
oleh Yuniandono Achmad, S.E., M.E., pemerhati bulutangkis, tinggal di kab. Bogor
Terjadi perubahan besar dalam susunan pelatih Pelatnas Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) tahun 2022 ini. Hendry Saputra Ho (pelatih tunggal putra) dan Chafidz Yusuf (pelatih ganda putri) dipastikan tidak lagi bergabung. Sementara Richard Mainaky dan Ricky Susiono mendekati akhir tahun kemarin telah menyatakan mundur -dikarenakan alasan pribadi.
Pada tahun 2022 ini, Rionny Mainaky selaku Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI- mengatakan bahwa untuk sementara coach Irwansyah sendirian melatih sektor tunggal putra. Sementara Rionny Mainaky sendiri akan merangkap pelatih tunggal putri.
Untuk ganda putra masih tetap dipegang Hendri Iman Pirngadi sebagai pelatih kepala. Didampingi oleh Aryono Miranat -mantan pemain ganda campuran berpasangan Eliza Natanael di era 90an dulu. Belum ada pengganti untuk pelatih yang mundur tersebut. Netizen pasti akan lebih terkonsentrasi ke siapanya (Who). Namun ada hal urgen yang perlu kita rumuskan, yaitu bagaimana (How) memilih pelatih yang ideal dewasa ini.
Bagi cabang olahraga Bulutangkis, peran pelatih signifikan di hari-H terutama di saat pertandingan berlangsung. Bulutangkis memperbolehkan pelatih duduk di belakang pemain. Pelatih diperbolehkan bersuara kencang ketika jeda perolehan poin. Situasi yang berbeda dengan tenis. Di tenis tidak diperbolehkan adanya kontak antara atlet dengan pemain, bahkan di saat istirahat antar game/ setpun.
Namun seperti sepakbola, bulutangkis juga mengenal semacam stigma bahwasanya pelatih hebat belum tentu merupakan pemain yang hebat. Mungkin hanya beberapa nama yang ketika mudanya berjaya sebagai pemain, kemudian masa tuanya hebat sebagai pelatih. Di sepakbola kita kenal Beckenbauer (Jerman) yang pernah mengantar timnya juara dunia tahun 1974 -sebagai kapten. Kemudian tahun 1990 sebagai pelatih Jerman membawa World Cup pulang ke bangsa aria. Penerusnya, yaitu Berti Vogts, juga dulunya adalah pemain bola tahun 1974 yang sebagai pelatih mampu membawa Jerman menjuarai piala Eropa tahun 1996.
Kalau di bulutangkis, tolok ukur bagus/ tidak pelatih bisa dilihat dari seberapa “laku” di luar negeri. Atau minimal sering dilamar untuk melatih ke luar negeri. Ada mantan pemain yang sewaktu mudanya pernah meraih juara dunia dan/ atau emas olimpiade, kemudian melatih negara laih berhasil juga. Contoh terbaik untuk ini adalah Park Joo Bong (Korea Selatan), juga nyong manado -Rexy Mainaky.
Park Joo Bong adalah peraih emas ganda putra (bersama Kim Moon So) di ajang olimpiade Barcelona 1992. Park JB merupakan pelatih yang sukses mengantar “raksasa tidur” Jepang yang sempat tenggelam di bulutangkis untuk bangkit lagi. Di tangannya, Jepang meraih Thomas Cup tahun 2014, dan Uber tahun 2018. Jepang juga meraih emas olimpade untuk cabang olahraga Badminton pada perhelatan 2016 di Rio de Janeiro, Brasil.
Rexy Mainaky setelah meraih emas ganda putra (bersama Ricky Subagya) saat olimpiade Atlanta 1996, masih membantu Indonesia mempertahankan Thomas Cup 1998-2002. Kemudian sesudah itu Ia melatih Inggris, Malaysia, Indonesia, dan kembali ke Malaysia saat ini. Di Inggris coach Rexy mampu mengantar pasangan ganda campuran Nathan Robertson/ Gill Emms untuk nangkring di nomor satu dunia, dan meraih perak Olimpiade Yunani 2004.
Di Malaysia, Rexy membawa Koo Kian Keat/ Tan Boon Heong mendapatkan emas Asian Games 2006. Sewaktu Indonesia zonk emas tahun 2012, Rexy didatangkan oleh Ketua PBSI -saat itu Gita Wiryawan- untuk menjabat pelatih kepala. Ia mampu mendatangkan emas 1 (satu) keping di olimpiade Rio tahun 2016 melalui ganda campuran Tontowi Ahmad/ Lilyana Natsir.
Susy Susanty juga merupakan contoh berhasil sebagai pemain dan pelatih. Meski sebagai pelatih kepala di Pelatnas belum begitu lama. Namun salah satu prestasinya adalah sebagai manajer tim Uber tahun 2008, yang membawa tim kita menjadi runner up.
Selain nama-nama tersebut ada lagi seperti Christian Hadinata (sekarang kembali ke klub Djarum Kudus), kemudian Rudy Gunawan (melatih di Amerika Serikat), Tony Gunawan (USA), dan Ardy Bernardus Wiranata yang melatih tim Kanada. Serta Hendrawan yang saat ini di Malaysia.
Sedangkan pelatih (atau mantan) yang jaya saat menjadi pemain namun kurang berhasil sebagai pelatih misalnya Rudy Hartono, Joko Suprianto, Ricky Subagja, dan Minarti Timur. Walaupun berhasil/ tidaknya sangat relatif dalam hal ini. Misal Rudy Hartono yang menjadi kapten tidak bermain atau non playing captain mampu membawa Kembali Thomas tahun 1984 setelah pada tahun 1982 digondol Tiongkok. Atau Joko Suprianto yang sempat melatih Tommy Sugiarto dan membawa anak Icuk tersebut masuk 5 (lima) besar dunia.
Dari jajaran pelatih PBSI saat ini kebanyakan adalah pelatih yang kurang berhasil di masa mudanya sebagai atlet. Semisal Herri IP. Beliau menjadi pelatih sudah sejak zaman Sigit/ Chandra menjadi juara dunia tahun 1997. Atau bisa jadi sebelum itu. Namun iklim persaingan dan politik di pelatnas sempat menyingkirkan Heri IP pada tahun 2008, saat Hendra/ Kido (almarhum) meraih emas olimpiade. Situasi pelatnas yang kembali kondusif membawa Herri IP balik lagi ke tanah air dan emas Asian Games 2014 melalui duet ganda Mohammad Ahsan /Hendra Setiawan merupakan andilnya.
Kembali ke persoalan di atas, pertanyaan, siapakah yang cocok menjadi pelatih pengganti. Lalu bagaimana kriteria pelatih ideal?
Pelatnas sebagai puncak lembaga pemain musti menempatkan pelatih yang punya karakter ideal. Karakter dalam hal ini misalnya passion, track record dan visi misi kepelatihan. Pengejawantahannya bisa jadi dia mempunyai berprestasi dunia kala muda. Kemudian punya pengalaman melatih negara lain. Punya contoh atau best practice anak didik yang mendunia juga.
Setidaknya terdapat beberapa model ideal pelatih:
1. Pelatih yang melanglang dunia, kemudian mampu memberi contoh dengan keberhasilan anak didiknya. Model ini dilakukan oleh Rexy Mainaky dan Rionny Mainaky yang lama di Jepang. Contoh lain misal Indra Wijaya yang melanglang buana di luar negeri. Morten Forst Hansen (Denmark) juga bisa menjadi contoh.
2. Pelatih yang masa mudanya sukses sebagai pemain. Contohnya cik Susy Susanti.
3. Pelatih yang memiliki kedekatan dengan pemain. Misalnya Muljo Handojo yang dulu dekat dengan Taufik Hidayat.
4. Pelatih yang dianggap bisa bekerjasama dengan pelatih kepala. Misalnya Susi Susanty yang dulu merekrut Minarti Timur -sebelumnya sempat melatih Brunei. Atau mungkin hubungan ayah-bapak antara Icuk Sugiarto dan anaknya -Tommy Sugiarto- yang sempat dilatih sendiri.
5. Pelatih yang lama malang melintang di Pelatnas (dari mulai awalnya sebagai asisten pelatih), contoh untuk case ini ialah Herri Iman Pierngadi.
Kombinasi dari 1-5 memang tidak musti dipenuhi oleh satu orang pemain. Namun setidaknya ada yang dipenuhi salah satu atau dua sehingga tidak sekonyong-konyong muncul pelatih baru di pelatnas.
Memang yang paling ideal adalah pelatih yang sangat mengerti anak didiknya. Itu bisa dipenuhi apabila sejak awal, atau ketika Yunior, atlet tersebut ditangani satu orang pelatih. Atau sebagai role model setidaknya bisa mencontoh gaya pelatih tenis atau gaya pelatih catur.
Dalam tenis, pelatih atlet memang dilihat secara professional. Satu orang atlet ada satu orang pelatih. Misalnya Andy Murray (Inggris) yang memilih Ivan Lendl -mantan pemain satu dunia- sebagai pelatih. Sedangkan dalam catur, dikenal sekondan, atau beberapa pelatih yang memberi advise kepada satu orang pecatur. Misalnya pecatur top dunia saat ini, Magnus Carlson, yang beberapa bulan sebelum kejuaraan dunia meminta bantuan Garry Kasparov untuk melatih.
Gaya pelatih alat tenis memang termasuk mahal untuk diterapkan di bulutangkis -terkait one coach for one player. Sedangkan gaya ala pelatih catur, yang tergolong by project, memberikan beban tersendiri kepada pelatih apabila diterapkan di bulutangkis. Pelatih bulutangkis tentunya tetap memilih sustainability pekerjaannya.
Salah satu cara mengakomodasi adalah pembagian peran antara pelatih pelatnas dan pelatih klub (ketika si atlet dilatih sedari dini). Ini juga terkait visi PBSI sekarang -yaitu pengutamaan pemain muda untuk dipanggil pelatnas. Sebaiknya pelatih yang mengawal atlet tersebut sejak usia muda, agar diprioritaskan untuk lanjut melatih kala dia senior.
Alternatif lainnya, terutama untuk pelatih tunggal yang masih kosong. PBSI perlu menawari posisi ini ke para pelatih yang telah lama di luar negeri. Sebaiknya mereka ditawari saja melatih ke Cipayung. Peluang bagi Indra Wijaya, Hendrawan, Muljo Handojo, dan Agus Dwi Santoso. (***)


