Gambar: Pasangan ganda campuran kita, Rehan/ Lisa. Diambil dari kompas [dot]com
oleh: Yuniandono Achmad, pengamat bulutangkis tinggal di Bogor
DI Turnamen Jepang Terbuka 2022 para pebulutangkis Indonesia habis di babak perempat final. Tidak ada yang tersisa untuk melaju ke semifinal. Dua ganda putri, satu tunggal (putra/ putri) dan satu ganda putra telah luluh lantak di tangan lawannya dari ras kuning, dari Jepang -China -dan Korea. Walaupun sebenarnya kita akui perjalanan ke perempat final juga sudah cukup jauh melangkah, minimal mengalahkan 2 (dua) pesaing lain di babak 32 dan 16 besar. Bahkan itu juga dari Tiongkok -pun tuan rumah Jepang.
Di babak perempat final, ganda putri Apriyani/ Fadia kalah rubber set melawan ganda nomor satu Tiongkok, Chen Qi Chen/ Jia Yifan. Masih di ganda putri, Febriana Kusuma/ Cahaya Amalia Pratiwi kalah melawan pemain Korea (Jeong/ Kim) juga dengan rubber game. Tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung kalah straight set melawan pemain Tiongkok, Chen Yufei. Kemudian ganda putra Fajar Alfian/ Rian Ardianto kalah melawan pasangan Tiongkok, Liang Wei Keng/ Wang Chang melalui pertarungan sengit tiga set. Terakhir, Chico Aura Dwi Wardoyo kalah melawan Kenta Nishimoto juga dengan tiga set.
Sebelum itu, pemain ganda campuran telah habis terlebih dahulu.
Tepatnya di babak perdelapan final. Rinov Rivaldi/ Pitha Mentari kalah melawan peraih emas olimpiade 2020 asal Tiongkok, Wang Yil Yu/ Huang Dongping dengan 2 (dua) set langsung. Sementara pasangan Rehan Naufal Tri Kusharjanto/ Lisa Ayu Kusumawati kalah di babak awal -melawan pemain gaek Malaysia, Goh Soon Huat/ Shevon Jemie Lai. Kalah tipis sebenarnya, karena melalui pertarungan tiga set. Kekalahan di babak awal ini merupakan penurunan dibanding sepekan sebelumnya, masih di arena yang sama -Maruzen Intec Arena Osaka- yaitu BWF World Championship Tournament. Di kejuaraan dunia tersebut Rehan/ Lisa mampu lolos ke babak 16 besar.
Tentunya prestasi yang memprihatinkan bagi bulutangkis Indonesia, dengan nir gelar (bahkan tanpa wakil di semifinal) di Japan Open ini. Persis sama dengan kejadian waktu Indonesia Open 2022 beberapa bulan lalu. Namun yang lebih mengenaskan lagi tentunya sektor ganda campuran. Tidak sampai ke perempat final di beberapa turnamen belakangan ini. Ada apakah gerangan?
Legenda bulutangkis Indonesia, cik Butet atau Liliyana Natsir pernah menyampaikan kekesalannya atau geregetan dengan ganda campuran Indonesia yang minim prestasi. Hal itu disampaikannya pada media sekitar sebulan yang lalu.
Liliyana Natsir mengatakan kalau dirinya cukup prihatin melihat regenerasi pemain di ganda campuran. Butet, yang bersama Tontowi Ahmad meraih emas Olimpiade Rio tahun 2016 menilai pemain yunior di Pelatnas saat ini kesulitan untuk berkembang.
Nova Widianto, asisten pelatih ganda campuran, sempat menanggapi hal tersebut. Sang pelatih yang berasal dari Klaten tersebut mengungkapkan kalau sektor ganda campuran saat ini dihuni oleh para pemain muda, jadi masih masa transisi. Terlebih lagi, sosok Praveen Jordan/Melati Daeva dan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja sudah tidak ada di pelatnas. Sehingga generasi ganda campuran saat ini praktis tidak memiliki senior atau panutan.
Nova -bersama pelatih utama ganda campuran Flandy Limpele- baru memasang target juara di tahun depan untuk para anak asuhnya. Nova membandingkan sewaktu diririnya berhenti dahulu, ada masa transisi selama satu tahun. Nova pernah ikut Olimpiade Beijing 2008 (berpasangan dengan Lilyana Natsir) dan meraih perak. Saat perhelatan Asian Games 2010 Nova sudah tidak bermain lagi. Perlu beberapa tahun ke peak performance sampai kemunculan Tontowi/ Lilyana jadi juara di All England dari tahun 2012-2014.
Uniknya para pemain ganda campuran Indonesia meraih prestasi di usia 30an pada salahsatu pasangannya. Seperti misalnya Tri Kusharjanto/ Minarti Timur saat meraih perak Olimpiade Sydney tahun 2000, cik Minarti sudah usia 32 tahun. Tahun 2008 ketika Nova/ Lilyana meraih perah olimpiade Beijing, usia Nova sudah 31. Demkian pula saat emas olimpiade Rio tahun 2016, umur Lilyana Nasir menginjak 31 tahun. Mungkin mengkaitkan chemistry antar individu pemain ganda (campuran) memang butuh waktu cukup lama.
Perlu waktu untuk transisi -seperti yang dinyatakan coach Nova- bisa jadi benar. Tentunya waktu yang akan menjawab betulkah tahun depan kita akan memetik hasil presitisius dari pemain ganda kita yang saat ini berusia 23 tahunan.
Namun selain itu ada beberapa alternatif solusi untuk menggairahkan kembali prestasi ganda campuran. Misalnya, solusi pertama, perlu dicoba pemain ganda untuk bermain rangkap. Selain main di ganda campuran, juga ganda putra/ putri. Lilyana Natsir pernah mengalami hal ini. Di ganda putri berpasangan dengan Vita Marissa. Vita sendiri juga bermain ganda campuran berpasangan dengan Flandy Limpele (posisi keempat di Olimpiade Beijing 2008). Terakhir pemain kita yang bermain rangkap adalah Ricky Karanda Suwandi, namun saat itu Ricky sudah di luar pelatnas. Ricky bersama Angga Pratama termasuk penyumbang poin saat Indonesia menjadi runner up Thomas Cup 2016. Ricky pernah bermain mixed double (XD) dengan Debby Susanto dan Pia Bernadeth.
Memang membutuhkan stamina tersendiri untuk bermain rangkap. Resep ala-ala bermain rangkap ini telah diterapkan lama oleh Korea (Selatan) dan Tiongkok -sampai sekarang. Meski dari Korea yang tersisa saat ini hanya Seo Seung Jae (ganda putra dan ganda campuran, keduanya beranking 10 besar). Sedang Tiongkok masih ada Huang Dongping (putri dan campuran), serta Ou Xuanyi (putra dan campuran).
Korea memiliki pemain legendaris rangkap ini, yaitu Park Joo Bong yang bermain sama baiknya di ganda putra maupun campuran. PJ Bong bahkan pernah bermain tunggal saat Thomas Cup di Jakarta tahun 1986. Selain itu PJ Bong sempat meraih emas ganda putra olimpiade tahun 1992, kemudian perak kala olimpiade 1996. Meraih perak itupun kalah dari yuniornya sesama Korea yaitu Kim Dong Moon/ Ra Kyung Min. Setelah itu Kim Dong Moon meraih peringkat yang sama baiknya di campuran maupun men double, dengan puncaknya adalah emas olimpiade 2004 dengan Ha Tae Kwon.
Atlet badminton Korea berikutnya adalah Lee Yong Dae, yang meraih emas ganda campuran 2008, lalu berkonsentrasi di ganda putra yang meraih perunggu di olimpiade 2012 (berpasangan dengan Jung Jae Sung almarhum) dan perak Asian Games 2014 saat pasangannya Yoo Yeon Seoung. Sedangkan pemain Tiongkok yang sempat merangkap adalah Zhang Nan. Prestasinya sangat bagus dengan meraih emas olimpiade 2012 dan olimpiade 2016. Pasangan putrinya -yakni Zhao Yunlei- bahkan meraih dua buah emas dalam olimpiade yang sama yaitu London Olympic 2012.
Keberadaan pemain rangkap akan menguntungkan nantinya bagi penentuan strategi di Sudirman Cup. Pada babak penyisihan Sudirman Cup 2013, selepas dari penyisihan grup, Indonesia ketemu unggulan pertama Tiongkok. Saat itu pelatih kepala kita adalah Rexy Mainaky. Taktiknya adalah Lilyana Natsir dipasang untuk bermain rangkap. Partai pertama ganda campuran (Lilyana berpasangan dengan Tontowi Ahmad) dan partai terakhir ganda putri Lilyana dengan Nithya Maheswari. Nyaris saja kita menang. Karena susah unggul 2-0 terlebih dahulu (melalui ganda campuran dan ganda putra), namun akhirnya kita kalah 2-3.
Sewaktu Korea meraih Sudirman tahun 2017 juga “mengorbankan” Choi Sol Gyu untuk bermain rangkap, dan berhasil menumbangkan juara bertahan Tiongkok dengan 3-2.
Namun ada implikasi mendasar bila keran pemain rangkap ini dibuka di pelatnas PBSI. Perlu prasyarat agar birokrasi kepelatihan harus lebih cair di pelatnas. Selama ini iklim birokrasi di pelatnas tidak memungkinkan adanya pemain rangkap karena masing-masing pelatih per sektor mempunyai semacam ego untuk fokus di pemainnya. Kecuali barangkali kalau ini merupakan kebijakan pelatih utama atau Kabid Binpres PBSI. Misalnya ada kebijakan khusus agar pemain “X” bermain rangkap, artinya berada di bimbingan dua pelatih utama sektor. Atau kalau perlu adakan pelatih (atau asisten pelatih) yang khusus menangani pemain rangkap.
Suatu saat Park Joo Bong ditanya oleh seorang reporter, “Apakah hakikat permainan ganda campuran?”. Jawab Park Joo Bong cukup singkat. Yaitu, “Protecting the girl”. Mungkin benar juga. Hal itu yang membedakan antara Tontowi Ahmad dengan Praveen Jordan dulu. Tontowi bisa mengcover lapangan untuk melindungi pasangannya. Sementara Praveen -baik dengan Debby Susanto maupun Melati Daeva- cenderung posisi sejajar.
Sektor ganda campuran diantara keempat sektor lain memang bisa dikatakan hanya dipandang sebelah mata. Padahal dengan adanya piala Sudirman, dan prize money yang beberapa tahun ini disamakan dengan ganda pa/pi sebenarnya sama potensinya dengan tunggal dan ganda lainnya. Negeri jiran, Malaysia, sepertinya memandang penting sektor XD ini. Kemarin saat Sea Games Vietnam mereka mampu menciptakan all Malaysian final. Kemudian di Jepang Terbuka ini terhitung banyak pemainnya ada Goh Soon Huat/ Shevon Jemie Lai, Chan Peng Soo/ Cheah Yee See, dan Tan Kiang Meng/ PJ Lai. Ada juga Soong Joo Ven/Goh Liu Ying.
Memang tidak semua adalah pemain BAM-nya Malaysia, namun melimpahnya pemain ganda campuran Malaysia bisa menjadi indikasi bahwa sektor ini menarik perhatian. Walaupun sekali lagi kuantitas tidak berbading lurus dengan kualitas.
Thailand juga telah menyiapkan pengganti pasangan nomor satunya Dechapol/Saposiree yang sedang menurun, dengan adanya pemain muda mereka bernama Sumpak Jomkoh -yang juga bermain rangkap di ganda putra,
Jadi selain menunggu “masa transisi” usai -seperti pernyataan coach Nova, mungkin kita perlu juga alternatif solusi lain. Salahsatunya keberadaan pemain rangkap.
Artikel ini ditulis oleh Yuni Andono Achmad, SE, ME, seorang akademisi di sebuah PTS di jalan Margonda, Kota Depok.


