Jumat, Maret 13, 2026
BerandaHeadlineGanda Bulutangkis Kita ini Bisakah Bertahan Lama?

Ganda Bulutangkis Kita ini Bisakah Bertahan Lama?

Muhammad Shohibul Fikri dan Bagas Maulana, harus jatuh bangun saat menghadapi Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan di final All England 2022. (Action Images via Reuters/Ed Sykes) foto dari cnnindonesia

ditulis oleh: Yuniandono Achmad, SE., ME., staf pengajar di Gunadarma (Depok)

JUDUL opini kami kali ini membahas pasangan juara All England kemarin, pasangan gado-gado Bandung dengan Cilacap, antara Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Apakah mereka akan bertahan lama? Bertahan lama dalam hal ini seperti Hendra Setiawan (Moh Ahsan juga bisa dimasukkan) yang masih bisa menjadi finalis pada usia 37 tahun.

Patut disyukuri tergelar All Indonesian Final. Bayangkan perlu menunggu 21 tahun untuk terjadinya All Indonesian Final di All England. Terakhir pada tahun 2001 antara Tony Gunawan/ Halim Haryanto melawan Sigit Budiarto/ Chandra Wijaya, kemudian semalam Muhammad Shohibul Fikri/ Bagas Maulana mengalahkan seniornya Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.

Pada tahun-tahun sebelumnya, All Indonesian Final juga pernah terjadi pada 1973, 1974, 1975, 1977, 1978, 1981, 1994, dan 1995. Duel Fikri/Bagas semalam menjadi yang ke-10 dalam sejarah ganda putra All England, namun menjadi yang pertama di era 21 poin. Dapat dikatakan tim Indonesia merupakan pengumpul gelar ganda putra terbanyak di All England. Terakhir adalah “the Daddies” mendapatkan juara di tahun 2019, setelah sebelumnya “the minnions” mendapatkannya tahun 2017 dan 2018.

Fikri dan Bagas menjadi juara All England dengan mengalahkan lawan-lawan yang berat. Di babak pertama mengalahkan sesama pasangan muda Indonesia, dengan rangking yang lebih tinggi -yaitu Pramudya Kusumawardana/ Yeremia Rambitan.  Selanjutnya pasangan Malaysia yang baru saja juara Jerman Terbuka –yaitu Ong Yew Sin/ Teo Ee Yi- unggulan kedelapan diembat rubber set. Lalu mengalahkan juara dunia 2021 dari jepang, Takuro Hoki / Yugo Kobayashi dalam laga perebutan tiket semifinal di Birmingham, lagi lagi rubber. Hebatnya pada set ketiga, pasangan muda kita tertinggal 17-20 match point buat pasangan Jepang. Fikri/ Bagas malah memang 22-20. Berikutnya menyingkirkan ganda unggulan pertama “the minnions” dalam rubber game. Di partai final mengalahkan juara All England tiga kali, the daddies, dalam straight set.

Sekali lagi hasil yang perlu disyukuri. Artinya regenerasi di sektor ganda berjalan lancar. PBSI tentunya harus dengan bijak dan dewasa menganggap keberhasilan ini sebagai awal. Beberapa contoh ganda kita –yang juara di saat muda- namun berikutnya mengalami antiklimaks. Contoh dulu ada Sigit/ Chandra yang juara dunia di usia 22 tahun –tahun 1997. Berarti seusia Fikri. Namun semenjak itu Sigit/ Chnadra menurun prestasinya. Kemudian Chandra dipasangankan dengan Tony Gunawan –yang keduanya berhasil meraih emas Olimpiade Sydney tahu 2000. Sigit/ Chnadra sempat dipasangkan kembali dan meraih gelar all England 2003. Namun saat olimpiade 2004 dipecah lagi, Sigit berpasangan dengan Trikus Heryanto. Pada waktu Sigit/ Chandra juara All England 2003, sektor tunggal juga menghasilkan kejutan dengan munculnya Hafiz Hashim dari Malaysia. Namun sayang sesudah juara AE, Hafiz Hashim menurun dan sempat didera cedera berkepanjangan. Pernah saat kejuaraan beregu Axiata Cup, Hafiz Hashim kalah melawan “anak kemarin sore” yaitu Shesar Hiren Rustavito yang berusia 19 tahun.

Atau mungkin nasibnya mirip dengan pasangan kita yang akhir-akhir ini sering kalah di babak kedua yaitu Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto. Fajar/ Rian bersinar pada tahun 2019, dengan menjuarai Korea Open, dan Malaysia Series. Fajar/ Rian malah kalah bersaing dengan the Daddies untuk menuju Olimpiade Tokyo tahun kemarin. Meski kita tetap perlu berterimakasih kepada duo Fajri ini karena bermain cemerlang selama piala Thomas 2021 lalu. Apa persamaan Fajar/ Rian dan pasangan kampiun All England Fikri/ Bagas? Saat Fajar/ Rian Berjaya di tahun 2019, usinya sama dengan Fikri/ Bagas sekarang. Kemudian gaya bermain pasangan muda, yaitu speed and power.

 

Sebagai pemain muda pada umumnya, mereka tampil dengan gaya “gebuk” dan pertandingan cepat. Mengandalkan smash keras, kecepatan memukul, dan kecepatan waktu atau game sehingga pertandingan berjalan dengan tempo pendek pendek. Maka bisa dinamakan madzhab atau gaya bermain Fikri/ Bagas ini sebagai “speed and power“ –seperti yang disebut di muka.Disebut power karena tenaga kuat, dengan gebukan smash loncat tinggi dan menukik tajam. Kemudian disebut speed karena 2 (dua) hal. Pertama adalah high speed atau kecepatan tinggi, dan kedua karena cepat selesai (fast). Fikri/ Bagas jarang mau bermain lama lama. Intinya ada 3 (tiga). Yaitu pertama arahkan bola ke badan lawan, gebuk dari belakang, kemudian gebuk dari pemain depan. Berbeda dengan Hendra/ Ahsan yang mengarahkan bola agar jauh dari lawan. Sementara Bagas/ Fikri mengarahkan smesh ke badan lawan.

Bila kita melihat sejarah ganda era 80-an, setidaknya ditengarai beberapa gaya. Misal kita mulai sejak era Liem Swie King (tahun 1984 berpasangan dengan Kartono).

 

Pertama gaya klasik atau old style. Mereka mengandalkan positioning. Ini dulu dilakukan oleh Eng Hian/ Flandy Limpele, dan sekarang barangkali Hendra/ Ahsan. Bola dibiarkan berlama lama di udara, kemudian diarahkan ke tempat kosong lawan. Mereka bermain cepat hanya ketika ada kesempatan mematikan lawan –artinya lawan punya ruang kosong yang susah dijangkau.Apabila kita melihat final piala Thomas tahun 1992, gaya positioning semacam ini ada juga yang dibingkai dalam kerangka bertahan, atau malah multi defends.Dia adalah Razif/ Jalani Sidek. Tapi setelah Razif/ Jalani selalu menang ketika melawan pasangan Indonesia (terhitung sejak Thomas 1988), mereka kalah saat lawan Edy Hartono/ Gunawan tahun 1992.Kemudian kedua gaya speed and art. Cepat dan kreatif –karena ada unsur “art” nya. Misalnya dilakukan oleh Sigit Budiarto sewaktu berpasangan dengan Chandra Wijaya. Sigit untuk seni, dan Chandra untuk kecepatan.  Sigit pernah juga berpasangan dengan Trikus Heryanto sewaktu Olimpiade Athena 2004, dan keduanya lebih bermain layaknya seniman. Pada era kekinian,  pasangan Markus Fernaldi Gideon/ Kevin Sanjaya Sukomuljo dapat dikatakan pada gaya ini.

 

Ketiga, power drive alias mengandalkan bola drive. Dalam hal ini drive datar dengan tekanan engkel tangan yang cepat. Gaya ini kemungkinan -atau sepengetahuan saya- dimulai oleh pasangan Korea Park/ Kim. Park Joo Bong/ Kim Mon So, sang peraih emas ganda putra tahun 1992, di final mampu mengalahkan Edy Hartono/ Gunawan yang memiliki gaya powerfull dengan smash keras.Kemudian pasangan emas olimpiade 2000, Tony Gunawan/ Chandra Wijaya, juga cenderung mengandalkan drive dan kecepatan. Apabila melihat kondisi zaman now, sepertinya hampir semua pemain ganda dunia memakai gaya power drive ini. Gaya power drive ini bisa dibagi 2 (dua) yaitu agresif atau menyerang, dan cenderung bertahan atau defends. Hampir semua tipikal pemain ganda yang mengandalkan drive cenderung untuk menyerang. Namun ada sedikit pemain ganda yang defends, salah satu yang terkenal adalah Lee Yong Dae/ Jung Jae Sung (almarhum). Atau pemain ganda Mathias Boe/ Carsten Morgensen yang juga sudah pension, juga Goh V Shem/ Tan Wee Kiong dari Malaysia. Tipe bertahan cenderung mengandalkan serangan balik, dengan memanfaatkan pengembalian keras dari lawan. Jadi ketika diserang, maka mereka persiapkan balasan ke ruang kosong lawan –secara cepat.

Sebagai penutup, kewaspadaan akan masa depan Fajar/ Bagas harus dipikirkan. Saat ini pasti tawaran untuk sponsor lebih besar akan masuk. Bisa dari iklan, televisi, wawancara media, kemudian raket dan peralatan olah raga lainnya. Selain itu gaya powerfull atau tipe penggebuk akan membutuhkan stamina lebih, dibandingkan tipikal placing -yang cenderung menempatkan bola jauh dari jangkauan lawan. Anyway walaubagaimanapun PBSI bisa mendapat alternatif pemain lebih banyak untuk Thomas cup dan Sea Games –serta beregu Asian Games bulan September nanti. Selamat Bagas/ Fikri!!!

Yuni Andono Achmad, pengamat bulutangkis, tinggal di kabupaten Bogor

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer