementara pembangunan dari oleh untuk masyarakat, atau pembangunan yang melibatkan akar rumput, banyak ditanggalkan. Padahal impact-nya lebih sustain kalau pembangunan itu bersifat partisipatif,“ imbuh Gunawan, alumni SMA 1 Surakarta ini.
Namun Gunawan Sumo yakin duet pak Prabowo mas Gibran nanti mampu membawa Republik ini ke arah yang lebih baik. “Saya percaya komitmen jenderal (Purn.) Prabowo -karena saya mengenal betul beliau sejak menjabat sebagai Danjen Kopassus. Waktu itu ada kerjasama Kopassus dengan kami selaku pimpinan proyek program Inpres Desa Tertinggal (IDT) dalam rangka melatih 2000 sarjana pendamping purna waktu (SPPW) yang sebagian besar merupakan alumni penerima beasiswa Supersemar”, tambah guru besar emeritus Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan dari FEB Gadjah Mada ini.
“Saya bertemu pak Prabowo di tempat latihan, di daerah Cilodong. Beliau instruktur utama, saya pas waktu itu jadi pimpro IDT” imbuhnya. Gunawan mengenang masa-masa penyempurnaan program anti kemiskinan era Orba lanjut ke era reformasi dulu. Dari program IDT (inpres desa tertinggal), kemudian berlanjut menjadi P3DT, disempurnakan lagi menjadi PPK, tambah dengan P2KP, yang kemudian dikolaborasikan kesemua program tahun 2007 menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat atau PNPM di era Presiden SBY dengan Jusuf Kalla.
“Namun sayangnya pada periode pemerintahan presiden Jokowi ini Undang-undang Desa tidak disambungkan dengan PNPM. Maka pemerintahan selanjutnya perlu melanjutkan alur dari PNPM untuk masuk ke dalam UU Desa dan menyempurnakannya”, tegas pria kelahiran Sala, 15 Agustus 1950 ini.
Sembari memamerkan hasil kajian dengan landasan teori “central limit theorem”, Gunawan menyatakan bahwa syarat kesuksesan Prabowo nanti adalah “menghubungkan” Undang-undang Desa dengan PNPM. Pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka harus konsisten untuk kembali ke UU Dasar 1945 pada bagian Pembukaan alinea keempat, dengan melanjutkan alur dari PNPM untuk masuk ke dalam UU Desa dan semakin serta makin menyempurnakannya, lanjut peraih S3 dari University of Minnesota tahun 1980 ini.
dr Hariman Siregar (kiri, baju putih) menyampaikan sambutan pada peluncuran buku, didampingi Prof Gunawan Sumo sebagai moderator.
“Kalau bisa menyatu antara PNPM dengan UU nomor 6 tahun 2014 maka saya yakin pemerintahan pak Prabowo nanti bisa membangun dari desa dengan ekonomi kreatif,” tambahnya. Penulis buku “Ekonometrika Pengantar” ini mengakui bahwa memang banyak kemajuan yang dicapai rejim Jokowi selama 10 tahun. Menurutnya, Ir Joko Widodo sedang menanamkan landasan pembangunan yang lebih berorientasi kepada infrastruktur, kemudian pada pembangunan lingkup data makro serta perbaikan birokrasi sampai level camat.
Tetapi kelemahannya belum sampai ke akar rumput. Aspek pemberdayaan masyarakat memang tampak diabaikan sejak era reformasi, yang memuncak di era Jokowi. Selama 26 tahun reformasi semua rejim tidak mengarah pada pemberdayaan masyarakat karena berpedoman pada pasar bebas. Itulah tantangan Presiden kedelapan nanti.
Selain itu pak Gun -nama sapaan beliau- belum menyentuh keterlibatan masyarakat dalam badan usaha milik desa (BUM Desa). “Hla Bumdesa kok malah hanya perkuatan pemerintahan -bukan pada penguatan masyarakat. Pemerintahan baru perlu menata kembali pembangunan desa, terutama pasal 1-6 UU Desa yang harus lebih diutamakan daripada pasal lain. Sudah saatnya pemerintah itu menata kembali pembangunan yang benar”, imbuh mantan asisten Prof Mubyarto (almarhum) dan yunior dari Dr Boediono (mantan Wapres) ini.
Kelemahan dalam penerapan UU Desa adalah banyaknya aparat yang tidak paham hakikat pembangunan yang sejati. Dengan memperhatikan hukum “supply and demand”, siapa yang menanam, dia akan memetik hasilnya.
Peluncuran Buku Trilogi
Terkait buku karya senior beliau yaitu pak Bambang Wiwoho, Prof Gunawan menyatakan bahwa 32 tahun era Orde Baru -banyak yang bisa dipetik hikmahnya. Terutama perencanaan pembangunan dengan mekanisme GBHN (Garis garis Besar Haluan Negara) patut untuk ditiru dan diteruskan serta dilanjutkan.
Selain dihadiri oleh Prof Gunawan Sumodiningrat, juga tuan rumah bapak Bambang Wiwoho yang membawa istri dan anaknya -yakni Aditya Wiwoho (alumni program diploma FEB UGM angkatan 1996) dan Wahyu Wiwoho jurnalis dari metro TV. Acara yang bertempat di Resto Omah Pawon, jalan Ampera Raya nomor 2 (dua), Jakarta Selatan ini juga dihadiri oleh dr Hariman Siregar (aktivis Malari), Parni Hadi (eks Republika), Luluk Sumiarso (mantan SKK Migas), Iyuk Wahyudin (mantan direksi PNM), Rizang Wrihatnolo (Perencana Utama Bappenas), Dr Roberto Akyuwen (OJK Jakarta), dan Guntur Mahardika (mantan staf khusus Wapres).
Turut hadir dan memberi sambutan adalah mantan KASAU Imam Sufaat, mantan Wagub DKI Mayjen TNI (Purn) Priyanto, dosen senior Universitas Paramadina Dr Herdi Sahrasad, Wakil Pemimpin dosen senior FH-UI Jack Yanda Zaihifni Ishak PhD, mantan Dirjen Perdagangan Joko Mulyono, dosen Universitas Paramadina Dr Herdi Sahrasad, Wakil Pemimpin Umum Kompas-Gramedia Tri Agung Kristanto, mantan Dirut Pertamina Martiono, serta Yasso Winarto mantan Pemred Bisnis Indonesia.
‘’Kita musti melihat sejarah masa lalu untuk bergerak maju ke depan, kita ingin Indonesia yang lebih baik, sejahtera dan maju,’’ kata Hariman Siregar dalam sambutan peluncuran buku tersebut. ‘’Buku ini, saya kira, mendorong kita untuk memperkuat keindonesiaan menghadapi masa depan,’’ imbuhnya.
”Buku ini akan saya baca dan saya pakai sebagai buku rujukan mengajar politik Orde Baru, selain buku Donnald Emmerson, Benedict Anderson, Merle Ricklef, William Liddle, Daniel Lev, Herb Feith, Fachry Ali, dan lain sebagainya,” kata Herdi Sahrasad, penulis buku: Prabowo the Rising Star.
Bambang Wiwoho menjelaskan, ‘’Tonggak-Tonggak Orde Baru: Jatuh Bangun Strategi Pembangunan’’ memang mengangkat hal-hal yang perlu kita cermati dan refleksikan bersama untuk membangun keindonesiaan modern menghadapi masa depan.
bapak B. Wiwoho penulis trilogi buku: Tonggak-tonggak Orde Baru (Jatuh Bangun Strategi Pembangunan).
penulis: Y.A.A.
tambahan sumber berita: https://jakartasatu.com/2024/08/15/peluncuran-buku-b-wiwoho


