Jumat, Maret 13, 2026
BerandaIndeksOlahragaKemunculan Gen-Z di Bulutangkis

Kemunculan Gen-Z di Bulutangkis

oleh: Yuniandono Achmad, SE, ME. Pengamat bulutangkis, dosen PTS di kota Depok.

Hari Senin dini hari kemarin (tanggal 14/ 03/ 22 bertepatan dengan 11 Syaban 1443 H) telah berlangsung final Germany Open yang bertempat di Westernegie Sporthalle, Jerman. Dari kelima nomor final, hanya ganda campuran Thailand (Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai) yang berusia mendekati 30 tahun.

Keempat sektor lainnya -selain mixed double– menghasilkan juara dari generasi Z. Mereka adalah Kunlavut Vitidsarn (tunggal putra dari Thailand), He Bingjiao (tunggal putri Tiongkok), pasangan Chen Qing Chen/Jia Yi Fan (putri Tiongkok) dan pasangan Goh Sze Fei/Nur Izzuddin (putra Malaysia).

Disebut generasi Z atau gen-Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1997 sampai dengan 2012. Usia mereka belum genap 25 tahun pada 2022 ini.

Kembali ke juara Jerman Open, khusus untuk sektor tunggal putra dan putri yang mereka hadapi di final adalah sesama gen Z. Bahkan untuk tunggal putra, partai final mempertemukan sesama usia 20 tahun. Sang juara Kunlavut Vitidsarn kelahiran tahun 2001 bulan Mei. Melawan pula Lakshya Sen (India) kelahiran tahun 2001 bulan Agustus.

Kunlavut merupakan eks didikan Rexy Mainaky di pelatnas Thailand dulu. Kunlavut mantan juara dunia yunior 3 (tiga) kali berturut turut. Dari yang pertama ketika juara dunia yunior tahun 2017 di Yogyakarta, seterusnya sampai 2019. Sedangkan Lakhsya Sen pernah mendapat sentuhan pelatih Prakash Padukone (sang legenda India yang sempat menjadi juara All England era Liem Swie King).

Meski menciptakan hattrick juara dunia yunior, namun Kunlavut pernah gagal menjuarai kejuaraan perseorangan Asia kelas taruna. Ia dikalahkan oleh Lakshya Sen, lawannya di final Jerman open ini. Meski Kunlavut lebih tua tiga bulan daripada Sen, dan prestasi lebih moncer di kelas taruna, namun untuk profesional peringkat Sen lebih bagus. Apalagi didukung oleh ditahbiskannya juara India Open bulan lalu kepada Lakhsya Sen. Lawan Sen di final India Terbuka pun tidak sembarangan, yaitu sang juara dunia dari Singapura, Loh Kean Yew.

Jalan menuju final Jerman Open mereka berdua lalui dengan terjal, karena lawan-lawan yang tergolong gaek dan sangat berat. Kunlavut Vitudsarn mampu menyingkirkan Jonathan Christie dari Indonesia (peraih emas Asian Games 2018), kemudian menewaskan Lee Jii Zia dari Malaysia -juara All England tahun 2021. Sedangkan Lakhsya Sen mengalahkan Antony Sinisuka Ginting (peraih perunggu Olimpiade Tokyo tahun lalu), dan menghentikan pemain nomor satu dunia, peraih emas olimpiade Tokyo, sang jawara dari Denmark -yaitu Viktor Axelsen.

Dengan berhasilnya Kunlavut Vitidsarn menjadi jawara, dan mulai merebaknya prestasi Lakhsay Sen (setelah juara India Open) maka bisa jadi generasi Y -atau millennials- yang diwakili Axelsen, Ginting, Jojo, dan barangkali Kento Momota dari Jepang, pelan-pelan akan tergerus dominasinya. Generasi Z akan menggeser generasi Y. Generasi yang lebih bugar akan menghilangkan generasi yang lebih tua. Barangkali demikian analoginya.

Bagaimana dengan tunggal gen Z kita? Di tunggal putra ini generasi Z kita diwakili oleh Chico Aura Dwi Wardoyo, yang terhitung masih tenggelam dibandingkan generasi Y kita yaitu trio peraih Thomas Cup lalu -Antony Ginting, Jonathan Christie, dan Shesar Hiren Rustavito. Dengan teman seangkatan -misalnya Lee Jii Zia dari Malaysia- masih sering kalah, kali ini sepertinya malah dengan yuniornya -Chicco dilanggar prestasinya.

Ketika Kunlavut juara dunia yunior tahun 2017, tunggal kita Gregoria Mariska Tunjung Cahyaningsih menjadi juara Women Single. Namun sayangnya ketika Kunlavut mulai juara, si Gregoria tak kunjung menjadi kampiun kejuaraan BWF. Kita tunggu nanti di All England besuk hari, akankah Gregoria (yang mampu membawa tim putri juara beregu Asia) akan mengikuti jejak teman seangkatannya dari Thailand tersebut.

Sedangkan di sektor tunggal putri, He Bingjao mampu melakukan revans ketika Olimpiade Tokyo 2020 dikalahkan rekan senegaranya Chen Yufei. He Bingjao mengalahkan Chen Yufei secara straight set di final Jerman Terbuka kali ini. Final sesama Tiongkok (All Chinesse Final) ini mengubur impian generasi “sepuh” seperti Ratchanok Ihtanon (Muangthai), Tai Tzu Ying (Taiwan), Pusarla SIndu (India). Ada dua generasi Z yang disingkirkan oleh He Binjao, yaitu Akane Yamaguchi dari Jepang, dan An Seo Young (Korea Selatan). Artinya sesama generasi Z dikalahkan oleh generasi Z juga.

Setelah absen semenjak perhelatan Olimpiade Tokyo lalu (artinya sudah 6 (enam) bulan off) raksasa bulutangkis Tiongkok menggeliat kembali. Bahkan mereka menelorkan pasangan baru di ganda putra serta ganda campuran, dan hebatnya bisa masuk final. Seandainya pasangan ganda campuran Ou Xuan Yi/Huang Ya Qiong dan Liu Yu Chen/Ou Xuan Yi menjadi juara, maka kata-kata Julius Cesar mereka praktikan, “Veni Vidi Vici”. Seperti layaknya Zhao Jianhua yang masih ingusan bisa menjadi juara All England tahun 1985: datang, lihat, menang.

Sayangnya mereka kalah. Sehingga Ou Xuan Yi yang turun di dua nomor final dengan terpaksa harus menerima kenyataan menjadi runner up di dua nomor favoritnya. Pasangan dadakan Ou Xuan Yi/Huang Ya Qiong meski di babak sebelumnya mampu menyingkirkan peraih emas Olimpiade Tokyo (teman senegaranya, yaitu Wang Yilyu Huang Dongping) namun takluk dengan mudah di tangan pasangan nomor satu dunia asal Thailand, Dechapol/ Sapsiree.

Seperti kita ketahui bahwa pada all England 2019, Decapol/ Sapsiree ini kalah di final All England melawan pasangan kita, Praveen Jordan/ Melati Daeva. Namun pasca olimpiade Tokyo kemarin, prestasi pasangan campuran Thailand ini melesat. Sementara Praveen/ Melati kian terpuruk dan malah dikeluarkan dari pelatnas.

Terakhir di nomor ganda putra. Ini menjadi alarm sinyal tanda bahaya bagi tim kita. Dengan suksesnya pasangan negeri jiran menjadi juara Jerman Open, artinya mereka memiliki 2 (dua) pasang ganda yang top di level dunia. Setelah Aaron Chia/ Soh Wooi Yik mampu merebut perunggu Olimpiade, kini mereka memiliki Goh Sze Fei/ Nur Izzuddin yang usianya masih 24 tahun.

Di Jerman Open kita menurunkan Fajar Alfian/ Muh Rian Ardianto, namun kalah pada babak kedua saat melawan ganda Tiongkok, He Ji Ting/Zhou Hao Dong. Padahal ganda Tiongkok ini yang mereka kalahkan secara straight set pada perhelatan piala Thomas lalu. He Ji/ Hao Dong ini babak selanjutnya kalah melawan Goh Sze Fei/ Nur Izzudin. Di tahun 2021 lalu, pasangan Fajar / Rian pernah menderita kekalahan dari pasangan Gen-Z asal Malaysia ini.

Sepertinya pasangan Fajar/ Rian mengalami stuck. Lawan-lawan yang seusia -dan bahkan yang dibawahnya- pada meningkat namun Fajar/ Rian masih berkutat di babak awal turnamen. Walaupun mungkin kita bisa positive thinking, siapa tahu Fajar/ Rian ini cocoknya di turnamen beregu, atau turnamen kejuaraan non series seperti Asian Games (karena mereka peraih perak AG 2018) atau bahkan olimpiade.

Benar-benar sinyal bahaya. Ketika generasi ganda kita yang “tua” (yaitu Hendra/ Ahsan, dan the Minnions) mulai meredup, namun Fajar/ Rian belum pada peak performance-nya (untuk tidak mengatakan “sedang menurun”) tapi pasangan usia 20an tahun kita juga belum beranjak naik. Tugas PBSI untuk bisa mengkatrol trio harapan kita -generasi Z- yaitu Leo Rolli Carnando/ Daniel Marthin, Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana dan Pramudya  Kusumawardana/ Yeremia Rambitan .

Semoga All England mendatangkan kesuksesan bagi tim kita.

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer