Kamis, Maret 12, 2026
BerandaHeadlineBulutangkis MengASEAN: dari “Hu Ha” lalu “Ea Ea” dan “Yaaaa”

Bulutangkis MengASEAN: dari “Hu Ha” lalu “Ea Ea” dan “Yaaaa”

OLEH: Yuni Andono Achmad, S.E., M.E., Gambar dari ESPN judul “Welcome Istora Where Badminton Rocks”

Mengacu pada beberapa data situs sport terkemuka, olahraga nomor satu di dunia adalah sepakbola. Hal tersebut dilihat dari jumlah fans atau pendukung yang sampai angka 4 (empat) juta orang/ lebih. Pembaca dapat memasukkan kata kunci the most popular sport di situs pelacak seperti Google!. Agak mengejutkan adalah nomor duanya. Yaitu olahraga cricket atau Kriket. Olahraga yang hanya terkenal di negara persemakmuran (commonwealth) atau bekas jajahan Inggris ini terbanyak kedua fansnya, sampai 2.5 juta orang. Lalu olahraga hoki, baik hoki es maupun hoki lapangan. Hoki ini lebih terkenal di Eropa dan Amerika Utara, dan Australia. Nomor keempatnya adalah tenis lapangan, dan kelima bola voli.

Bulutangkis di luar 10 besar -merujuk pada data WorldAtlas [dot]com. Namun hal tersebut berbeda kondisinya apabila melihat fenomena penonton bulutangkis di Asia Tenggara (atau ASEAN, Association of South East Asia Nation). Dilihat dari kejuaraan Asia di Manila, Filipina, bulan April 2022. Lalu Thomas/ Uber Cup di Bangkok, Thailand, bulan Mei lalu. Berbarengan dengan Sea Games di Hanoi, Vietnam. Kemudian Indonesia Master dan Indonesia Open di Istora Senayan, Jakarta, bulan Juni. Dan terakhir kemarin Malaysia Open di KL, final tanggal 3 Juli 2022.

Kalau Indonesia dan Malaysia -dan Thailand- mungkin tidak terlampau mengejutkan karena memang budaya prestasi sudah dimulai sejak tahun 1960an. Tapi bagaimana dengan Vietnam. Atau mungkin Vietnam masih kita maklumi penontonnya sangat banyak, karena dulu pernah punya Nguyen Tien Minh pemain mereka yang sempat meraih perunggu di kejuaraan dunia bulutangkis. Tapi itu tahun 2013, dan sekarang Nguyen TM sudah berusia mendekati 40 tahun.

Sebenarnya tidak ada pemain Vietnam yang tampil di final bulutangkis Sea Games 2022, namun penonton tetap berjibun. Kemudian satu lagi, bagaimana dengan Filipina. Tidak memiliki pemain bulutangkis yang berprestasi, tanpa wakil di 16 besar kejuaraan Asia, tapi penonton tetap berbondong-bondong ke stadion di kota Manila saat kejuaraan Asia berlangsung.

Bisa jadi ini efek domino. Kejadian domino effect bukan mutlak untuk menggambarkan krisis moneter yang mencengkeram Asia Tenggara tahun 97/98, tapi sekarang kegairahan warga Asia Tenggara melihat pertandingan bulutangkis. Mungkin gegara melihat kegairahan pebulutangkis Malaysia dan Indonesia, ditambah ramenya penonton, membuat publik Manila pun tergerak ke stadion. Padahal olahraga nomor satu di Filipina adalah bola basket.

Sebenarnya dulu Rexy Mainaky sempat beberapa pekan -hampir saja melatih tim bulutangkis the Philipinos. Waktu itu tahun 2012 sebelum ditarik Ketua Umum PBSI Gita Wiryawan untuk menjadi pelatih kepala di pelatnas.  Sesuai judul, istilah mengASEAN ini merupakan penyederhanaan untuk mengglobal di tingkat Asia Tenggara. Kalau ada istilah mengglobal, maka bulutangkis baru “mengAsean”, ia belum sampai global.

Saya jadi ingat, di tahun 1990-an. Di tabloid Bola (almarhum), antara yang mengatakan Camilla Martin pemain Denmark itu, atau malah omma Gillian Clark (pasangan Gillian Gowers dari Inggris). Pemain dari benua Eropa tersebut bilang, “Hanya di Senayan, bola/ shuttlecock bisa berbunyi …..”.

Pernah suatu saat final Indonesia Open mempertemukan Susy Susanti melawan Ye Zhaoying (Tiongkok). Saat bola dipukul Susy, penonton bilang “Haaa ….” ketika gantian Ye Zhaoying yang memukul, penonton teriak “Huuu ….”. lalu ketika Susy mendapat poin -yang artinya Ye mati langkah- penonton teriak: Yaaaa.

Pertandingan Susy lawan Ye pasti dilalui dengan reli-reli panjang. Sehingga penonton sempat untuk jeda sejenak sambil tarik nafas dan berteriak Huuuu dan Haaaa kembali. Uniknya, Ye Zhaoying sampai berhenti sesaat untuk tertawa. Mungkin si Ye Zhaoying merasa geli. Karena setiap pukulan diteriakin, dan ketika dirinya yang kalah poin -diakhiri dengan: Yaaa. Kayaknya Ye turut bergembira dengan atmosfer Istora Senayan tersebut.

Atau lihatlah kemarin saat Indonesia Master dan Indonesia Open, seorang Loh Kean Yew (Singapore) dan juga Chou Tien Chien (Taiwan) demikian menikmati teriakan penonton tersebut. Sehingga ketika pemanasan, seakan-akan memukul bola bayangan, dan penonton meneriakinya: Eaa Eaa. Ketika mereka pemanasan sambil meloncat-loncat, penonton pun teriak, “Eeaa eeaa”.

Pemain sekaliber Choi Sol Gyu (yang nowdays berpasangan dengan Kin Won Ho -putra sang legenda Korea, Gil Young Ah) mungkin juga merasa kikuk, saat memainkan atau memutar mutar raket sebelum dia pukul sebagai servis, penonton mengiringinya dengan, “Eeee” lalu pas dipukul dengan “aaaa”. Atau bingungnya Chiharu Shida (pemain women double dari Jepang) saat pemanasan di-ea ea juga. Mungkin doi pikir: Ngapain coba diteriakin.

Sang raksasa dari Odense pun, Victor Axellsen, juga girang. Saking gembiranya, saat partai semifinal dan final, melemparkan raket sebagai hadiah ke arah penonton Istora. Memang kegairahan bulutangkis itu ada di sini. Di Istora atau di “istana olah raga” ini. Pemain sekelas Anders Antonsen (Denmark) juga meng-upload di media sosial pribadinya soal histeria penonton Senayan itu. Lafal kata “istora senayan” menjadi begitu mudah diucap oleh pemain luar negeri.

Bagaimana dengan penonton Kuala Lumpur (KL) yang tanpa wakil Malaysia di final? Stadion Axiata tetap penuh. Mereka tetap bergemuruh. Tanpa adanya pemain Malaysia, pak cik dan mak cik bergantian mendukung sesama pemain Asean. Dari mulai Dechapol/ Sapsiree dari Muangtahi, kemudian Apriyani/ Siti Fadia, lalu Ratchanok Inthanon, dan Fajar/ Rian Ardianto, mendapat teriakan “yaa …. yaaa” ketika memukul bola.

Teriakan  “Huu Haa” di istora adalah era dulu. Sekarang ini -tahun 2022- selain kata-kata huuu dan haaa ditambah lagi dengan “Eeaa Eeaa”. Mungkin peran Tukul Arwana lewat tayangan program televisi berperan juga di situ, karena Tukul sering mempermainkan terminologi “eeaa” tersebut.

Di Kuala Lumpur ini dikenal satu kata saja yaitu “Yaaa”. Sepertinya penonton KL tidak suka mencemooh pemain lain, atau pemain dari luar. Tidak ada ungkapan “huuu” di Malaysia -jadi hanya dikenal “yaa” saja. Pekan depan, di turnamen Malaysia Master, barangkali juga begitu. Walaupun bagi para penikmat bulutangkis zaman old pernah agak sensi dengan penonton stadium negara, KL, di tahun 1988. Ketika semifinal Thomas Cup mempertemukan Indonesia dan tuan rumah Malaysia. Ada semacam poster besar dari penonton Malaysia, tulisannya “Garuda Falls”. Tapi itu romantika zaman dulu. Barangkali selevel dengan tulisan “Ganyang” yang dulu pernah kita tujukan ke mereka di stadion GBK.

Penonton Asia Tenggara ini jelas sangat berbeda misalnya dengan para penonton All England di Birmingham, Inggris. Di turnamen tersebut, suara dentingan raket ketemu shuttlecock masih bisa terdengar. Soalnya penonton diam. Barangkali berbisik pun dilarang. Di Jakarta, wasit harus mengulangi beberapa kali saat memanggil pemain, untuk sekedar menegur agar bergegas siap melakukan dan/ atau menerima service, atau memperingatkan agar tidak memprotes keputusan hakim (umpire) di dekat net.

Namun pentonton istora Senayan juga pernah jahat. Tidak ke pemain asing, malah ke pemain sendiri. Seingat saya Icuk Sugiarto yang pernah diteriakin “Huuu” yang panjang dari penonton. Mungkin penonton kesal. Salah satunya ketika Icuk kalah melawan Yang Yang (China) di final piala Thomas 1986. Atau juga barangkali saat semifinal kejuaraan dunia tahun 1989. Kedua pertandingan tersebut diselenggarakan di istora Senayan.

Melihat ramai dan berisiknya penonton ini, mungkin kawasan ASEAN bisa menjadi the real tuan rumah bagi olahraga bulutangkis. Kata “badminton” merupakan nama desa di Inggris. Kalau mereka punya desa Badminton, barangkali provinsinya adalah Asia Tenggara. Lalu mana district atau kabupaten bulutangkis yang cocok? Ia adalah kita. Indonesia tentu saja.

Situasi kondusif ini harus dijaga -kudu terus dipertahankan. Melihat animo penonton yang demikian besar -tampak dari Manila, Hanoi, Bangkok, Jakarta, Kuala Lumpur- maka perlu dicoba barangkali adanya kompetisi antar klub Asia Tenggara dengan memakai sistem atau metode home and away, alias kompetisi penuh.

Kegairahan bulutangkis muncul di kawasan ini. Tinggal ditindaklanjuti dengan kerjasama antara PBSI dan PB negeri jiran (atau BAM/ Badminton Association of Malaysia), tambah BAT-nya Thailand untuk memperluas segmentasi pasar. Sektor swasta tentunya akan sangat antusias menyambut event yang mampu menyedot ribuan penonton Asean datang ke stadion. Kalau dulu ada turnamen beregu antar Asean yang disebut Axiata Cup (sebelum pandemi) mungkin perlu diadakan turnamen lain lagi yang lebih rutin. Misalnya belum ada level turnamen dunia antar klub yang beregu.

Sebagai penutup. Di era 90-an ada pengurus PBSI bernama bapak Tintus Kurniadi. Beliau pernah mengusulkan agar bulutangkis memang menjadi olahraga trademark kita. Kalau perlu -masih kata beliau- hiasan di maskapai Garuda Indonesia adalah rangkaian  shuttlecock. Karena di cabang olahraga ini yang sering mengibarkan bendera merah putih di luar negeri, dengan lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Tidak ada yang salah untuk mencoba berinovasi dalam meningkatkan pasar Asean akan bulutangkis ini. Masa depan bulutangkis jelas ada di sini. Tepatnya di Asia Tenggara. Lebih spesifik lagi: Indonesia. Eeeaa eeaa, huu haa, yaaa.

artikel ini ditulis oleh Yuniandono Ahmad, pengamat olahraga dari kab. Bogor. Bekerja sebagai dosen di sebuah PTS di jalan Margonda, kota Depok, Jawa Barat. Menulis tentang bulutangkis di media sejak tahun 1996, seperti di rubrik Opini dan kolom Surat Pembaca. Sesekali menjadi konsultan manajemen di Kementerian/ Lembaga di Jakarta.

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer