Rabu, Maret 11, 2026
BerandaUncategorized Pujangga Sepi

[kolom sastra] Pujangga Sepi

Pengantar

Dalam setiap laku yang kita sandarkan pada sebuah keutamaan, maka setiap detik adalah sebuah insyaf. Mencari sebuah makna batin dalam sebuah wening, kekosongan yang sangat berisi. Kejayaan atau mukti hanya kita dapatkan pada seutas tali keyakinan, yang kekangnya kita kendalikan. Munajat adalah hakekat keyakinan tanpa sekat.

Anglirmendung di Pusara Sambernyawa

(1)

Anglirmendung,
Lereng Lawu menyelinap gelap,
Menapaki setapak dan anak tangga
Hening malam menyekap, Astana Mangadeg.
Menuju pusara Sambernyawa,
Dalam takutnya, Nicolas Hartingh mungkin
Menyematkan nama itu.
Setiap kematian musuh, nyawanya tersambar!
Tak terkecuali Kapten Van der Pol,
Terpenggal kepalanya di Hutan Sitakepyak.

(2)
Tujuh malam Jum’at tanpa sela,
Entah berapa putaran, tujuh malam itu ku-ulang.
Membisu dari pintu gerbang sampai puncak,
Sebuah paseban, depan pusara Raden Mas Said.
Dalam kebisuan, sepertinya mantera,
Tiji Tibeh; “Mati siji, mati kabeh” atau “Mukti siji, mukti kabeh”,
Mukti semua atau tidak sama sekali.
Menyihir dan memanipulasi,
Sebentuk doa, menuju pencarian
Sebuah mukti, kejayaan!

Wewangian dupa dan kembang tujuh rupa,
Di antara cungkup-cungkup marmer dan batu
Berkelambu, putih seperti bersurban.
Bertutur kadigdayan, waskita dan linuwih
Seorang Pangeran Miji, Adipati Mangkunegara I,
Di bawah panji-panji perang biru-hitam dengan bulatan putih (bulan sabit).

(3)
Hening bermunajat,dengan keyakinannya sendiri.
Melesakkan doa pada Sang Hyang Widi
Tak kecuali, sosok kakek tua,
Seperti kukenali, disampingku.
Membuka bisunya, lirih hanya padaku
“Rumangsa melu handarbeni, wajib melu hangrungkebi lan mulat sarira hangrasa wani”,
Sambil menepuk pundakku,
Matanya menuju cungkup utama dihadapnya.
Kuikuti arah matanya,
Ke arah Mangkunegara I, penguasa Keduwang, Matesih, Gunung Kidul dan Laroh.
Kuhaturkan sembah sungkem batin padanya,
Undur diri, lengser paseban.

Hanya sekejap itu saja,
Sudah tak kudapati kakek tua tadi.
Paseban sudah sepi,
Menyisakan kepulan asap dupa wangi.
Hanya seorang juru kunci sepuh,
Berdiri di saka ke-7 depan pusara
Tepat dibelakangku.
Membisik , ” Malam Jum’at berkah, Ngger”;
“Kakek buyutmu sendiri, menuntun lelakumu sampai disini”.
Kuturuni kembali setapak Mangadeg, sendirian.
Sambil kukirim Al-Fatihah untuk kakek tua,
Ki Buyut Majan, leluhurku.

Pujangga Sepi
Februari 2022

CHRIS TRIWASENO (Pujangga Sepi), lahir di Karanganyar, 14 Februari 1981 dan tinggal di Ungaran, Semarang. Penulis buku puisi Bait-bait Pujangga Sepi “Ketika Kukatupkan Kedua Bibir Ini Sudah”. Beberapa karyanya juga dimuat di media online.

 

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer