Elegi Rindu buat Jorji

oleh: Yuni Andono Achmad, pengamat bulutangkis dari Bogor. Gambar atau picture Gregoria Mariska Tunjung di atas didapatkan dari https://bwfworldtour.bwfbadminton.com

GREGORIA Mariska Tunjung, atau biasa dipanggil dengan nama Jorji, menjadi runner-up di ajang Australia Open 2022. Kemarin di hari Ahad, 20 November 2022 -bertepatan Minggu Kliwon tanggal 25 Rabiul Akhir 1444 H- Jorji takluk dengan 17-21 9-21 melawan pemain yang 3 (tiga) tahun lebih muda darinya, yaitu si baby face bernama An Se-yong dari Korea Selatan.

Prestasi ini bisa dianggap sebagai kegagalan pada satu sisi, juga keberhasilan pada sisi yang lain. Gagal menjadi juara -kalah ketiga kalinya melawan An Se-yong. Namun Jorji berhasil menjadi finalis, setelah menunggu 4 (empat) tahun, sejak menjadi juara di Finnish Open di kota Vantaa, Finlandia. Tahun 2018 itu Jorji mengalahkan kompatriotnya dalam all Indonesia final, yakni Ruselli Hartawan yang sekarang sudah kembali ke klub -alias telah lepas dari pelatnas.

Dengan gagalnya Jorji menjadi juara, tentunya kita masih menunggu lebih lama lagi menyaksikan Jorji menjadi juara kembali. Namun melihat prosesnya sampai ke final, jorji bisa dikatakan berhasil. Jorji mampu mengandaskan Han Yue, pemain yang mengalahkannya dua pekan sebelumnya di Hylo Germany Open.

Selain itu, dengan keberhasilan merambah babak final, maka point Jorji cukup untuk menjadi pemain kedelapan yang lolos ke putaran final tur dunia atau World Tour Final (WTF) nanti di Bangkok -awal bulan Desember. Tentunya prestasi tersendiri bagi coach Reony Mainaky yang menangani sektor tunggal putri, mengantar putri Wonogiri yang dibesarkan di sebuah klub di Bandung ini, bisa tampil di WTF -setelah menunggu 14 tahun lamanya WS Indonesia.

Mantan juara dunia junior tahun 2017, berhasil mencatatkan diri sebagai tunggal putri Indonesia satu-satunya di WTF nanti. Sesudah mundurnya Pusarla Sindu dari India di WTF 2022 karena didera cedera, maka tiket kedelapan diperebutkan oleh Nozomi Okuhara dari Jepang, Line Højmark Kjærsfeldt dari Denmark, dan Gregoria MT itu sendiri. Nozomi dari Jepang tumbang di babak perempat final dari pemain Tiongkok, Han Yue. Han Yue kemudian dikalahkan Jorji di babak semifinal.

Sebenarnya Kjaersfeldt tidak ikut di Australia Open. Namun dia bisa lolos seandainya Nozomi dan Jorji gugur pada babak awal di Quay Centre. Quay centre merupakan gedung serbaguna di kawasan olahraga di Sydney, New South Wales, Australia, yang pernah dipakai untuk olimpiade tahun 2000. Di kompleks inilah dulu pasangan Chandra Wijaya/ Tony Gunawan meraih emas olimpiade -dan perak oleh Hendrawan serta pasangan Trikus/ Minarti Timur.

Nozomi melaju sampai perempat final, sementara Jorji sampai ke final. Gugurlah si Line Kjaersfeldt untuk ikut putaran final WTF. Nilai akumulasi Jorji mengalahkan Nozomi dari Jepang dan Kjaersfeldt dari Denmark. Dengan lolosnya Jorji ini maka lengkap sudah 8 (delapan) tunggal putri terbaik dunia untuk tampil di Bangkok dalam rangka WTF nanti. Dari mulai peringkat pertama, Akane Yamaguci dari Jepang, disusul Chen Yufei, He Bingjao -keduanya dari Tiongkok. Lalu ada Ratchanok Intanon dan Busanan Ombangruphan -keduanya dari Thailand. Lanjut ke An Se-young dari Korea, dan Tai Tzu Ying dari Taiwan.

Kedelapan pemain tersebut akan dibagi menjadi 2 (dua) grup, dengan mekanisme bermain ½ (setengah) kompetisi. Negara yang memiliki 2 (dua) wakil, yakni Tiongkok dan Thailand, masing-masing pemainnya akan dibagi ke dalam grup yang berbeda. Peluang menjadi bertambah berat bagi Gregoria, apalagi kalau satu grup dengan An Se-young dan He Bingjao, karena Jorji belum pernah menang melawan mereka.

Jorji menuntaskan kerinduan pecinta bulutangkis Indonesia akan tampilnya single putri bumiputra di WTF. Terakhir adalah Maria Kristin Yulianti di tahun 2008. Bayangkan menunggu 14 tahun untuk pemain women single (WS) kita tampil. Bukan untuk juara, namun hanya tampil saja sebagai WS yang dibatasi 1 (satu) negara hanya diperbolehkan 2 (dua) pemain.

Kemenangan An Se-young terhadap Jorji kemarin adalah menangnya sebuah permainan klasik tunggal putri. Berlari lari keliling lapangan dengan mengandalkan fisik prima, dan nyaris tanpa smash tajam pun kencang. An Se-young hanya menunggu lawan berbuat salah. Permainan sabar semacam ini mengingatkan pada saat skor tunggal putri masih 11 zaman dulu, yang mengenal “service over” dan tidak langsung bertambah nilai.

Namun kemenangan tetaplah sebuah kemenangan. An Se-young pandai memanfaatkan momentum. Sejak Jorji unggul interval dengan 11-9, An Se-Y tetap sabar dan bisa menyamakan 13-13. Disitulah elegi rindu kita muncul. Rindu terhadap pemain pribumi yang berusaha mengejar ketertinggalan -laksana Susi Susanti yang hampir kalah karena lawannya (Lee Young Suk dari Korea) sudah mencapai match point 10-4. Namun Susi bisa menyusul 10-10 dan memaksa rubber game di ajang final Sudirman Cup 1989 itu.

Darimana lagi bisa kita dapatkan fighting spirit semacam itu. Dulu kita berharap dari Fitriani. Saat Indonesia melawan Denmark di penyisihan Sudirman Cup 2017. Fitriani yang ketinggalan dari Mia Blichfeldt, mampu menang 22-24, 21-15, dan 21-24. Saat itu pelatih kepala PBSI dipegang oleh Susi Susanti dengan asisten pelatih WS adalah Minarti Timur. Saat ini Mia Blichfeldt masih menjadi andalah tim Denmark, sedangkan Fitriani kembali ke klub -bahkan mencoba bermain di sektor ganda putri.

Tapi siapa tahu akhir tahun ini adalah masa comeback-nya Jorji untuk menapak lebih pasti di tahun 2023 nanti. Tahun depan usia Jorji mencapai 24 tahun, sebuah usia yang matang untuk seorang atlet.

Dimulai dari ajang pamungkas akhir tahun 2022 ini, yaitu WTF di Bangkok, kita berharap Jorji bermain lebih efektif efisien, dengan mengurangi kesalahan sendiri. Semoga Jorji bisa mengambil pelajaran dari penampilan ketujuh pesaingnya nanti. Seandainya pun belum menjadi kampiun, kita berharap tahun depan Jorji mulai bisa juara. Dan terutama mendukung performa terbaik tim Indonesia untuk turnamen beregu Sudirman Cup 2023.

Rasanya sudah terlalu lama. Ya terlalu lama untuk menunggu juara tunggal putri. Juga menunggu terlalu lama untuk juara Sudirman Cup. Bayangkan sejak 1989 kita belum pernah juara lagi Sudirman Cup. Semoga menunggu itu tertuntaskan dalam 34 tahun penantian. Rindu yang sudah menjadi elegi. Sudah demikian lama …..

Keterangan: Elegi merupakan istilah umum dalam kesusastraan yang merujuk kepada syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita. Tidak hanya kematian, penggunaan kata “elegi” dalam syair atau lirik lagu juga dapat ditujukan untuk menggambarkan perasaan kehilangan. Dalam artikel ini, elegi yang kami maksud adalah perasaan rindu atau kehilangan akan prestasi di sektor tunggal putri. Juga akan juara beregu campuran, yang hampir 34 tahun tidak kita gapai.

Yuniandono Achmad, S.E., M.E., penulis kolom OPiNi ini, adalah staf pengajar di sebuah PTS di jalan Margonda, kota Depok. Sekarang masih menjadi konsultan di beberapa K/L di daerah Jakarta Pusat.

 86 total views