Pekanbaru (Nadariau.com) – Habitat gajah Sumatera di Provinsi Riau semakin hari semakin menyempit. Hal ini disebabkan maraknya pembukaan kawasan hutan untuk lahan perkebunan, pembangunan jalan tol serta kegiatan lain. Akibatnya, konflik antara manusia dengan gajah pun tidak bisa dihindari.

Salah satunya yang terbaru, seekor gajah Sumatera (elephas maximus sumatrensis) liar bernama Codet melintas di ruas Jalan Tol Pekanbaru-Dumai kilometer 81 beberapa waktu lalu. Selain itu sekelompok gajah liar juga sering masuk dan menyerang pemukiman warga.
Tercatat, sepanjang 2021-2023, terdapat 178 konflik antara gajah dan manusia yang diakibatkan terus berkurangnya habitat mamalia darat terbesar tersebut.
Jumlah konflik gajah dan manusia ini bukan tidak mungkin bakal terus bertambah jika tidak dilakukan tindakan yang bersifat antisipatif dan preventif.
Guna mengantisipasi semua itu PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) bersama Yayasan Rimba Satwa Foundation (RSF) menginisiasi program agroforestri dengan membentuk Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya dengan menanam lebih dari 32.500 pohon yang bernilai ekonomi tinggi namun rendah gangguan gajah, seperti alpukat, durian, petai, jengkol, matoa dan kakao, di area perlintasan gajah seluas 225 hektar.

Program ini bertujuan untuk merekayasa jalur lintasan gajah liar dan juga mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan ekonomi masyarakat, serta pemulihan fungsi hutan, sebagai habitat satwa dan pengurangan potensi konflik gajah dan manusia di lansekap koridor Suaka Margasatwa (SM) Balairaja dan SM Giam Siak Kecil, Riau.

Solfarina selaku Manager Education Program RSF mengatakan, Program Agroforestri merupakan kemitraan PT Pertamina Hulu Rokan dan Rimba Satwa Foundation (RSF), yang didukung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), SKK Migas, BBKSDA Riau, dan Pemerintah Provinsi Riau.
“Tujuan utama dari Program Agroforestri ini untuk memitigasi konflik gajah dengan manusia dimana kita terlebih dahulu melakukan riset mencari tahu tanaman-tanaman apa saja yang tidak disukai oleh gajah liar tapi memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat diantaranya, alpukat, durian, petai, jengkol, matoa serta kakao,” kata Solfarina.
Kemudian, lanjut Solfarina, Kelompok Tani Hutan menanam tumbuhan tersebut di daerah pemukiman warga yang sebelumnya merupakan jalur lintasan gajah liar.
“Hal ini dilakukan guna mencegah masuknya gajah liar ke pemukiman warga serta daerah-daerah yang telah dibangun jalan tol dan sebagainya,” kata Solfarina.
Untuk membuat jalur lintasan baru, lanjutnya, mereka juga melakukan rehabilitasi habitat dengan menambah volume tumbuhan yang menjadi pakan gajah. Mereka menggarap budidaya rumput Odot (Pennisetum purpureum) yang disukai gajah. Rumput tersebut dipelihara di pekarangan rumah-rumah warga.
Saat ukurannya cukup besar, rumput-rumput itu kemudian ditanam kembali di koridor jalur gajah, tepi sungai, atau batas-batas kebun masyarakat.
Tujuannya agar gajah tetap berada di jalurnya dan mendapatkan sumber makanan. Dengan cara ini, permukiman dan kebun warga tetap aman dari gajah, dan mereka dapat hidup berdampingan.
“Program ini sangat membantu dalam mengatasi interaksi negatif dengan gajah, sehingga konflik antara gajah dan manusia mengecil,” kata Solfarina.
Selain agroforestri, lanjut Solfarina, KTH Alam Pusaka Jaya juga mengembangkan peternakan kambing bantuan dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Bantuan berupa indukan kambing dari perusahaan migas ini telah berkembang pesat.
“Untuk agroforestrinya saat ini belum membuahkan hasil dari sisi ekonomi, tapi konflik gajah-manusia mengecil. Kami saat ini juga fokus pada peternakan kambing yang dibantu PHR. Awalnya bantuan berupa indukan kambing 13 ekor (9 betina dan 3 jantan), sekarang alhamdulilah sudah 23 ekor, sangat bagus pertumbuhannya, dan kesehatannya kita pantau terus. Kami bahkan bisa berkurban dua ekor kambing tahun ini,” kata Solfarina.
Solfarina menambahkan, berkat program-program tersebut konflik antara manusia dan satwa liar dapat diselesaikan. Berdasarkan data RSF sepanjang 2021-2023, terdapat 178 konflik antara gajah dan manusia dan 156 diantaranya dapat ditangani dengan baik berkat program agroforestri ini.
Selain itu, untuk memantau aktifitas gajah liar tersebut, Lanjut Solfarina, para induk gajah telah dipasangi GPS collar. Berkat dari alat ini kelompok-kelompok gajah liar di Riau kini dapat dipantau secara real fime melalui sistem navigasi berbasis satelit (GPS) berkat lima unit kalung GPS (GPS collar) yang dipasang pada pemimpin kelompok gajah.
“Kalung GPS ini berfungsi untuk memonitor pergerakan dan memberikan data lokasi keberadaan kelompok gajah, sehingga potensi konflik gajah dan manusia dapat dimitigasi lebih dini,” kata Solfarina.
Solfarina menjelaskan, berdirinya RSF berawal dari kelompok pencinta alam yang mengadakan kegiatan PLDCA anggota baru. Dalam kegiatan tersebut kelompoknya menemukan seekor gajah sakit. Kaki gajah tersebut buntung serta di bagian perutnya mengalami luka cukup serius.
“Melihat hal itu kita merasa kasihan dan tergerak untuk membuat yayasan yang berbadan hukum dan pada tahun 2016 resmi berdiri Rimba Satwa Foundation (RSF) ini yayasan yang bertujuan untuk melestarikan habitat gajah yang ada di Riau ini,” kata Solfarina.
“Dari situ kita mulai membentuk program-program kecil dari restorasi penanaman pisang untuk pakan gajah hingga akhirnya mendapat dukungan dari pihak PHR seperti saat ini,” lanjut Solfarina.

Sementara, Zara Azizah, Sr. Analyst Social Perfomance Support PHR mengatakan bahwa PT Pertamina Hulu Rokan terus konsisten dalam upaya penyelamatan, pembinaan habitat dan pemantauan populasi gajah Sumatera.
Salah satunya pengembangan program agroforestri ini, bukan hanya itu PHR saat ini juga fokus mengembangkan program konservasi multi spesies.
“Jadi kalau agroforestri ini hanya sebatas pada penanaman tanaman yang disukai gajah saja, tapi secara keseluruhan program konservasi multi spesies ini kita bantu, contohnya, agroforestri pembinaan habitat, penggaraman gajah, monitoring, patroli serta pemasangan GPS collar. Semua itu merupakan bantuan di PHR bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau,” ujar Zara Azizah.
Setiap tahunnya, sambung Zara, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), bersama Rimba Satwa Foundation (RSF) selalu merencanakan kegiatan konservasi multi spesies dan ditandatangani melalui kontrak swakelola.
“Dan nilainya selalu berbeda setiap tahunya tergantung kebutuhan, di samping itu PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan RSF, terus konsisten dalam upaya penyelamatan, pembinaan habitat dan pemantauan populasi gajah Sumatra,” kata Zara Azizah.
Zara Azizah menjelaskan bahwa upaya-upaya konkret tersebut merupakan implementasi dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). PHR bekerja sama dengan BBKSDA Riau dan RSF terus berupaya melindungi dan melestarikan gajah dan habitatnya.
“Gajah adalah hewan yang penting bagi ekosistem, dan mereka memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan alam,” kata Zara Azizah.
Zara Azizah menambahkan, strategi untuk mewujudkan konservasi gajah yang telah dilakukan seperti pemanfaatan teknologi dengan pemasangan GPS Collar, penguatan sinergi pengembangan masyarakat untuk edukasi, pengembangan habitat dan koridor untuk gajah, serta pertanian agroforestri.

Secara umum, program agroforestri ini berupa pengembangan sistem tanaman di lahan-lahan masyarakat yang kerap berkonflik dengan gajah. Masyarakat yang lahannya berada di home-range dan perlintasan gajah dilibatkan, dengan menanam berbagai jenis tanaman yang rendah gangguan dari gajah, namun bernilai ekonomi tinggi.
“Inisiatif program agroforestri ini memiliki manfaat yang multi dimensi. Selain mendukung pengurangan jejak karbon melalui penanaman pohon, menjaga keanekaragaman hayati, memberdayakan ekonomi masyarakat, juga memperbesar ruang di mana gajah dapat diterima oleh masyarakat. Dengan demikian ruang-ruang yang berpotensi konflik akan mengecil,” kata Zara Azizah.(sony)


