Viktor Axelsen menumbangkan andalan tuan rumah, AS Ginting di final Indonesia Terbuka. Gambar dari msn.com/en-us/sport
ANTONY Ginting menjadi runner up di turnamen Indonesia Open, setelah seminggu sebelumnya juara di Singapura Terbuka. Sementara sang juara -yaitu Viktor Axelsen asal Denmark- baru turun di Istora setelah melewatkan pertandingan di Singapura dan di Bangkok, Thailand.
Jadi teringat sebulan yang lalu mantan pebulutangkis, peraih emas Olimpiade 2004, Taufik Hidayat memberikan saran terbuka untuk pebulutangkis nasional Anthony Sinisuka Ginting dan Jonathan Christie atau Jojo. Taufik menyarankan agar Ginting dan Jojo tidak perlu terlalu banyak mengikuti pertandingan dalam rangka atau menjelang Olimpiade Paris 2024 mendatang.
Mengutip dari CNN Indonesia, Taufik berpandangan bahwa Ginting dan Jojo harus punya skema pengiriman turnamen yang jelas. Karena itu, tidak semua turnamen harus diikuti oleh kedua pemain.
Taufik lalu memberi contoh Viktor Axelsen, pebulutangkis ganda putra nomor satu dunia asal Denmark, yang dikenal sebagai pemain yang selektif mengikuti turnamen. Hal tersebut bisa jadi gambaran proses pemilihan turnamen yang ideal menurut Taufik.
Taufik Hidayat menyampaikan logika pemikiran bahwasanya apabila seorang pemain datang ke satu pertandingan, maka dia harus benar-benar fit, dan yakin bisa jadi juara di situ. Daripada ikut pertandingan banyak-banyak. ”Percuma. Ngapain banyak banyak? Babak pertama, babak kedua kalah buat apa,” tukas Taufik.
Pendapat tersebut benar untuk satu hal. Yaitu pada diri Viktor Axelsen yang baru beberapa hari lalu menjuarai Indonesia Open. Axelsen sengaja mengundurkan diri dari turnamen Singapore Open (satu pekan sebelum Indonesia Open). Axelsen konsentrasi di turnamen Super 1000, dengan tidak mengikuti Malaysia Master dan Singapore Open. Hasilnya, Viktor menjadi juara di Istora Senayan.
Namun tidak sepenuhnya benar -benar 100 persen ke diri Viktor. Sebelumnya, Viktor tidak begitu sukses di Sudirman Cup (kalah di tengah pertandingan dengan mengundurkan diri saat melawan Lee Zii Jia). Kemudian di bulan maret 2023 lalu kalah dari Ng Tze Yong, pemain belia dari Malaysia. Lalu sepekan berikutnya takluk dari Chou Tien Chen dari China Taipei.
Artinya memang tidak menjamin ketika seorang pemain merasa fit kemudian dia yakin, lalu bisa juara. Viktor juga mengalami hal tersebut. Keberhasilan Viktor juara di Indonesia Terbuka ini dilalui dengan -katakanlah- air mata. Kalah dari “pasukan belia Malaysia” Ng Tze Yong, kemudian pemain veteran Chou Tien Chen, dan Lee Zii Jia. Sebelumnya lagi, Viktor juga kalah dari “rising star” asal Thailand, Kunlavut Vitidsarn.
Di tengah iklim persaingan yang ketat dewasa ini, memang musykil pemain bisa juara secara beruntun. Kecuali untuk tunggal putri Anseo Young asal Korea. Secara beruntun menjadi juara di Thailand Open dan Singapore Open. Namun ketika bermain di Indonesia Open kandas di partai semifinal -kalah dari sang juara, Chen Yufei. An Seoyoung tidak bisa menciptakan hattrick.
Contoh baik lainnya misalnya pasangan ganda putri Korea, Baek Hana/ Lee So-hee. Menjadi juara di Malaysia Master (mengalahkan andalan tuan rumah Pearly Tan/ Thinaah), kemudian sepekan berikutnya juara lagi di Thailand Open (lagi-lagi dengan mengandaskan wakil tuan rumah Aimsaard bersaudara). Seminggu berikutnya menjadi runner up di Singapura (kalah dari ganda nomor satu, Chen Qing Chen/ Jia Yifan), tapi menjadi juara lagi di Indonesia -dengan menaklukkan pasangan gaek Jepang, Fukushima/ Hirota.
Seorang Kunlavut pemain tunggal putra Thailand yang masih berusia 22 tahun, ternyata juga tidak bisa bermain maksimal di 2 (dua) turnamen berturutan. Padahal siapa yang meragukan fisik pemain belia mantan juara dunia Yunior tiga kali tersebut. Kunlavut gagal di babak kedua Malaysia Master, seminggu kemudian juara di Thailand Open, dan tersingkir gegara cedera saat set ketiga melawan Ginting di Singapore Open.
Namun bisa jadi alasan Ginting atau Jojo pun Kunlavut (dan juga pemain bulutangkis dunia lainnya) untuk mengikuti setiap turnamen yang digelar BWF adalah “don’t put all your egg in one basket”. Sehingga mereka menebar peluang ke setiap turnamen, karena siapa tahu bisa jadi juara. Memang dari sisi perencanaan permainan kurang bagus, namun perlu diingat bahwa bulutangkis ini bukanlah tenis.
Pemain tenis bisa memilih turnamen yang diikuti karena jumlah hadiah yang memang bejibun banyaknya. Juara Indonesia Open mendapat Rp 1,3 milyar, yang merupakan salahsatu hadiah terbesar untuk bulutangkis (hanya kalah dibanding China Open). Bandingkan dengan Wimbledon yang memberi hadiah Rp 36 milyar untuk tunggal putri.
Selain itu prestise emas olimpiade di mata pemain tenis tidak begitu bergengsi dibandingkan grand slam. Berbeda dengan pebulutangkis yang menganggap emas olimpiade merupakan puncak capaian prestasi.
Selektif untuk mengikuti turnamen memang perlu. Namun realita di lapangan adalah hadiah turnamen bulutangkis masih jauh dibanding tenis, dan pemain perlu mengumpulkan banyak poin menuju Olimpiade.
Walaubagaimanapun saran Taufik ada benarnya. Tapi itu harus didukung oleh segenap pemain, terutama sesama pebulutangkis pelatnas. Seperti misalnya fenomena pertemuan Ginting versus Jojo di babak perempat final Indoensia Terbuka. Seharusnya kebersamaan sesama pelain pelatnas harus digalang di sini. Dengan logika “persaingan tinggi maka tidak ada pemain yang akan juara dua kali berturut turut”, maka susah mengharapkan Ginting untuk bisa juara (lagi) di istora setelah sepekan sebelumnya menjadi kampiun di Singapura.
Ini tentunya pilihan bagi jajaran pelatih atau pengurus PBSI, apakah perlu “cawe cawe” di partai pertarungan saudara Ginting lawan Jojo ini. Mungkin dengan alasan ke depannya biar Ginting juga istirahat dan bermain di turnamen berikutnya dengan lebih fit. Serta didukung alasan bahwasanya Jojo membutuhkan poin agar tetap bertahan di 10 besar.
Persoalan peak performance yang tidak bisa berturut -turut pada 2 (dua) turnamen sebetulnya merupakan kisah klasik bagi para pebulutangkis. Sewaktu Rudy Hartono gagal menjadi juara di All England tahun 1975, muncul analisa dan cerita di tabloid BOLA (almarhum) dulu. Salah seorang pelatihnya mengatakan bahwa kemungkinan karena Rudy bermain bagus dan menjadi juara di turnamen seminggu sebelum All England. Yaitu Swedia Terbuka dan/ atau Denmark Open.
Ditulis oleh Yuniandono Achmad, SE. ME,
staf pengajar di sebuah PTS di kota Depok
dan di Semanggi, Jakarta



