oleh: Yuniandono Achmad S.E., M.E., pengamat olahraga tinggal di Bogor. Gambar tim India dari https://timesofindia.indiatimes.com/sports/badminton/india-vs-indonesia-badminton-thomas-cup-final-live-updates/liveblog/91572866.cms
THE History repeats itself. L’Histoire se Répète. Sejarah itu berulang. Kekalahan tim Thomas kita atas India (hari Ahad 16/ 05/ 22) memang terasa menyesakkan. Datang sebagai unggulan pertama, dan juara bertahan, namun takluk di tangan negara kuda hitam -yaitu India. Bahkan India sama sekali juga bukan kuda hitam. Lee Chong Wei -mantan pebulutangkis nomor satu dunia asal Malaysia- sempat meramalkan bahwa tim putra Tiongkok yang pantas menjadi kuda hitam di Thomas 2022 ini. Atau barangkali pengamat lain mengatakan bahwa kuda hitam itu adalah tim Thailand sang tuan rumah, yang punya tunggal andalan 2K (Kanthapon, dan Kunlavut). Atau malah negara Jepang yang memiliki 3K (Kento, Kenta, dan Kanta). Ternyata tidak.
Lalu apakah yang dimaksud sejarah berulang? Kalau pembaca yang arif budiman masih ingat, kapan tim kita kalah 0-3 terakhir. Ia adalah tahun 2014, di semifinal kita kalah 0-3 melawan Malaysia. Waktu itu partai pertama memang sudah diduga, Tommy Sugiarto kalah melawan Lee Chong Wei. Namun di partai kedua, tidak disangka pasangan nomor satu dunia milik kita -Hendra Setiawan/ Muhammad Ahsan- kalah melawan pasangan dadakan Malaysia, Tan Boon Heong/ Hoon Tien How. Partai berikutnya Hayom Rumbaka sudah down duluan dan kalah dari Chong Wei Feng -yang media Malaysia sering menyebut nama pemain ini dengan “Chong We yang lain”.
Bedanya tahun 2014 dengan tahun 2022 ini, kita yang memakai pasangan dadakan -yakni Ahsan/ Kevin. Persamaannya, pemain kita sempat mencapai match point, alias hampir menang. Baik Hendra/ Ahsan (2014) dan Ahsan/ Kevin (2022) tinggal meraih satu angka untuk menang. Ini mengindikasikan bahwa kita jangan cepat gembira -meskipun sudah menginjak angka 20 lebih dulu. Pada partai final sehari sebelumnya, tim Uber Korea juga mengalahkan Tiongkok sangat tipis 3-2. Partai pertama An Seo Yong dari Korea mencapai match point lebih dulu namun dapat disusul dan akhirnya kalah dari Chen Yu Fei.
Sejarah berulang berikutnya adalah adanya persamaan tim Thomas India 2022 dengan langkah kita di kejuaraan Thomas 2020 (atau yang terselenggara 2021, tepatnya delapan bulan lalu). Di fase grup kita bareng Cina Taipei, demikian pula India di tahun ini. Hanya bedanya tahun lalu kita menang 3-2 (namun ganda kita kalah semua), sedangkan India di fase grup kalah melawan Cina Taipei 2-3 (lagi-lagi dengan gandanya kalah semua). Babak perempat final, tahun lalu kita melawan Malaysia dan menang 3-0. India juga melawan Malaysia di perempat final, menang, tapi skornya 3-2. Kemudian babak semifinal kita di 2021 mengalahkan Denmark 3-1, India juga menang atas Denmark di semifinal tahun ini dengan skor 3-2. Saat di final kemenangan atas lawan (musuh menjadi runner up) sama-sama 3-0.
Persoalan pasangan baru Ahsan/ Kevin mengingatkan pada ajang Thomas tahun 1988 di Kuala Lumpur. Pasangan asli kita adalah Liem Swie King/ Edy Hartono, dan Bobby Ertanto/ Gunawan atau Bobby/ Kartono. Namun untuk mengelabui tim Tiongkok (atau China saat itu), dan menghindari pasangan kuat Sidek Bersaudara, maka pasangan kita menjadi Edy Hartono/ Gunawan di partai keempat, dan King/ Bobby di partai kelima. Namun harapan untuk mengelabui Tiongkok tidak terjadi ,karena tim kita kalah di semifinal melawan tuan rumah Malaysia.
Apa kekurangan tim kita di ajang Thomas Uber Cup (TUC) kali ini? Belum mengoptimalkan semua pemain. Ada tunggal putra kita -bernama Tegar Sulistyo- yang sama sekali belum diturunkan selama perhelatan TUC di Impact Arena Bangkok ini. Beda dengan tahun lalu, ke-12 pemain sempat diturunkan meski hanya satu kali. Tahun lalu Cico Aura Dwi Wardoyo dan Hendra Setiawan hanya sekali bermain. Sekarang, Hendra juga sekali, demikian pula Fikri (ganda) dan Syabda Perkasa Belawa. Sementara Tegar Sulistyo tidak pernah diturunkan.
Sepertinya paradigma strategi yang dipakai PBSI adalah don’t change the winning team. Terutama sejak perempat final. Pasangan Mohammad Ahsan/ Kevin Sanjaya Sukomuljo tetap dipertahankan. Padahal sempat kalah melawan Korea (saat fase grup, yaitu versus Kang Min Hyuk / Seo Seung Jae). Tentunya kekurangan ini seandainya ditutup juga tidak bisa mengganti takdir. Bahwa kita kalah. Atau misal kita berdayagunakan lagi Bagas/ Fikri dan Syabda Belawa, belum pasti juga menang.
Sebenarnya waktu melawan Jepang, ketika Ahsan/ Kevin menang atas Takuro Hoki/ Yugo Kobayashi, pasangan kita termasuk beruntung. Terutama set pertama ketika ketinggalan 7-17, dan mampu membalikkan keadaan menjadi 20-20 dan menang 22-20. Namun memang keberuntungan tidak datang dua kali. Pada partai, game atau set kedua sudah match point, gentian pasangan India yang bisa membalikkan keadaan.
Tidak akan merubah tim terbaik, dilakukan India juga meski tidak 100 persen. Karena pasangan ganda kedua mereka sering dirubah, yaitu antara Krisna Garaga/ Wisnuvardhan Panjala dan Mr Arjun/ Dhruv Kapila.
Alasan PBSI untuk mempertahankan Ahsan/ Kevin barangkali karena kurva permainannya menaik atau meningkat. Sejak kalah melawan Korea secara rubber game, lalu mengalahkan pasangan Tiongkok (Liu Yu Chen/ Ou Xuan Yi) dengan straight set, kemudian menang secara dramatis atas pasangan dari Jepang -Hoki/ Kobayashi. Faktor U (atau usia) dari Ahsan yang sudah kepala 3 (tiga) dan Kevin yang mendekati 27 tahun, bisa jadi salah satu sumber kekalahan ketika menghadapi pasangan usia 21 tahun dari India -Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty.
Bisa diamati pas Ahsan/ Kevin menang straight set atas Cina, dan berikutnya menang rubber game atas Jepang, grafik permainan Kevin Ahsan sudah menurun. Tapi memang apa hendak dikata. Risiko juga kalau misalnya coach Herri IP memasang Fajar Alfian/ Rian Ardianto sebagai ganda pertama, karena partai sebelumnya kalah atas pasangan Yuta Watanabe/ Akira Koga. Risikonya kalau tidak menang ya kalah.
Pasangan India bernama Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty ini sebenarnya memiliki rekor buruk saat melawan ganda kita. Terutama kepada “the Minnions”, si India ini selalu kalah -belum pernah menang sama sekali. Sayangnya Marcus Gideon mengalami cedera lama, sehingga tidak bisa turun di ajang TUC kali ini. Demikian pula tunggal kedua Srikanth Kidambi, sebelum kejuaraan TUC 2022 ini kalah dua kali berturut turut melawan Jonathan Christie (di Swiss Open dan di kejuaraan Asia bertepat Manila baru-baru lalu). Namun memang mereka menang di saat yang tepat. Kita sering menang, tapi sayangnya: Just win the battle but not the war. Mereka menang dalam perang (war, yaitu TUC ini), tidak hanya menang atau malah kalah di event turnamen dalam pertempuran atau battle.
Pepatah atau analogi just win the battle but not the war. juga berlaku bagi Tiongkok yang kalah di final piala Uber melawan Korea Selatan, sehari sebelumnya. Pemain Tiongkok -terutama ganda Chen Qing Chen/ Jia Yifan, dan tunggal terakhir Wang Zhi Yi- merupakan unggulan, namun rontok di partai final.
Selain beberapa faktor di atas, barangkali perihal kesabaran juga yang memenangkan India. Mereka sabar untuk tetap mempertahankan pasangan Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty yang prestasinya naik turun. Maksudnya tidak merombaknya. Sewaktu Olimpiade Tokyo setahun yang lalu, pasangan Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty ini mampu mengalahkan ganda Taiwan, Lee Yang/ Wan Chi-Lin. Namun pertandingan berikutnya kalah melawan pasangan Korea dan pasangan kita -Marcus Gideon/ Kevin Sanjaya. Pasangan Cina Taipei -Lee Yang/ Wan Chi-Lin- inilah yang merebut emas Olimpiade Tokyo lalu. Tentunya juara yang tidak 100 persen mendapat kemenangan atas lawannya (karena sempat sekali kalah di fase grup). Walaupun itu sah-sah saja. Mirip tim Thomas India kali ini yang sempat kalah di putaran grup melawan Cina Taipei dengan 2-3.
Kesabaran berikutnya dari India adalah perlu 74 tahun untuk menjadi juara Thomas. Sejak terselenggara piala Thomas tahun 1948 baru kali inilah mereka ke final dan menang. Selama ini India memiliki sejarah tunggal putra yang termasuk cemerlang. Dari Prakash Padukone yang menjadi juara All England tahun 1980, dilanjutkan Pulela Gopichand di tahun 2001. Srikant Kidambi juga pernah berjaya di China Open tahun 2014 mengalahkan sang legenda asal Tiongkok -Lin Dan.
Pertandingan telah usai. Saatnya menatap kejuaraan lain. Minggu ini ada Sea Games di Vietnam yang menyelenggarakan juga ajang beregu bulutangkis. Kemudian masih ada Asian Games di Tiongkok, yang sejak tahun 1998 kita belum lagi mendapat emas beregu putra. Kemudian tahun depan ada Sudirman Cup, yang telah kita tunggu 34 tahun lamanya (sejak 1989) belum pernah lagi juara.
Belajar dari sejarah, jadi ingat kata-kata manajer Tiongkok bernama Li Yongbo ketika mereka kalah 1-3 di final Uber tahun 2010 di Kuala Lumpur. Kalimat yang terucap Li Yong di depan wartawan kurang lebih adalah: Tidak apa-apa kami kalah, biar bulutangkis makin ramai. Naahh mungkin itu yang perlu juga disadari oleh netizen badminton lover (BL) dari Indonesia. Kecintaan akan bulutangkis sebaiknya memang lintas negara. Pasti menyakitkan kekalahan tim kita, tapi untuk semakin menambah menarik olahraga ini maka juara juga harus bergilir. Kali ini juara bertahan Uber dan Thomas (Tiongkok dan Indonesia) harus takluk di final.
Mungkin memang sebaiknya demikian. Uber Cup tahun ini mendatangkan juara baru Korea setelah menunggu 12 tahun. Piala Thomas menghadirkan India ang menunggu 74 tahun. Memang, mempertahankan jauh lebih susah daripada merebut.
Just like the saying goes: time flies like an arrow. Waktu itu akan berlalu begitu saja. Waktu cepat berganti. Mari songsong rangkaian turnamen baru. Tetap semangat bulutangkis Indonesia!
Yuni Andono Achmad, adalah seorang dosen di sebuah PTS di jalan Margonda, kota Depok. Tulisan pertama mengenai bulutangkis yang keluar di media adalah pada tahun 1996 di tabloid Bola. Tepatnya pada rubrik “Surat Pembaca” yang kemudian dipilih redaksi menjadi headline (tulisan terbaik) saat itu. Penulis adalah alumnus FEB Universitas Gadjah Mada, kemudian meraih gelar S2 dari Magister Perencanaan Kebijakan Publik (MPKP) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, kampus Salemba, Jakarta. Memiliki akun instagram di andonoachmad, dan facebook di Yuniandono Ahmad


