Konsistensi di Turnamen Jarak Dekat

Yuniandono Achmad, pemerhati bulutangkis, tinggal di Bogor.

Tampak di foto adalah Lisa Ayu K yang menahan haru, dipeluk oleh Rehan Kusharjanto, mereka menyingkirkan pasangan tuan rumah Thom Gicquel/ Delphine Delrue. Gambar dari:  https://bwfworldtour.bwfbadminton.com/news-single/2022/10/29

DALAM bulan Oktober – November 2022 ini para pemain bulutangkis dunia terkonsentrasi di belahan dunia Eropa. Pertengahan bulan Oktober di kota Odense terhelat Denmark Open. Kemudian akhir Oktober, atau hari Ahad (Minggu Wage, 30 Oktober 2022) kemarin, telah paripurna French Open di kota Paris. Kemudian minggu ini akan ada Hylo Open Tournament di Jerman.

Ketiganya hanya berselang 3 (tiga) hari, atau malah hanya 2 (dua) hari bagi pemain yang mengikuti babak kualifikasi. Artinya kedua -bahkan ketiga- turnamen ini memiliki jarak yang dekat. Jarak di sini adalah persoalan waktu. Dari dua turnamen yang telah pungkasan -yaitu Denmark dan Perancis- bisa ditengarai beberapa hal yang merupakan pencapaian beberapa atlet dunia.

Pertama menyangkut konsistensi. Para finalis di Denmark Open, hanya menyisakan 2 (dua) nomor yang mampu bertahan di babak final French open -atau Perancis Terbuka ini. Mereka adalah sektor tunggal putri yakni He Bingjao, dan ganda campuran Zheng Sinwei/ Huan Yaqiong. Keduanya menjadi juara di dua turnamen tersebut, dan ketepatan keduanya juga dari negara yang sama, yakni Tiongkok.

Sedangkan sektor lain telah berguguran di babak awal. Juara tunggal putra Shi Yuqi gugur di babak pertama, juara ganda putra Fajar Alfian/ Rian Ardianto tumbang pada babak kedua, dan juara ganda putri Chen Qi Chen/ Jia Yifan menyerah pada lawan yang dikalahkan saat final Denmark Open (yaitu Lee SH/ Baek Ha Na) di babak perempat final.

Para finalis Denmark Open lainnya juga demikian. Lee Ji Zia kalah pada babak pertama di Perancis Terbuka ini, ditumbangkan oleh pria asal Sukoharjo -yaitu Shesar Hiren Rhustavito. Sedangkan the Minnions tumbang pada babak pertama, dikalahkan oleh finalis French Open, ganda Taiwan bernama Lu Ching Yao/ Yang Pao Han. Tunggal putri Chen Yufei juga gugur pada babak kedua, dari pemain gaek Thailand, Busanan Ombangruphan. Ganda campuran Feng Yanzhe/ Huang Dongping tumbang di babak perempat final. Demikian pula ganda putri Korea, Lee So Hee/ Baek Ha Na kalah di babak perempat final saat ditumbangkan ganda putri Malaysia, Tan Pearly/ Thinaah.

Artinya hanya He Bingjao dan pasangan Zheng/ Haqiong yang mampu bermain apik, alias konsisten di 2 (dua) turnamen berturut-turut ini, dengan menjadi juara.

Tentunya itu konsistensi yang positif. Ada konsistensi yang kurang bagus, seperti yang dialami ganda “the Daddies” Hendra Setiawan/ Moh Ahsan, dan tunggal putra Antony Sinisuka Ginting, serta tunggal putri kita Gregoria Mariska Tunjung. Pada dua turnamen ini, the Daddies, Ginting, dan Jorji -panggilan akrab Gregoria Mariska Tunjung- konsisten untuk tumbang di babak pertama atau 32 besar.

Di Denmark dan Perancis Terbuka, Ginting kalah melawan pemain India. Yaitu Lakshya Sen, lalu berikutnya Sameer Verma. Sedangkan Jorji -di Denmark Open- kalah straight game melawan sang juara, He Bing Jao dari Tiongkok. Sedangkan saat bermain di Paris -dalam rangka French Open- Jorji kalah melawan pemain Amerika Serikat keturunan China, Zhang Beiwen dengan rubber. Uniknya selepas mengalahkan Jorji, si Zhang Beiwen ini mengundurkan diri karena cedera, sehingga sang lawan babak 16 besar -yakni Carolina Marin dari Spanyol- melenggang dengan mudah ke babak perdelapan final.

Beberapa pemain kita mengalami peningkatan di turnamen Perancis Terbuka ini -dibanding saat mereka bermain di Denmark Terbuka. Peningkatan terbesar adalah pada pasangan ganda campuran kita, yang tergolong baru, yaitu Rehan/ Lisa. Rehan Naufal Kusharjanto dan Lisa Ayu Kusumawati mampu mengukir sejarah bagi dirinya, dengan menginjak babak semifinal BWF Super 750 untuk pertama kalinya.

Kedua rekan ganda campuran lainnya juga meningkat, karena mampu melewati babak 32 besar. Mereka ialah  Zachariah Josiahno Sumanti/Hediana Julimarbela, dan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas. Sumanti/ Julimarbela bahkan mampu menyingkirkan semifinalis Denmark Terbuka dari Thailand, pasangan Sumpak Jomkoh/ Paewsampran. Rinov/ Pitha juga lumayan karena menyingkirkan the rising star dari Korea Selatan, yaitu Kim Won Ho/ Jeong.

Pasangan Bagas Maulana/ Muhammad Shohibul Fikri juga cukup mengalami kenaikan dengan mampu maju ke babak perempat final. Sebelum akhirnya kalah rubber game melawan sang finalis, Lu Ching Yao/ Yang Pao Han dari China Taipei. Bagas/ Fikri pada babak sebelumnya mengalahkan 2 (dua) pasang pemain Malaysia, yakni Tan Kian Meng/ Tan Wei Kiong pada babak pertama, dan selanjutnya Nur Izzudin/ Goh Sze Fei.

Untuk ganda putra masih ada pasangan kita satu lagi, Leo Rolly Carnando/ Daniel Marthin yang relatif menurun dibandingkan saat berlaga di Denmark Open lalu. Pada turnamen di Paris ini the Babbies -demikian biasa netizen memanggil- kalah melawan pasangan senior Malaysia, Teo Ee Yi/ Ong Yew Sin. Kekalahan sangat tipis, rubber game, dan deuce 20-20 pada set ketiga.

Sedangkan pada sektor ganda putri, Thinaah Muralitharan dan Pearly Tan Koong dari Malaysia, masih menjadi momok bagi tim kita. Di turnamen Perancis terbuka ini, kedua pasangan kita gugur oleh sabetan raket pasangan gado-gado ras India dan Tionghoa tersebut. Apriyani Rahayu/ Siti Fadia kalah pada babak pertama atau 32 besar dengan rubber set, sedangkan pasangan Febriana Dwipuji Kusuma/ Amalia Cahaya Pratiwi kalah di babak 16 besar, cukup dengan 2 (dua) set saja. Di final Tan/ Thinaah menjadi juara setelah mengandaskan ganda Jepang, Matsumoto/ Nagahara.

Setelah melihat konsistensi, yang kedua adalah melihat kinerja atau performance pemain dunia di kedua turnamen ini. Dari kedua turnamen berjarak dekat tersebut, beberapa indikasi yang tebal dapat disimpulkan dari permainan atlet-atlet benua Eropa. Di kota Odense Denmark, tidak ada satupun pemain Eropa masuk semifinal. Namun sepekan berikutnya, di kota Paris, hampir semua nomor/ sektor ada semifinalis dari Eropa -kecuali ganda putri. Bahkan terjadi all Danish finale di tunggal putra.

Sektor tunggal putra terjadi final sesama Denmark antara Victor Axelsen melawan Ramus Gemke. Di tunggal putri, pemain asal Spanyol, Carolina Marin, mampu menembus babak final. Ganda campuran Belanda, Robin Tabeling/ Selena Piek juga tampil apik sampai ke final. Sedangkan di ganda putra, pemain Inggris, Ben Lane/ Sean Vendy terhenti di babak semifinal.

Mungkin kesimpulan yang bersifat sementara, bahwa performa pemain Eropa semakin meningkat dari turnamen pertama ke turnamen kedua. Seiring dengan makin padatnya turnamen, pemain Eropa ibarat mesin diesel, yang akan semakin panas ketika lama dihidupkan, atau dimainkan dalam hal ini.

Kita akan lihat nanti di turnamen berikutnya apakah akan semakin meningkat. Peningkatan tersebut bisa ditengarai bahwa secara fisik dan stamina pemain Eropa lebih bagus. Bisa jadi staying power mereka lebih terjaga. Hal tersebut berbeda dengan pemain ganda putra kita, yang sangat menguasai turnamen pertama (terjadi all Indonesian final di Denmark, juga semifinal yang dikuasai pasangan Indonesia dan Malaysia) namun tidak kuat untuk stabil di turnamen keduanya -di Perancis Terbuka. Pasti ini terkait kekuatan fisik dan stamina.

OPINI olahraga ini ditulis oleh Yuni Andono Achmad, S.E., M.E., staf pengajar di Univ Gunadarma jalan margonda kota Depok. Beliau tinggal di kabupaten Bogor. Selain mengajar juga menjadi konsultan di beberapa K/L di Jakarta.

 124 total views