Quo Vadis Pasangan Praveen dan Melati?

pasangan Praveen Jordan/ Melati Daeva (kredit foto: kastara.id)

 

oleh: Yuniandono Achmad, 

(Penulis adalah seorang Akademisi dan Pengamat Olahraga, Tinggal di depok) 

 

KEGAGALAN demi kegagalan dari pasangan ganda campuran Praveen Jordan/ Melati Daeva masih menyisakan getir di kalangan pemerhati bulutangkis republik ini. Sang juara all England 2020 tersebut belum lagi mencapai sukses tahun ini.

Posisi tertinggi mereka adalah runner up di Thailand Terbuka pada bulan Januari 2021. Kemudian tersisih pada babak awal di turnamen berikutnya. Lalu di Olimpiade Tokyo beberapa bulan lalu juga tersingkir pada babak perdelapan final. Di perempat final Sudirman Cup melawan Malaysia, kedudukan 2-2. Partai terakhir adalah ganda campuran, PBSI memasang yang jelas Praveen/ Melati Daeva. Sayang meski kita menang pengalaman dan peringkat, takluk di tangan pasangan Malaysia, skor menjadi 2-3 dan tim kita tersingkir.

Beberapa bulan lalu pasangan kita ini sempat melaju ke final Jerman Open (kalah dengan pasangan Decapol/ Sapsiree dari Thailand), namun kandas di babak pertama pada ajang Indonesia Master dari pasangan non-unggulan asal India, sepekan yang lalu.

Pelatih ganda pelatnas Nova Widianto sampai mengeluarkan ancaman akan mengeluarkan mereka berdua dari pelatnas. Banyak isu beredar, terutama mengkaitkan hubungan psikologis antara mereka berdua. Hal ini mengingatkan pada pasangan Tiongkok dulu pada olimpiade Brasil 2016 di Rio de Janeiro. Unggulan pertama Zhang Nan/ Zhao Yunlei yang memang pacaran, namun berantem pada saat semifinal. Kemenangan mudah didapat oleh Tantowi Ahmad/ Lilyana Natsir saat itu, sampai mengantarnya ke raihan emas olimpiade.

Ancaman dari coach Nova Widianto pantas dan selayaknya disematkan kepada pasangan Pra/Mel. Siapa tahu memang pasangan Praveen/ Melati memiliki tipikal X. Apakah itu pemain tipikal X? Dalam ilmu manajemen dikenal salah satu teori motivasi adalah “Teori XY” dari Douglas McGregor. Teori X dan Y membedakan dua tipe manusia (pekerja) menjadi tipe X yang buruk dan tipe Y yang baik. Tipe Y perlu dimotivasi dengan insentif dan promosi. Sebalikya tipe X dengan punishment atau hukuman. Sepertinya pasangan kita ini masuk tipe X sehingga “punishment” berupa ancaman dikeluarkan dari pelatnas merupakan solusi.

Belajar dari masa lalu, terdapat beberapa pemain yang memang harus diterapi dengan keras agar bisa juara lagi. Tahun 2014 kita kenal Simon Santoso yang dikeluarkan dari pelatnas karena lebih banyak cedera. Namun ketika keluar pelatnas, malah menjadi kampiun di Malaysia dan Singapura di bulan Maret 2014. Simon kemudian dipanggil lagi untuk memperkuat Tim Thomas pada tahun yang sama. Peraih emas olimpiade 1992, Alan Budi Kusuma, juga pernah mengalami hal sama.

Alan BK, sang peraih medali emas Olimpiade tahun 1992 (Barcelona) pernah dicibir masyarakat Indonesia karena kalah melawan Foo Kok Keong. Pada partai tunggal kedua Thomas Cup 1992 partai final melawan Malaysia, Alan melawan Foo Kok Keong yang peringkatnya jauh di bawahnya. Sesudah kekalahan itu, di bawah pelatihan Rudi Hartono dan Indra Gunawan, si Alan dipush agar berlatih mulai paling awal dan selesai paling akhir dari kawan-kawannya. Metode kepelatihan yang menyiksa tersebut membuahkan hasil di gelanggang Olimpiade beberapa bulan sesudahnya.

Namun ada juga pemain yang salah diterapi, dianggap Tipe X ternyata Tipe Y, atau malah sebaliknya: dianggap Tipe Y namun memiliki Tipe X.

Misalnya dulu ada pemain bernama Ronny Agustinus, pemain era antara Heryanto Arbi (akhir) sampai Taufik Hidayat (awal). Kelihatannya PBSI salah memilih kriteria pemain saat itu. Ronny Agustinus “dikira” tipe Y sehingga dilatih khusus oleh Rudy Hartono, namun ternyata sampai periode Pelatnas berakhir tidak menjadi pemain utama. Salah satu prestasi Rony Agustinus adalah finalis Kejuaraan Asia tahun 2000 namun kalah melawan Taufik. Terakhir atau kekinian misalnya tunggal putri Fitriani. Sempat bersinar di era pelatih kepala Susy Susanti –dengan asisten pelatihnya Minarti Timur. Tahun 2019 awal Fitriani menjadi kampiun Thailand Terbuka, dan sempat membawa Indonesia Berjaya di penyisihan Uber untuk Asia. Namun ketika dirasa prestasi merosot, lalu masuk pelatih tunggal putri Rioni Mainaky –yang sebelumnya melatih tim Jepang. Metode kepelatihan yang cenderung keras dari Rionny (artinya tipikal X) tidak membuat Fitriani lebih baik. Malah akhirnya keluar pelatnas, dan di kompetisi lokal (dalam negeri) juga kalah dengan yuniornya.

Seandainya memang Prameel/ Melati terusir dari pelatnas, saran saya: itu bukan kiamat. Kita memiliki beberapa pemain yang tergolong sukses di luar pelatnas. Dulu pasangan Hendra/ Ahsan juga berprestasi di luar pelatnas, kemudian dipanggil lagi oleh PBSI. Kemudian pemain ganda Markis Kido (almarhum) yang berpasangan dengan Markus Gideon, atau Pia Ziebadiah/ Rizki Amelia Pradipta dan pemain tunggal Andre K Tedjono, serta Shesar Hiren Rustavito yang pernah bermain di Kanada.

Memang perlu didiskusikan lebih lanjut bagaimana tipikal dari Praveen/ Melati ini apakah tipe X atau Y. apakah perlu dicambuk dengan keras 9tipe X) ataukah dengan pendekatan psikologi dan insentif lebih (tipe Y). Dua buah ajang lagi di Bali pada akhir tahun ini akan membuktikan hal tersebut.