Rabu, Juni 19, 2024
BerandaHeadlineAdanya Masyarakat CINDO (Cina-Indonesia) di Minangkabau

Adanya Masyarakat CINDO (Cina-Indonesia) di Minangkabau

Penulis : Sri Handayani
Mahasiswi Sastra Minangkabau Universitas Andalas

Dewasa ini semakin menyebarnya penduduk asal cina di Indoesia yang beranak pinak. Seseorang anak yang lahir disebut CINDO (Cina-Indonesia). Orang minang juga banyak yang menikah dengan orang Cina. Bahkan orang Cina ini memiliki kampung tersendiri di daerah minang salah satunya di Bukittinggi yang disebut Kampuang Cino.

Pada zaman sekarang ini banyak remaja-remaja yang dilahirkan itu orang tuanya terdapat berbeda negara sehingga anak tersebut disebut blasteran istilahnya. Hal ini terjadi karena orang tua mereka menikah dengan orang luar negri, tidak menutup kemungkinan wajah yang asli indonesia ini akan pudar. Sebenarnya hal ini sudah terjadi sejak dulu.

Pernikahan antar penduduk asli dengan penduduk asing yang menyebabkan anak yang dilahirkan menjadi blasteran. Blasteran ialah seorang anak yang terlahir tidak seperti penduduk asli terjadinya perubahan atau penambahan fisik pada anak dari penduduk asli.

Orang Minang asli menikah dengan orang Cina maka percampuran bentuk fisik akan terjadi seperti mata anaknya sipit yang seharusnya mata penduduk asli kita belo, yang kulitnya sawo matang menjadi putih bening.
Pengaruh yang baiknya juga terjadi pada dunia medis yaitu obat-obatan dari Cina yang diperkenalkan kepada kita masyarakat pribumi.

Salah satunya yaitu adanya obat luka dari Cina dengan memakai obat luka yang berbentuk cairan dapat menyembuhkan luka dan cepat kering katanya juga bisa menghilangkan belas lukanya sekaligus.

Pergaulan antar bangsa merupakan hal yang sangat penting demi kemajuan serta perubahan tata hidup serta kebudayaan sehari-hari masyarakat suatu bangsa. Melihat dari sisi kebudayaan, pengaruh budaya luar dapat berdampak positif jika budaya asal atau asli tidak ditinggalkan. Pergaulan antar bangsa semestinya juga dapat kita sebagai masyarakat budaya asal memperkenalkan keberagaman adat serta budaya tempat asal kita.

Juga mengarah pada naskah yang berhungan dengan pernikahan antar suku dengan Cina yaitu salah satunya yang terdapat pada naskah bab 1 vol 1 Menjadi Jawa ”Naskah Cina-Jawa”.

Berawal dari kebudayaan cina yang datang ke Indonesia khususnya daerah jawa mempengaruhi perubahan dan penambahan budaya jawa. Kebudayaan Cina adalah salah satu kebudayaan kuat dari luar yang mempengaruhi pengaruh nyata dalam perubahan dan penambahan Budaya Jawa.

Perkembanagan sastra jawa dipengaruhi oleh tujuan politik serta keagamaan dan pengaruh yang paling utama yaitu pergaulan antar bangsa. Di Jawa, adanya etnis Cina sejak berabad yang lalu melalui jalur perdagangan dan agama. Pengaruh yang pertukaran kebudayaan ini terjadi karena adanya laki-laki bangsa Cina menikahi perempuan Suku Jawa (Perempuan Pribumi Jawa).

Hingga orang cina yang memeluk Agama Islam karena adanya pembunuhan besar besaran di batavia. Pembesar Cina menerima kebudayaan Jawa senang mengoleksi topeng serta wayang kulit. Adakalanya mereka hanya berbicara Bahasa Jawa dan hanya sekali-sekali berusaha mempertahankan kesetiaan budaya leluhurnya.

Tidak semua orang Cina yang menetap di Jawa mempunyai minat berdagang. Banyak diantara mereka yang menjadi, pengurus usaha bangsawan Jawa, atau pachter (pengusaha tanah) pemerintah Belanda. Berbagai bentuk seni dan budaya di nusantara tidak pernah bagi pengaruh Cina.

Seperti gambang kromong, corak batik pekalongan/lasem, kuliner, kisah roman dan lain sebagainya produk budaya atau sastra yang mereka hasilkan merupakan ‘Bentukan baru’ dari hasil imigrasi pendahulu mereka beberapa ciri kehinaan masih dipertahankan dalam pembentukan baru ini misalnya dalam naskah Cina-Jawa mereka menciptakan aksara rekan Cina-Jawa untuk menulis nama-nama Tionghoa.

Naskah Cina Jawa ditulis di atas kertas HVS yang sudah berwarna kuning kecoklatan, tidak nampak adanya water mark pada kertas. Tinta untuk menulis berwarna hitam dan merah untuk rubrikasi pada dan pupuh.

Secara umum ukuran kertas 34×21,5 cm, kolam teks berukuran 17×29 cm kecuali naskah-naskah koleksi berlin ditulis buku tulis bergaris bermacam ukuran. Naskah Cina Jawa terdapat diberbagai perpustakaan dalam negri dan luar negri. Di Indonesia terdapat di Jakarta FIB UI. Sementara diluar negri terdapat di Berlin, Paris.

Dalam hal ini lebih dominan kita yang dari Indonesia lebih khususnya masyarakat Jawa yang mengenalkan budaya serta adat Jawa kepada pendatang atau masyarakat Cina. Dengan masyarakat Cina mengoleksi topeng wayang kulit. Dan juga mereka mengenal bentuk seni di Jawa yaitu gambang kromong hingga corak batik di Indonesia.

Dengan begitu tentu budaya, adat serta seni kita Indonesia di kenal oleh masyarakat tentunya penduduk Cina. Belum lagi jika penduduk Cina yang sempat tinggal di Indonesia mereka kembali ke negaranya, mereka membawa adat budaya serta seni indonesia khususnya Budaya Jawa.

Sebenarnya dengan adanya pernikahan antar suku bangsa ini mendapatkan pengaruh positif negatif. Dampak positifnya kita bisa mengenalkan budaya kita kepada masyarakat luar Cina dampak negatifnya yaitu berkurangnya cirikhas wajah Indonesia asli (Pribumi) kita. Tidak hanya dengan orang Cina (penduduk luar/asing) sebenarnya kita antar suku saja bisa mengalami perubahan dan penambahan adat-istiadat antar kita.

Orang Minang yang memiliki kebiasaan merantau ke negeri orang, antara orang Minang dengan Jawa. Orang Minang yang berpemikiran biarlah kerja sedikit atau ringan tetapi gaji harus besar. Ada juga pepatah Minang yang mengatakan ‘Takuruang nak dilua, taimpik nak diateh begitulah kecerdikan orang Minang’.

Berbeda dengan orang Jawa yang sangat giat bekerja kalau soal gaji itu urusan belakangan. Dengan adanya prinsip ini orang Minang yang juga harus giat dalam bekerja seperti orang Jawa. ***

 

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer