Kaleidoskop 2021: Inikah Kejayaan Bulutangkis RI?

Yuniandono

 

 

oleh: Yuniandono Achmad, pemerhati bulutangkis, tinggal di Bogor

Dalam kaidah ilmu manajemen kita kenal “POAC”. POAC merupakan sebuah prinsip manajemen organisasi yang pertama kali diperkenalkan oleh George R. Kelly, yang terdiri dari Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. 

Mengacu pada aspek waktu, perencanaan dilakukan pada awal tahun, kemudian control pada akhir tahun. Biasanya demikian, karena ada yang melakukan control pada akhir kegiatan. Bisa dilakukan dalam hitungan pekan, bulanan, atau malah bertahun-tahun. Istilah “controlling” ada yang menyamakan dengan evaluasi, atau selengkapnya monitoring evaluasi. Secara harfiah, evaluasi adalah proses untuk menentukan suatu hal atau objek berdasarkan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.

Kinerja bulutangkis RI bisa dievaluasi dengan pendekatan ala kaleidoskop olahraga. Hal itu seperti yang biasa media lakukan di akhir tahun. Pendekatan versi kaleidoskop berarti semacam rangkuman aneka peristiwa yang telah terjadi yang disajikan secara singkat. Sekarang kita sudah di penghujung tahun, bagaimana evaluasi terhadap kinerja perbulutangkisan kita?

Mengevaluasi kinerja perbulutangkisan Indonesia, secara sederhana -dapat dengan membandingkan turnamen beregu dan individu dalam satu tahun. Sejak tahun 1989, bulutangkis dunia mengenal tahun ganjil untuk kejuaraan Sudirman, kemudian tahun genap untuk Thomas dan Uber. Kemudian ada Olimpiade dan Asian Games yang berselang 4 (empat) tahunan. Terjadinya pandemi covid 19 merubah tatanan tersebut, yang ditandai dengan kosongnya turnamen pada tahun 2020. Termasuk Sea Games, Olimpiade, dan Thomas/ Uber Cup.

Baru tahun 2021 ini digelar pertandingan tersebut. Untuk bulutangkis, tahun ini turnamen beregu bisa bareng: Thomas/ Uber dan Sudirman. Kejuaraan Thomas/ Uber -tahun besuk kembali ke khittahnya- akan bergulir lagi tahun depan. Sedangkan Sudirman baru tahun 2023 nanti.

Tahun 2021 bagi tim bulutangkis Indonesia termasuk prestasi menggembirakan. Kita mendapat 1 (satu) keping emas olimpade melalui ganda putri Greysia Polii/ Apriyani Rahayu. Kemudian mendapat juara beregu piala Thomas -setelah menunggu 19 tahun.

Prestasi tersebut termasuk puncak kejayaan olahraga. Karena biasanya PBSI mendapat emas Olimpiade, tapi tidak juara Thomas (apalagi Uber). Atau sebaliknya: juara Thomas/ Uber tapi tidak mendapat emas olimpiade. Pernah juga kejadian zonk sama sekali: gagal di beregu, juga gagal di olimpiade ataupun Asian Games. Seperti yang terjadi pada tahun 2012.

Alhamdulillah tahun ini kita mendapat emas olimpic, dan juara Thomas Cup. Sektor ganda putri mengalami perkembangan berarti. Selain emas olimpiade, ganda putri kita juga berjaya saat tampil di Uber Cup. Ganda putri kita di dua nomor hampir tidak pernah kalah (hanya kalah sekali melawan Jepang). Bahkan ketika tersingkir di perempat final (kalah tipis melawan Thailand 2-3), ganda putri kita menang semua. Sayang sektor tunggal putri kita masih lemah. Kita hanya berharap, pelapis tunggal putri (Putri Kusuma dan kawan kawan) mampu mengimbangi regenerasi ganda putri yang mulai mencuat. Pelapis Gresia/ Apriyani adalah Ribka Sugiarto/ Siti Fadila, kemudian Nita Marwah/ Putri Saikah.

Apabila kita lihat perkembangan bulutangkis, sejak Tiongkok masuk pada tahun 1982, maka dominasi Indonesia mulai menyurut. Bahkan pada tahun 1986, ketika Indonesia menjadi tuan rumah Thomas/ Uber, kita hanya mendapatkan runner up di kedua nomor tersebut. Sementara China mampu menyandingkan gelar juara. Apesnya lagi saat Asian Games 1986 di Seoul (Korea Selatan), Indonesia sama sekali tidak mendapat medali emas. Itulah prestasi terburuk PBSI.

Prestasi terbaik Indonesia barangkali pada tahun 1996 -tepat sepuluh tahun sejak 1986. Kita mampu menyandingkan Thomas/ Uber (tuan rumahnya Hong Kong), dan mendapatkan 1 (satu) emas saat Olimpiade Atlanta di tahun yang sama. Apabila bila ditengok empat tahun sebelumnya, Indonesia mendapat 2 (dua) emas, 2 (dua) perak dan 1 (satu) perunggu di ajang Olimpiade Barcelona. Itulah jumlah medali tertinggi Indonesia di Olympic Games. Sayang memang saat itu kita hanya runner up di Thomas Cup -kalah melawan tuan rumah Malaysia tahun 1992.

Tahun ini prestasi cukup baik lainnya ditasbihkan oleh para pemain muda. Di sektor tunggal putri kita memiliki pemain bernama Putri Kusuma Wardani, 19 tahun. Putri KW adalah peraih juara Spain Masters 2021. Pada saat Uber Cup kemarin, Putri KW juga mulai diturunkan. Putri KW menjadi modal berharga untuk mendampingi Gregoria Mariska Tunjung pada tunggal utama.

Di sektor tunggal dan ganda, kita memiliki pemain yunior yang mulai meniti level senior, yaitu Leo Rolly Carnando/ Daniel Marthin. Sedangkan sektor tunggal putranya adalah Chico Aura Dwi Wardoyo. Kedua pemain tersebut telah diturunkan pada ajang Thomas Cup di Denmark kemarin. Selain Leo Rolly Carnando/ Daniel Marthin, ada juga Pramudya Kusumawardana/ Yeremia Rambitan -yang berhasil maju ke final Indonesia Open. Stok di ganda putra memang dapat dikatakan melimpah, mereka merupakan aset berharga menghadapi Thomas tahun depan.

Dari keempat sektor bulutangkis kita, barangkali ganda campuran yang terhitung menurun prestasinya. Apalagi sang coach Richard Mainaky -yang pernah mengantar Tantowi/ Lilyana meraih emas Olimpiade 2016- telah mundur dari pelatnas. Pekerjaan rumah yang cukup besar bagi PBSI untuk membangkitkan sektor mixed double ini.

Bulan Mei 2022 nanti akan terselenggara kejuaraan Thomas Uber Cup di Bangkok. Tuan rumah Thailand akan menjadi kuda hitam. Apalagi pemain tunggalnya (Khosit Petpradab, Kunlavit Vitidsarn, dan Kanthapon Wangshangroen) mulai menggeliat, bahkan mampu mengalahkan kedua tunggal utama kita saat penyisihan grup Thomas kemarin. Jepang akan menjadi pesaing yang cukup kuat -terutama di ganda putra. Sebaliknya Tiongkok akan muncul dengan kekuatan merata. Lalu Denmark dengan keunggulan tunggal putranya.

Maka kemampuan untuk meramu pemain yang diturunkan, dan memilih waktu untuk peak performance (di tengah kesibukan turnamen level series) akan menjadi kunci untuk mempertahankan piala Thomas nanti.

Tahun 2021 ini memang belum menyamai prestasi kita tahun 1996 -saat PBSI mampu menyandingkan Thomas Uber dan meraih emas olimpiade melalui Ricky/ Rexy. Atau belum seperti Olimpiade 1992, ketika kita mampu meraih dua emas. Juga belum bisa seperti tahun 1989 saat meraih piala Sudirman. Tapi setidaknya PBSI bisa bernafas lega, mampu mendapatkan (lagi) piala Thomas setelah menunggu hampir 20 tahun. Lalu melanjutkan tradisi untuk meraih emas olimpiade. Kita harapkan tahun 2022 perbulutangkisan kita semakin berjaya. Semoga.

 32 total views