Chris Triwarseno: Setiap waktu yang berlalu, adalah sepenggal perjalanan memori yang terekam, sebagian merupakan kenangan yang merekonstruksi sedih dan bahagia, momentum berpijak untuk masa depan. Melangkah adalah konsekuensi dinamis, seperti halnya pergerakan jarum jam, waktu-waktu itu bersama kita dan berputar seiring siklus hidup.
BERPACU DENGAN WAKTU
Menit demi menit sudah kaureguk
Dari hela nafas barusan
Belum sempat beranjak, tapi sudah kau mulai
Pergerakan kedua jarum itu
Baru saja hendak kureguk secangkir teh manisku,
Sudah kau putar otak ini untuk berpikir
Langkah baru saja sejengkal, tak ayal
Kau jegal lagi dengan pegalnya tubuh ini
Ngilu masih saja terasa, karena kau bungkam
Bicaraku dengan perseteruan waktu
Kancing bajuku masih terbuka,
Sudah juga kau ajak aku berlarian
Mengejar pintu yang segera tertutup
Tali sepatu belum tersimpul, tetap saja kau
Tak sabar menarikku sambil lalu
Jarum itu terus saja melaju ke angka-angka berikutnya
Tak pernah mau tau
Aku hanya selalu menjadi bayangan,
Yang selalu tertinggal oleh tuannya
Atau jejak tapal kuda yang selalu
Ditinggalkan turangganya
(September 2008)
RAPUH
Tuhan hanya ini pintaku, jika aku rapuh
Semoga tidak mengeluh
Dan jika tangguh
Semoga tidak angkuh
Hanya peluh
Ini yang membuatku bersimpuh
(Juni 2017)
TOPENG KEHIDUPAN
Tak lagi ramai diperbincangakan
Lirik lagu buka dulu topengmu
Keaslian sudah ditopengkan
Demi kepentingan semu
Badut pun sudah tak lucu
Meskipun berada dibalik topeng
Pemangku kepentingan tak ragu
Meskipun berada dibalik bopeng
Lagu maupun sajak satir
Tidak lagi menjadikan mereka getir
Surat terbuka maupun angkat bicara
Tidak lagi menjadikan mereka jera
Melangkah jumawa diatas kepapaan
Menangis lah jelata terabaikan
Suara sumbang bungkam kegaduhan
Hanya ada kejujuran yang tergadaikan
Sebelum kepentingan menelikung
Aku, kamu, kita dan kami
Hanya obyek penderita buntung
Selebihnya ya hanya tunggu nanti
Tunggu saja Togog dan Mbilung
Jadi Ksatria palsu yang ulung
Pengekor setianya hanya bingung
Jadi pelakon topeng agung
(Maret 2017)

CHRIS TRIWARSENO, lahir di Karanganyar, 14 Februari 1981. Alumni Teknik Geodesi UGM, Yogyakarta. Seorang karyawan swasta yang tinggal di Ungaran, Semarang. Penulis buku puisi “Bait-bait Pujangga Sepi”, aktif di beberapa komunitas literasi. Beberapa karyanya yang lain diterbitkan di media seperti: Suara Merdeka, nadariau.com, negerikertas.com, Arahbatin.com lensalawu.com dan lain-lain.


