YMI dan YPL Bersama Masyarakat Selamatkan Ekosistem Mangrove Inhil dari Kehancuran

Inhil (Nadariau.com) – Yayasan Mitra Insani (YMI) dan Yayasan Pesisir Lestari (YPL) bersama masyarakat yang berada didalam kawasan ekosistem mangrove Kabupaten Indragri Hilir (Inhil) berupaya melakukan penyelamatan
mangrove yang hampir hancur dari tangan-tangan manusia untuk kepentingan pribadi dan pengusaha.

Direktur Utama YMI Herbet menjelaskan, Kabupaten Inhil memiliki luas sekitar 127.000 hektar (BPDASHL Indragiri-
Rokan 2021). Sementara daerah ini pemilik ekosisten terluas di Provinsi Riau. Hutan mangrove tumbuh di setiap pulau – pulau di kawasan pesisir.

Ekosistem mangrove sangat berkaitan erat dengan masyarakat di kabupaten Inhil sebagai sumber pendapatan ekonomi
sebagai nelayan berbagai macam hasil tangkapan aneka ikan, aneka udang, kepiting bakau, sebagai petani kelapa, sebagai pencari pucuk nipah dan pembuat arang bakau.

Potensi sumber ekonomi yang bergantung erat dengan ekosistem mangrove, dalam prosesnya akan menimbulkan ancaman yang serius terhadap ekosistem mangrove akan rusak.

Penangkapan ikan dan udang dengan meracun akan
mengakibatkan ekosistem di dalam mangrove akan rusak dan menurunya hasil tangkapan. Selain itu juga penebangan bakau sebagai tiang cerucuk untuk kebutuhan bangunan.

Begitu banyak potensi di kawasan ekositem mangrove di kabupaten Inhil. Namun disebalik itu juga menunggu ancaman akan rusak dan hancurnya ekosistem mangrove jika tidak sama dijaga dan dikelola dengan baik.

“Kegiatan ini sudah kami lakukan sejak bulan agustus tahun 2021 lalu. Ekosistem mangrove yang ada di Kabupaten Inhil merupakan asset penting bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat. Baik yang berada didalam kawasan
ataupun diluar ekosistemnya. Untuk itu, kawasan mangrove tidak boleh hancur oleh orang-orang tidak
bertanggungjawab,” kata Herbet, dalam rangka sempena Hari Mangrove Internasional 26 Juli 2022.

Dari Potensi luasan yang ada juga terkandung potensi hutan bakau bagi masyarakat baik dari sisi hasil perikanan, hasil hutan kayu, Hasil Hutan Bukan Kayu ( HHBK ) maupun hasil dari pemanfaatan lingkungannya.

Sebagaimana diketahui pemanfaatan terbesar dari keberadaan ekosistem ini adalah dari sector perikanan dan hasil hutan kayu.

Selain pemanfaatan langsung, kehadiran ekosistem ini juga memberikan dampak baik bagi perlindungan wilayah pesisir dari gelombang, intrusi air asin dan abrasi sebagai benteng alam terdepan bagi kebun – kebun khususnya perkebunan
kelapa masyarakat.

Penyelamatan mangrove telah dilakukan melalui program berkelanjutan, dengan pengelolaan berbasis masyarakat.

Di sini, ada terdapat 6 desa yang menjadi fokus program penyelamatan ekosistem mangrove, antara lain desa yang berada di 2 Kecamatan Inhil yaitu kecamatan Kuala Indragiri adalah Desa Sapat, Desa Perigi Raja, Desa Sungai Piyai, Desa Tanjung Melayu. Sementara di Kecamtan Mandah ada Desa Igal dan Desa Pulau Cawan.

“Peran aktif masyarakat diharapkan menjadi kunci dalam pengelolaan ekosistem mangrove. Dimana desa sebagai unit
terkecil dalam tata pemerintahan yang memiliki kewenangan untuk merencanakan pembangunan dan pengelolaan
wilayahnya berdasarkan karakter geografis masing – masing desa dan potensi yang ada,” harap Herbet.

Kepala Desa Pulau Cawan Said Khairani mengaku, sebelum ada program penyelamatan mangrove, masih sering ditemui pelaku perusak alam dengan cara ilegal. Seperti nelayan menangkap ikan dengan cara meracun, penebangan kayu bakau oleh masyarakat luar serta penebangan kayu mangrove dijual untuk dijadikan kayu cerocok dan arang.

Namun sejak berjalannya program penyelamatan mangrove, kesadaran masyarakat mulai terbangun untuk menjaga mangrove di Pulau Cawan. Kualitas SDM meningkat khususnya sebagai Kelompok Masyarakat Pengawas
(Pokmaswas) di desa masing-masing, sehingga penebangan kayu bakau menurun.

Selain itu, kondisi udara di Pulau Cawan berbeda dengan tempat lain. Hal ini didukung adanya mangrove yang lebat dan terjaga. Dari segi perikanan juga hasil tangkapan nelayan selalu stabil, karena sudah ada control dan penjagaan
pada mangrove.

“Sebagai kepala desa tentunya saya sangat menyambut baik program dari YMI dan YPL. Sebelumnya, di tahap awal,
program dari YMI dan YPL masih terjadi pro dan kontra di masyarakat. Namun beriring berjalannya waktu,
pemahaman dan kesadaran masyarakat mulai timbul, sehingga program penyelamatan mangrove telah menjadi tujuan
bersama untuk menyelamatkan ekosistem di Pulau Cawan,” kata Said. (mad)

 36 total views