Pekanbaru (Nadariau.com) – Tahun ini, Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) membuka fakultas kedokteran yang dikombinasikan dengan pengobatan herbal. Artinya, selain pengobatan melalui obat kimia, juga menggunakan pengobatan tradisional sesuai dengan Agama Islam.
Rektor UMRI Saidul Amin mengatakan, berdasarkan pengalaman dan kejadian yang sudah terjadi, untuk penyembuhan pasien bisa dilakukan secara medis. Namun disisi lain bisa jadi disembuhkan melalui pengobatan herbal dan/atau tradisonal.
“Contohnya, banyak orang sakit yang melalui zikir, sedekah dan meramu ramuan alam. Maka dari itu, sistem pembelajaran kita mungkin berbeda dengan fakultas kedokteran lain,” kata Saidul Amin, Rabu (4/1/2023).
Sebelumnya, Umri sudah melakukan MoU dengan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) untuk menjadi civitas bayangan sebagai tempat simulasi atau tempat belajar UMRI sebelum mendirikan Fakultas Kedokteran.
Menurut Saidul, rencana mendirikan Fakultas Kedokteran di Riau karena baru ada dua perguruan tinggi yang memilikinya, yakni UNRI dan Abdurab.
“Sementara jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan provinsi lainnya. Seperti Sumut ada 8 perguruan tinggi, Sumbar juga banyak dan provinsi maju lainnya. Semoga jika nanti sudah mendapatkan izin dari Kementerian Pendidikan, di Riau sudah ada tiga Fakultas Kedokteran,” ujar Saidul Amin.
Selain mendirikan Fakultas Kedokteran Umri menjadi salah satu 10 projek Umri tahun 2023, kata Saidul, Umri juga sudah melakukan registrasi program Pascasarjana untuk bidang Manajemen dan Kewirausahaan dan program Studi Islam.
Selanjutnya, di tahun ini akan diadakan KKN Internasional. Negara yang sudah menerima untuk kerjasama yaitu Thailand dan Negeri Perlis di Malaysia.
Diharapkan mahasiswa yang KKN di Pattani Thailand bisa menjadi guru ngaji di sekolah-sekolah di sana. Menurut Rektor, di daerah itu, masyarakatnya masih menggunakan bahasa Melayu.
Kemudian sedang berjalan adalah pembangunan Rusunawa UMRI bantuan Kementerian PUPR dengan pembiayaan Rp 8 miliar.
Hal ini nantinya akan digunakan untuk mahasiswa miskin dari luar daerah dan mahasiswa internasional. Rusunawa juga menjadi tempat Diklat pengkaderan Al Islam Kemuhammadiyahan.
Program lain yang dilakukan adalah pengembangan dan peningkatan perjanjian kerjasama dengan mitra strategis serta perguruan tinggi berskala nasional dan international.
Saat ini UMRI sudah menjalin kerjasama dengan 10 perguruan tinggi di negara Asia Tenggara. Nantinya, jumlah kerjasama internasional ini akan ditingkatkan lagi. Dalam waktu dekat ini akan dilaksanakan MoU dengan Filipina pada tanggal 9 Febuari 2023 mendatang.
Setelah Asia Tenggara, UMRI akan membangun kerjasama dengan perguruan tinggi di Timur Tengah, Asia, serta Eropa.
Untuk itu, peningkatan sumberdaya melalui penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar dalam kehidupan kampus sudah dimulai di lingkungan kampus. Dimana, akan ada satu hari civitaa kampus akan berbahasa Inggris.
Kemudian, ada juga program pembangunan dan pemanfaatan gedung Tajdid Center UMRI. Untuk sementara ini sudah terkumpul dana sekitar Rp 2 miliar dan jika digabungkan dengan wakaf berupa tanah, kemungkinan sudah terkumpul Rp 5 miliar.
“Saat ini UMRI lagi mencari kerjasama dengan perusahaan yang berpengalaman untuk membangun pondasi. Untuk lantai 1-3 akan dilaksanakan dengan sistem swakelola dalam pembangunannya,” kata Rektor. (alin)


