GAMBAR:
Pasangan Leo Rolly Carnando/ Daniel Marthin hanya sempat bermain sekali saat putaran piala Thomas 2024 di Cheng Du, Tiongkok. Sumber gambar: ANTARA
TIM beregu Thomas dan Uber Indonesia ke final. Asa terkuak, berharap Thomas Uber bisa bersanding di bumi pertiwi. Memang piala Thomas dan piala Uber akhirnya bersanding. Tapi bersanding di negeri Tiongkok. Kejadiannya mirip-mirip dengan tahun 1986 ketika Istora Senayan (Jakarta) menjadi tuan rumah. Hari pertama final Uber antara tuan rumah Indonesia melawan Tiongkok, hasilnya 2-3 dengan tim China memimpin 3-0 terlebih dahulu dari sektor tunggal putri. Sehabis tunggal, sektor ganda dua-duanya dimenangkan Indonesia, salahsatunya melalui pasangan “maxi mini” yaitu Verawaty Fajrin dan Yantie Kusmiati.
Hari berikutnya asa membumbung karena tim Thomas 1986 Indonesia lebih diunggulkan. Tunggal pertama mereka, Han Jian, sering kalah sama Icuk Sugiarto sebagai pemain pertama PBSI. lalu ada Liem Swie King yang masih yahud meski usia 30 tahun, yang ditandai dengan kegemilangan pada partai grup dan semifinal. Masih ada pemain ganda gaek yang hampir pasti menyumbang skor yaitu Christian Hadinata/ Hadibowo.
Tapi yang mengejutkan, manajer tim Tiongkok, Hou Jiachang, mengacak kompoisisi pemain. Yang Yang sebagai tunggal ketiga -menjadi tunggal pertama. Tunggal ketiga adalah seorang pemain yang tidak terkenal saat itu, usia masih 23 tahun, yakni Xiong Guobao. Xiong dilawankan dengan sang legend dari Kudus, “King Smash” atau Liem Swie King.
Dari komposisi pemain Tiongkok saat itu -yakni Yang Yang, Ding Qiqing, dan Guobao- sepertinya hanya mencoba mendapat poin pertama. Karena Icuk memang belum pernah menang atas Yang yang. Langkah penuh risiko dari manajer Hou Jiachang -tim Cina bisa kehilangan dua poin tunggal.
Icuk kalah rubber game. Pada tunggal kedua, Lius Pongoh mengalahkan Ding Qiqing, skor 1-1. Apesnya pada tunggal ketiga, kita buta kekuatan lawan. Sementara lawan sangat mengenal permainan Liem Swie King. King kalah, dan musti main lagi pada partai kelima -duet dengan Bobby Ertanto. King dua kali main, dan dua-duanya kalah.
Yang bisa dipelajari dari langkah China pada final 1986 adalah keberanian menempuh risiko, dengan cara menyimpan tunggal pertama (Han Jian) dan menaikkan tunggal kedua sampai tunggal keempat. Sementara tim kita di final Thomas Cup 2024 ini sepertinya berprinsip ”Don’t change a winning team”. Komposisi pemain kita tetap: Antony Ginting, Fajar/ Rian, Jonathan Christie, Bagas/ Fikri, dan Chico AD Wardoyo. Pemilihan Jojo untuk tetap di tunggal kedua bisa jadi tepat. Namun kita kehilangan dua angka di ganda putra.
Mungkin banyak netizen yang menyayangkan. Mengapa Bagas/ Fikri yang dipasang sebagai tunggal kedua, kok bukan Leo Carnando/ Daniel Martin. Atau mengapa tidak dilanjut pasangan Fajar Alfian /Daniel. Saat kita mengalahkan Korea 3-1, PBSI menurunkan pasangan dadakan Fajar/ Martin dan berhasil mengalahkan Kim Won Hoo/ Ki Dong Ju dengan straight set. Padahal di babak penyisihan grup, pasangan Korea si Kim/Dong Ju ini secara mengejutkan mengalahkan ganda gaek Tiongkok, Liu Yu Chen/ Ou Xuan Yi.
Tapi memang just like the saying goes: Nasi telah menjadi bubur. Kalau kata pepatah Latin “Ovum non potes revocare” atau kata orang Barat “You can’t unscramble eggs” (Anda tidak bisa mengembalikan telur yang sudah diaduk).
Jadi teringat kisah kekalahan tim kita pada final Thomas Cup tahun 1992 saat dipecundangi tuan rumah Malaysia. Lebih tepatnya ke pernyataan Mangombar Ferdinand Siregar saat itu.
Sempat terjadi perdebatan saat itu, siapa yang akan dipasang menjadi tunggal kedua, apakah Alan Budi Kusuma atau Hermawan Susanto. Hasil diskusi tim tetap memasang Alan BK sebagai tunggal kedua. Sayangnya pada pertandingan final Malaysia versus Indonesia tersebut Alan BK mengalami antiklimaks. Riuh rendah dan gempita penonton di Stadium Negara Kuala Lumpur telah meluluhlantakkan ketrampilannya. Alan BK nervous dan tumbang di tangan Foo Kok Keong yang peringkatnya lebih rendah.
Ketika diwawancara wartawan seusai pertandingan final tersebut, MF Siregar sempat menyeritakan kegalauannya. Mengapa bukan Hermawan Susanto saja yang dipasang, pikir dia. Tapi beberapa saat kemudian, MF Siregar menyatakan bahwa Hermawan Susanto -atau Aim panggilannya- bisa saja kalah. Namun kemudian beliau sedikit mengkoreksi, siapa tahu si Aim akan bermain lebih bersemangat dan pantang menyerah.
Tahun 1992 di partai pertama Ardy Bernardus Wiranata kalah melawan Rashid Sidek dengan rubber game. Akan tetapi publik tidak marah karena Ardy bermain dengan daya juang tinggi. Partai kedua Edy Hartono/ Rudy Gunawan menang secara heroik melawan Razif/ Jalani Sidek. Begitu partai ketiga, masyarakat republik berharap banyak karena peringkat Alan BK yang lebih baik. Namun sayang, Alan mengalami demam panggung.
Sekali lagi “Ovum non potes revocare” mending kita move on dan menatap kejuaraan dalam waktu dekat: Olimpiade Paris. Belajar dari kasus Alan di tahun 92 tersebut. Saat Alan BK menjadi zero di final piala Thomas, kemudian menjadi hero Ketika merebut emas tunggal putra Olimpiade Barcelona.
Tim Uber bisa juga memetik pelajaran untuk menatap rangkaian turnamen ke depan. Terakhir PBSI ke final Uber adalah di tahun 2008 saat menjadi tuan rumah. Ketika itu Greysia Polii masih terlihat “unyu-unyu” usia 20 tahun namun menjadi anggota tim Uber kita. Tiga belas tahun kemudian -tepatnya di Olimpiade Tokyo 2020- si Polii berpasangan dengan Apriyani Rahayu meraih emas ganda putri. Semoga kita masih bisa sabar menunggu.
Siapa tahu 12 tahun lagi tunggal kita Ester Nurumi Tri Wardoyo, atau pemain ganda seperti Rachel Rose, Lanny Tria, dan/ atau Meylisa Trias Puspitasari bakalan bersinar lebih terang.
artikel ini ditulis oleh Yuniandono Achmad, S.E.,M.E., pengamat olahraga yang tinggal di Bogor


