Selasa, Maret 10, 2026
BerandaIndeksHukrimDirut Bantah Isu Jual Beli Darah di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru

Dirut Bantah Isu Jual Beli Darah di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru

Pekanbaru (Nadariau.com) – Menanggapi adanya isu praktek jual beli darah di RSUD Arifin Achmad (AA) Pekanbaru, Direktur RSUD Arifin Achmad, Wan Fajriatul Mammunah membantah isu jual beli darah tersebut.

“Jual beli darah itu nggak ada, karena memang kebutuhan darah tersebut pasti PMI akan menginformasikan ke kami bahwa stok darah kosong. Nanti diminta keluarga pasien untuk mencari pendonor, nanti PMI akan menginformasikan bahwa darahnya sudah selesai diolah,” kata Direktur RSUD Arifin Achmad, Wan Fajriatul Mammunah, Senin (31/10/2022).

Wan Fajriatul menjelaskan, kejadian pada Sabtu, (29/10/2022) malam tersebut adalah sebuah peristiwa yang tidak diharapkan. Ia mengakui bahwa alat untuk pencocokan darah (reagen) itu memang ada namun terbatas.

“Kemarin itu sebenarnya kondisinya tidak sesuai dengan yang kami harapkan. Permasalahan itu sebenarnya bukan karena reagennya kosong, reagen itu ada, tapi terbatas. Karena memang ada kendala distributor reagen itu mengasih tau ke kami karena Reagen yang biasa kami lakukan pengadaan itu diakontiniu. Sehingga, perlu dilakukan pengadaan untuk reagen,” katanya.

Wan Fajriatul mengatakan, saat ini RSUD Arifin Achmad merupakan RS pusat rujukan kanker sehingga kebutuhan pasien akan darah tersebut cukup banyak.

“Per harinya itu bisa seratus pasien, atau beberapa kantong darah yang dibutuhkan untuk pasien-pasien kanker. Sehingga memang perlu kita melakukan persediaan reagen itu cukup banyak,” kata Wan.

Wan Fajriatul menambahkan, ada miskomunikasi pada petugas Bank Darah dengan pihak keluarga pasien sehingga menyulut emosi dari pihak keluarga pasien.

“Memang misnya di petugas Bank Darah, mungkin pada saat menginformasikan tidak tepat bahwa dianggap reagen kosong. Karena mungkin kalau dibilang terbatas pasti nanti pasien akan marah,” kata Wan Fajriatul.

Wan Fajriatul juga menyayangkan adanya keributan di rumah sakit soal ketidaktersediaan Reagen yang menyulut emosi dari pihak keluarga.

“Saya sayangkan keluarga pasien emosi sehingga marah dan memecahkan kaca di Bank Darah. Pada saat kejadian saya belum hadir, dilaporkan ada ribut-ribut di Rumah Sakit, saya langsung hadir dan saya langsung dekati istri pasien. Disitulah istri pasien mengeluhkan karena pasien ini riwayat kanker sehingga butuh darah. Memang kebutuhan darah di Rumah Sakit tergantung dari PMI, kalau PMI stoknya ada pasti nanti PMI membantu mensuplai ke RSUD Arifin Achmad,” kata Wan Fajriatul.

Sementara menanggapi hal tersebut, Gubernur Riau, Syamsuar menyebut akan menindak tegas oknum yang terbukti tidak profesional dalam menjalankan tugas. Apabila itu benar terbukti, pihaknya tidak segan-segan akan menjatuhkan sanksi yang tegas.

“Kalau nanti ada petugas yang berbuat yang tidak sebaiknya tentu ada sanksi. Bisa pencopotan, pangkatnya bisa turun, jabatan bisa turun sesuai dengan tingkat kesalahan,” kata Syamsuar saat ditemui wartawan usai Apel Pagi di RSUD Arifin Ahmad, Senin (31/10/2022).

Soal adanya dugaan mafia jual beli darah di RSUD Arifin Achmad, Syamsuar mengakui hingga saat ini dirinya belum pernah mendengar isu tersebut. Namun, dia berjanji akan mencari tau terkait isu tersebut.

“Setau saya, sudah empat tahun disini jadi jual beli darah tidak ada. Nanti saya akan cari tau, ada relawan mengumpulkan data, itu dia setiap tahun mengumpulkan darah, belum pernah sedikitpun aku dengar orang jual darah,” katanya.

Berita sebelumnya, Pelayanan buruk kembali terjadi di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Pasalnya, seorang kerabat pasien yang berobat di RS tersebut marah-marah akibat tidak dilayanin oleh petugas Bank Darah dengan beralasan tidak memiliki alat untuk transfusi darah padahal sebelumnya menyatakan ada dan akan bisa segera ditangani.

Kerabat pasien tersebut bernama Maria, ia menceritakan bahwa korban membutuhkan darah dikarenakan untuk penyakit kanker. Awalnya pihak RSUD Arifin Achmad mengatakan bahwa untuk stok darah tidak ada, dan pihak keluarga pasien mencari donor darah dari anggota Polri hingga masyarakat.

“Setengah jam setelah diminta, kita sebar langsung datang mereka. Semua ramai mau donor darah. Tiba-tiba darahnya dipermainkan sama orang RSUD ini,” kata Maria, Sabtu (29/10/2022) malam kemaren.

Maria menambahkan, setelah ditanya berulang kali, pihak RSUD Arifin Achmad baru mengaku bahwa stok darah sudah ada. Namun masalahnya alat reagen atau alat pencocokan darah tidak ada, sehingga belum bisa ditransfusi.

“Kami cek kenapa reagen tidak ada, katanya reagen menipis sejak 2 hari lalu dan habis siang tadi. Baru akan datang Selasa atau Rabu, tapi itu juga tidak bisa dipastikan,” cakapnya.

“Sementara darah trombosit atau darah putih itu kata PMI akan kedaluwarsa 5 hari. Jadi tentu keluarga bingung, kalau kedaluwarsa nanti ke mana darah mau dicari lagi. Padahal siangnya sudah ditanya katanya aman dan akan segera diproses,” sambungnya.

Karena tidak puas dengan jawaban dua petugas bank darah di RSUD Arifin Achmad karena tidak ada kepastian, sehingga terjadi cekcok.

“Tiba-tiba setelah cekcok baru bilang reagen sudah ada. Lah kok tiba-tiba ada, padahal katanya Selasa atau Rabu baru datang. Ini bukan pertama kali saja, berulang kali sudah keluhan di sampaikan sama Dirut sejak awal. Kalau sudah sampai ke Dirut baru semua masalah dikerjakan,” ungkapnya.

Melihat ada keributan, Direktur RSUD Arifin Achmad, Wan Fajriatul Mammunah langsung menghampiri kerabat dari pasien, dan mendengarkan permasalahan yang terjadi tersebut.

Wan mengaku bahwa permasalahan itu memang kesalahan dari petugas RSUD Arifin Achmad dan ia pun meminta maaf kepada kerabat pasien.

“Kami meminta maaf kepada keluarga pasien, ini memang kesalahan dari petugas kami,” singkatnya.

Padahal, Gubernur Riau, Syamsuar saja memiliki program pelayanan kesehatan bisa maksimal, agar masyarakat Riau tidak berobat ke negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura.(sony)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer