Senin, Maret 16, 2026
BerandaUncategorized Nyanyian Keheningan

[Kolom Sastra] Nyanyian Keheningan

 

Pengantar

Disetiap titik perjalanan kehidupan, singgahlah dalam keheningan. Keheningan, seperti hutan sunyi yang kita bisa merasakan setiap desah nafas pepohonan, bisik angin, nyanyi murni satwa dan mungkin juga kita bisa mendengarkan bait suci pencipta hutan sunyi tersebut. Semua prasangka kita lemah tanpa arti, semua logika kita kosong tanpa isi dan semuanya hanya tunduk diluar kendali. Hanyutkanlah jiwa-jiwa ini dalam derasnya sungai ketidakberdayaan dihadapakan Yang Maha Berdaya, mengalir saja kemana akan dimuarakan, pada sebuah pertemuan di lautan ketertundukan. Melalui puisi-puisi ini, mari tenggelam menemukan makna kata dan tumbuh bermekaran dalam sebuah rasa.

 

Dua Lelaki Bersurban dan Naga

Di sepertiga malam,
Yang terbangunkan dalam1 keheningan
Seekor naga hitam menggiringku,
Dalam ketakutan.
Berhadap-hadapan tegang menggerikan
Belum pernah kutemukam sebelumnya.
Dalam ketakutan,
Kupanggil-panggil nama pemilik Naga
Sambil kumenyelinap masuk hutan.
Aneh saja, Naga terhenti diseberang.
Terdiamku dalam ketakjuban sepi hutan,
Semua pepohonan tersenyum,
Seperti kukenal, dan memberikan salam.
Mengarahkanku pada sebuah cungkup tua,
Diantara pohon Mahoni, yang jauh lebih tua.
Terang pendar cahaya, ditengah pekat
Meskipun hanya dari puluhan kunang
Yang beterbangan berputar diatas cungkup.
Berkelebat cepat, dari arah yang tak kutau
Berdiri tepat di kanan-kiri ku,
Belum pernah kutemukan sebelumnya.
Dua lelaki tua bersurban, berkalung tasbih
Dari cendana wangi yang biasa kukenal.
Tanpa seucap kata,
Bersimpuhku dibuatnya, mematung bisu.
“Bacalah!”, seorang darinya menunjuk lembaran-
lembaran kalam.
Entah darimana, begitu saja tergeletak
Diatas batu mirip sabak, disamping cungkup.
Tak juga kuberanjak, menyingkap lembarnya
Dalam ketakutan.
Seorang diantaranya lagi,
Menempelkan telapak tangannya di dadaku,
Membuat gerakan memutar dan menarik maju.
Sorot matanya, memerintahku diam
dan terpejam.
Dalam terpejamku, dihadirkannya
Naga-naga nafsu melilit jiwaku.
Puluhan Kunang-kunang kesadaran
Berjibaku membutakan Naga,
Dengan pendar cahayanya.
Dan kedua lelaki bersurban,
Mengitari cungkup ketauhidan,
Membaca lembar demi lembar yang
meng-Esa-kan.
Kupaksakan membuka mataku yang sudah terpejam,
Terlihat samar,
Kubaca seperti yang lelaki itu perintahkan
“Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh”
Dan aku terguncang.

Pujangga Sepi
Februari 2022

 

Mantra Tuhan dalam Wijayakusuma

Di tengah malam tanpa kunang,
Di luar gubug  berdinding papan.
Cahaya samar rembulan,
Terlihat siluet sosok perempuan.
Terdengar komat-kamit tanpa jeda,
Seperti halnya merapal mantra.
Duduk di bonggol kayu jati tua
Tepat di samping sumur berlumut
Diantara juntai kuncup Wijayakusuma.
Aku yang bocah, terdiam dihadapnya,
mengangguk.
Disela penggal mantra selesai diucapnya.
“Bermunajatlah dalam diam, karena Tuhan tak hanya diam”, ucapnya menghujam.
“Tuhan hadir seiring mekar dan semerbaknya Wijayakusuma, jangan kaulepas pandang kuncup itu!”.
Telunjuknya menuntun mataku,
Melihat Wijakusuma bermekaran.
Tak sabar kunanti Tuhan,
Yang katanya sedekat urat leherku.
Kucuri pandang, terlihat wanita tadi bersuci
Di genthong air di atas sumur berlumut.
Terhampar jarik lurik membujur,
Di atasnya diulang gerak berdiri, membungkuk
dan seperti tersungkur.
Dan kembali komat-kamit merapal mantra.
Kedua telapak tangannya diusapkan kemuka,
setelah sebelumnya menengadah,
seperti mengemis.
Begitu perempuan itu mengakhiri ritualnya.
Lalu kutanya, “Mana Tuhan yang sedianya ada?”
Aku sudah terjaga, tanpa melewatkan lima Wijayakusuma mekar.
“Lima Wijakusuma mekar dan semerbak harumnya adalah pesan Tuhan atas kesabaranmu” , terucap lirih darinya.
Aku mengajarkanmu berbincang dengan Tuhan
Dengan berdiri, membungkuk dan seperti tersungkur.
Ku-ulang sejumlah Wijayakusuma mekar,
seperti yang kau lihat.
Komat-kamit merapal mantra, mengeja 99 nama-Nya.
Aku menggangguk, dan perempuan tadi menuntunku bersuci, mengenalkanku pada Tuhan sebagai anaknya.

Pujangga Sepi
Februari 2022

Bait Uzur

Sudah sepantasnya bersyukur
Mendinginkan kalbu dalam tafakur
sebelum terjerat dalam kufur
Menarilah dalam bait-Nya dalam teratur

Yakinlah Dia-lah Sang Pengatur
Yang tak beranjak dari dhuhur ke dhuhur
Tak lagi mampu mendengkur
Dalam tembang pangkur
Yang dilantunkan Ontoseno seorang sufi yang dianggap ngawur

Terlelap ditepian sangkur
Ketakutan karena usia telah uzur
Sebentar lagi terkulai dalam tanah gembur
Bersama segala kekurangan tak terukur

Pujangga Sepi
24 Maret 2012

 

Chris Triwarseno ST: Pujangga Sepi, lahir di Karanganyar, 14 Februari 1981 dan tinggal di Ungaran, Semarang. Penulis buku puisi Bait-bait Pujangga Sepi “Ketika Kukatupkan Kedua Bibir Ini Sudah”. Beberapa karyanya juga dimuat di media online.

 

 

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer