Senin, Maret 16, 2026
BerandaUncategorized Serpihan-serpihan Pengharapan Dari Hati

[Ruang Sastra] Serpihan-serpihan Pengharapan Dari Hati

PUISI  adalah kata hati rumah kesadaran, tarian pena pemikiran serta nyanyian perasaan yang tertumpah dalam rangkaian bait-bait pengharapan. Memungut kembali serpihan-serpihan pengharapan dari hati, pemikiran dan perasaan tersebut, penulis menuangkan dalam Bait-bait Pujangga Sepi “Ketika kukatupkan kedua bibir ini sudah” yang tak lain adalah refleksi sebuah perjalanan rasa yang tercecap penuh arti di dalam keempat baitnya. Dalam bait sunyinya semua ketidaksempurnaan nyata dihadapan Pemilik Sempurna, melalui bait cinta sang manusia segala bentuk kesadaran cinta terbalut dalam romantisme penuh makna dua insan sejiwa, bait suara hati membisikkan potret-potret nyata kehidupan dalam perspektif seutuhnya dan di dalam cerita makna hadir self talk  atas analogi pencarian kebijaksanaan.

Dalam Keheningan

Tertunduk jatuh dan tersungkur
Tanpa kendali seperti meneguk anggur
Dimana raga dan jiwa tertahan sangkur
Tak lagi tau seperti apa itu syukur

Terhuyung lunglai ditepian resah
Seolah semua nikmat telah berpisah
Menuju ujung yang tanpa arah
Ditengah buah pikir yang serakah

Oh jiwa jiwa lelah terperangkap
Diantara wewangian gunjing tak sedap
Silih berganti tak kenal adap
Liar berseteru tanpa tersingkap

Kisah baru saja dilakonkan
Oleh Penguasa alam pikiran
Menyeru ketidaksadaran
Membungkam semua penyesalan

Mana lagi yang hendak kau dustakan
Kebutaanmu hanya karena ketidaktauan
Ketulianmu karena ketidakdengaran
Kebisuanmu karena ketidakterungkapan

Apalagi yang hendak kau sangkal
Selalu saja terbuka pintu sesal
Selalu saja keluar tanpa penggal
Betapa kecilnya dihadapan Yang Maha  Kekal

Teruntukmu yang sadar
Segeralah lepas dari pudar
Tuntunlah dalam bait-bait syiar
Diantara ketiadaanmu dihadapan Yang Maha Besar

Pujangga Sepi
19 Januari 2018

 

Anniversary-4

Masih terpasang rapi bingkai keemasan sejoli tersebut
Tergurat senyum diantaranya saling merajut
Jarum jam itu terus saja berputar lebih lanjut
4 tahun berlalu dalam proses pendewasaan yang berlanjut

Garwa, sebutan istri dalam bahasa jawa
Gelar tersebut tersandang sebagai sigaraning nyawa
Bagiku kau lah yang tercinta yang selalu menjadi penawan jiwa
Seperti halnya senyum Kinasih kita dalam sela tawa

Dan tangisan Rarasati yang baru saja menambah kebahagiaan
Putri-putri kecil yang senantiasa kegirangan
Menari, menyanyi seakan yang lain tidak berpuan
Lihatlah aku rama & ibu, aku adalah generasimu yang tak tergantikan

Sasikirana tansah terus sumunar
Bebasan padang tanpa pepindan
Gesang bebrayan sinengkuyung raos sabar
Lelaku tumprap kautaman

Jiwa nyawiji dedonga tanpa lali
Mugi tansah kinanthi aruming jagad
Kalis nir sambikala kamulyaning agesang bakal bali
Kamulyaning sejati minangka pakurmatan tanpa rinuwad

Pujangga Sepi
18 April 2012

 

Nyanyian Bocah

Bersila bukan bertapa
Telanjang dada bukan pertapa
Selalu terbesit itu siapa
Membisu tanpa tegur sapa

Bocah diatas batu terdiam
Matanya nyala bukan padam
Jauh dari kesan seram
Tersenyum bukan muram

Menertawakan riuhnya parlemen
Nyanyikan sumbang aspirasi pengamen
Serakah manis bak permen
Tak peduli ada sentimen

Melucukan sekolah penuh aturan
Menggantikan mentri sudah antrian
Memanjakan anak diantara kenakalan
Budi pekerti diantara tawuran

Yang dibutuhkan adalah tawa
Nutrisi sempurna untuk nyawa
Kepuasan diantara sendawa
Berlarilah anaku jangan jumawa

Kenalilah sekitarmu dengan santun
Berilah sekitarmu tongkat penuntun
Kebaikan ada disekitarmu, bukan penyamun
Bahagiamu adalah ceria beruntun

Pujangga Sepi
04 Agustus 2016

Cinta Liar

Ada ilalang disamping perdu
Kutitip rindu dalam sendu
Ada belukar liar mengakar
Kutau cinta matiku terbongkar

Pujangga Sepi
15 Januari 2021

CHRIS TRIWASENO, pria yang akrab dipanggil Chris. Lahir di Karanganyar, 14 Februari 1981, alumni Teknik Geodesi UGM Yogyakarta. Dalam perjalanan hidupnya sudah akrab dengan nilai-nilai budaya adiluhung Budaya Jawa, melalui epos wayang Mahabarata, literasi sastra pujanga-pujangga klasik Jawa, puisi-puisi sastrawan Indonesia, mutiara hikmah dalam literasi Islam dan pengalaman batin.
Menulis, khususnya menulis puisi, adalah salah satu hoby diantara hoby lainnya seperti : membaca tentang organisasi, leadership & managerial, mendesain & membuat suatu konsep yang mempunyai nilai seni, membuat konsep pengembangan, membawakan presentasi dan sebagai trainer. Bermula dari keisengan menulis puisi saat di bangku Sekolah Dasar, berlanjut dalam setiap kesempatan sampai sekarang. Pujangga Sepi adalah nama pena penulis, merepresentasikan keheningan sebagai media penyelaras pikir, rasa dan tindakan. (editor:DT)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer