HAORNAS: Ke Timur, Ke Timur

oleh: Yuniandono Achmad, pemerhati olahraga tinggal di Bogor. GAMBAR di atas didapat dari Kemenpora dan Suara.com

Puncak peringatan Hari Olahraga Nasional kemarin berlangsung di Stadion Batakan, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada hari Jumat 9 September 2022. Acara dihadiri oleh Wapres Maruf Amin dan Menpora Zainudin Amali, mengambil tema: Bersama Cetak Juara.

Tanggal 9 September diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional atau Haornas, karena pada tanggal itulah di tahun 1948 terselenggara Pekan Olahraga Nasional (PON) I di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah. Penyelenggaraan PON I merupakan bukti kepada dunia internasional bahwa RI yang baru berusia 3 (tiga) tahun mampu mengadakan kegiatan olahraga skala nasional.

Pada era Orde Baru event PON hampir pasti terselenggara di Jakarta. Hanya sekali pernah tahun 1969 di Surabaya, Jawa Timur. Sehabis itu dari 1973 sampai 1996 -atau 7 (tujuh) kali penyelenggaraan- diadakan selalu di Jakarta. Pernah suatu saat ada usulan PON agar sesekali di luar Jakarta, untuk tahun 1996. Namun Presiden Soeharto saat itu mencegahnya dan mengatakan bahwa dana penyelenggaraan PON di daerah lebih baik untuk kegiatan pengentasan kemiskinan saja.

Ketika rezim berubah, tuan rumah PON berganti-ganti dari mulai Jawa Timur (2000), Sumatera Selatan (2004), Kalimantan Timur (2008), Riau (2012), Jawa Barat (2016), dan terakhir Papua di tahun 2021. Namun dari berbagai tuan rumah tersebut, juara umum pasti dari Jawa. Demikian pula peringkat 1-3nya kalau tidak provinsi Jawa Barat, atau Jawa Timur, pun DKI Jakarta. Papua mampu menembus peringkat keempat kemarin di PON 2021.

Di ajang PON Papua tersebut, dari berbagai sumber menyebutkan, bahwa Presiden Jokowi menitip pesan agar olahraga Papua lebih diperhatikan -terutama sepakbolanya. Tindaklanjut dari permintaan Presiden kepada PT Freeport tersebut terealisasi 2 (dua) pekan yang lalu, Presiden Jokowi meresmikan sekolah sepakbola untuk anak Papua di Stadion Lukas Enembe, Jayapura.

Dari kanal youtube Setkab dan/ atau Setneg saat peresmian sekolah tersebut, Presiden memanggil salahsatu legenda sepakbola yaitu Rully Nere untuk tampil di panggung. Presiden juga menyebut beberapa legenda atlet Papua. Memang diakui pulau Cenderawasih memiliki banyak mutiara hitam. Selain Rully Nerre di PSSI Pra Piala Dunia 1986, kemudian almarhum Adolf Kabo (PSSI Asian Games 1986), Ely Rumaropen (AG 1986), Aples Gideon Tecuari (PSSI Piala Asia 1996 dan 2000), Boaz Solosa (PSSI di Piala Tiger 2004), terakhir adalah Ricky Kambuaya yang masih aktif bermain sampai sekarang. Dan masih banyak lagi pesepak bola Papua untuk disebut.

Wapres kemarin saat memberi pidato sambutan Haornas menyatakan bahwa olahraga adalah hal penting dalam pembangunan Sumber Daya Manusia. “Kita ingin membangun SDM yang unggul, tangguh, berdisiplin, dan yang berkarakter melalui olahraga. Kita mengharapkan tingkat kebugaran masyarakat Indonesia semakin membaik, apalagi ditengah pandemi seperti sekarang ini. Hanya mereka yang sehat dan bugar yang punya daya tahan tubuh dan imunitas yang baik”, demikian pernyataan Wapres.

Pentingnya olahraga memang dari banyak perspektif bisa disebut. Seperti analogi yang menyebut bahwa hanya ada 2 (dua) momentum ketika lagu kebangsaan sebuah negara dikumandangkan di luar negeri. Pertama saat Presiden melakukan kunjungan kenegaraan, lalu kedua kala seorang atlet mendapatkan emas sebuah ajang OR lintas cabang (multi event).

Pada sisi individu, olahraga juga bisa menjadi salahsatu kanal penanggulangan kemiskinan. Kita sering mendengar cerita tentang atlet kaya raya yang masa kecilnya menderita dalam kemiskinan. Maka di wilayah timur, sektor olahraga ini juga bisa menjadi tools untuk mengurangi kemiskinan kronis. Contoh yang terkini misalnya Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, keduanya peraih emas bulutangkis Olimpiade Tokyo 2020. Apriyani masa kecilnya sering membantu orang tuanya jualan sayur di Konawe, Sulawesi Tenggara. Kalau Greysia pernah pindah ke Manado karena ibunya yang single mom (ayah meninggal) tidak kuat hidup di Jakarta.

Banyak contoh untuk perlu disebut, misal kita dulu pernah mendengar kesuksesan sprinter kita era 80-an Purnomo Muhammad Yudhi (almarhum). Purnomo saat SMP harus menitipkan sepatu ke temannya di Ajibarang, Banyumas. Karena rumah jauh dari sekolah dan hanya memiliki 1 (satu) buah sepatu. Berlari tiap hari dari rumah ke sekolah membuat Purnomo menjadi sprinter yang sukses menembus semifinal Olimpiade Los Angeles 1984 dan beberapa emas SG sesudah itu. Kesuksesan Purnomo berlanjut di dunia kerja sampai menduduki level direktur di sebuah perusahaan bisnis olahraga.

Sedangkan dari dunia internasional, mungkin sejarah petinju Mike Tyson dari kawasan kumuh Brooklyn, USA, yang membawanya menjadi juara dunia dan kaya raya sekarang. Demikian pula dengan petenis yang baru saja pensiun, Serena Williams.

Meskipun ada juga sisi kelam atlet, terutama saat menghabiskan masa pensiun, namun kebanyakan atlet (terutama yang berprestasi) saat ini lebih terjamin kehidupannya.

Di kesempatan yang sama -pada peringatan Haornas kemarin- Menpora Zainudin Amali dalam sambutannya di menggarisbawahi perihal yang pernah disampaikan Presiden Jokowi pada tahun 2020, bahwa Presiden telah memerintahkan kepadanya dan seluruh stakeholder olahraga nasional untuk melakukan review total terhadap ekosistem pembinaan prestasi olahraga nasional.

Dari pernyataan Menpora tersebut artinya dibuka lebar pintu untuk perbaikan pembinaan olahraga di republik ini. Mungkin sudah banyak saran perbaikan dilontarkan oleh insan olahraga tanah air. Biasanya menyangkut penciptaan kompetisi, pembibitan atlet muda, dan keberlangsungan pasca atlet. Tulisan ini mungkin agak sedikit berbeda, terkait perlunya keberpihakan yang lebih kepada cabang olahraga yang “ditinggal” dan perhatian lebih kepada regional atau spatial tertentu.

Memang tidak salah langkah Presiden meresmikan sekolah sepakbola di Jayapura. Dan tentunya perlu apresiasi tersendiri dalam pemilihan Papua menjadi tuan rumah PON tahun lalu (semestinya tahun 2020 namun karena wabah pandemi baru terselenggara tahun 2021). Tetapi ada perihal yang dilupakan bahwa semestinya bukan sepakbola.

Di era lampau, Papua merupakan lumbung salah satu cabang olahraga yang saat ini dilupakan. Yaitu atletik. Wilayah Papua -bersama dengan daerah timur lainnya yaitu Maluku dan NTT- pernah menyumbang pelari yang preatasinya sampai ke level Asia.

Kita dulu mengenal Geraldus Maeno Balagaize (mantan atlet lempar lembing, lempar cakram, dan tolak peluru, juara Asean School 1983 di Malaysia, juara SEA Games 1983 di Singapura, juara SEA Games 1985 di Bangkok Thailand, juara SEA 1987 di Jakarta, juara Sea Games di Jakarta 1987), dan Timothius Sokai Ndiken (mantan atlet lempar lembing dan dasa lomba, juara SEA Games 1993). Kemudian ada Frans Mahuse, atlet lempar lembing pemegang rekor nasional terlama, kemudian Osianus Kahol (mantan atlet lempar lembing), ada Vincent Gebze (mantan atlet tolak peluru dan pelatih tim atletik PON), juga Ponsianus Kahol (mantan atlet lempar lembing).

Sedangkan barisan mantan atlet dari Indonesia Timur lainnya misalnya dari Maluku yaitu Emma Tahapary (sempat menjadi anggota tim Asia di kejuaraan dunia atletik nomor estafet, era 80-an), Henny Maspaitella, Martha Lekransy, Irene Joseph, dan Viera Hetharie. Demikian juga Alex Resmol, Julius Leuwol, dan Novi Persulessy. Mereka ini ratu dan raja lintasan pada masa lalu. Kini posisi mereka digantikan pelari lebih muda seangkatan Alvina Tehupeiory. Dari NTT yang lejen adalah atlet marathon Eduardus Nabunome (almarhum tahun 2020).

Prioritas ke bagian Timur harus dipertahankan. Namun sasaran jenis olahraganya harus lebih tepat. Sepakbola memang menjadi olahraga nomor satu di Indonesia (bahkan di dunia kalau dilihat dari jumlah fansnya). Namun apabila dilihat dari sumbangannya kepada medali di ajang multi event, maka atletik jauh lebih banyak. Seperti di Sea Games/ Asian Games/ Olimpiade, atletik memberi porsi medali sampai hampir 50 buah. Seperti SG di Hanoi beberapa bulan lalu, dari 47 medali emas atletik, Indonesia hanya mendapat 3 (tiga) buah. Bandingkan dengan tuan rumah Vietnam yang mampu meraih 22 emas, kemudian Thailand 12 keping emas. Atau malah dengan Malaysia dan Filipina yang masing-masing mendapatkan 5 (lima) emas.

Atletik memiliki gerakan dasar olahraga yatu lari, lompat dan lempar. Semua atlet dari jenis games apapun melakukannya. Bahkan seorang pecatur kawakan kita, yaitu GM Utut Adianto, pernah mengatakan bahwa dia tetap rutin melakukan olahraga lari meskipun tidak ada turnamen catur. Barangkali menyangkut stamina (untuk berfikir fokus) dan kebugaran tubuh selama turnamen berlangsung.

Setelah dasar olahraga dikuasai, maka sang (calon) atlet bisa meneruskan apakah tetap di cabor atletik, atau pindah ke cabang permainan/ games.

Dulu kita memiliki Bob Hasan (almarhum) sebagai ketua umum PASI. Banyak sumber menyebutkan bahwa Bob Hasan mengeluarkan kocek dari kantung sendiri untuk membiayai perlombaan atletik di Nusantara ini. Memang berbeda dengan 3 (tiga) olahraga games yang sangat populer di Indonesia -yaitu sepakbola, bulutangkis, dan bola voli- yang ibarat kata dilempar ke pasar pun sudah ada supply-demand yang pihak swastapun mau berebutan mendanai, Namun untuk atletik, sepertinya keterlibatan negara harus lebih besar.

Sekali lagi jangan ke sepakbola saja. Juga jangan hanya ke pulau Jawa. Adanya peringatan Haornas 2002 kemarin mestinya mengembalikan marwah sports kita ke dasar olahraga, ke induknya olahraga, yaitu cabang olahraga atletik. Dan ke kawasan timur Indonesia tentunya.

ARTIKEL ini ditulis oleh Yuni Andono Achmad, SE., ME. Staf pengajar sebuah PTS di jalan Margonda, Kota Depok. Memiliki akun IG di andonoachmad

 162 total views