Pandemi Tak Membunuh Hati, Bahkan Melahirkan Cinta

Erik Suhenra bersama Sahabat jumat berbagi paket sembako kepada keluarga yang kesusuahan ekonomi di masa pandemi Covid 19 saat ini

PELALAWAN (Nadariau) – Disaat sebaran kasus Covid 19 di Kabupaten Pelalawan  sudah sangat mengkwatirkan, tiap hari ada berita kematian yang di sebabkan oleh virus yang menyerang saluran pernapasan direlease oleh Satgas Penanganan Covid 19 Pemerintah setempat.

Tiap hari pula, petugas pemakaman di TPU Pangkalan Kerinci menerima orderan menggali kubur dari pasien pasien yang sampai batas akhir hayat melawan sakit terpapar Covid.

Dari data Satgas Covid 19 Kabupaten Pelalawan selama pandemi, 181 warga negeri Seiya sekata itu jadi korban mewabahnya virus Corona.  Sebagian pasien yang meninggal itu dimakamkan di TPU Pangkalan Kerinci dengan protokol kesehatan.

Bukan korban Covid 19 saja yang menjadi penghuni TPU yang berlokasi bersebelahan dengan Taman Makam Pahlawan di Jalan Seminai Pangkalan Kerinci. Sebagian besar masyarakat muslim di ibu kota Pelalawan, jika meninggal di sanalah dimakamkan.

Lahan TPU seluas 3 hektar menyisakan hanya untuk beberapa kuburan saja, tak akan habis bilangan bulan di tahun 2021 ini, TPU diperkirakan penuh.

Keprihatinan pada ketiadaan lahan baru yang dapat menampung peristirahatan terakhir warga Pangkalan Kerinci ini. Membuat aktivis sosial, Erik Suhenra S.Ikom menginisiasi wadah para Ketua RT, Ketua RW dan Ketua Lingkungan se Pangkalan Kerinci untuk duduk bersama mencari solusi agar sesudah kematian datang tidak menjadi masalah besar bagi orang tersayang yang di tinggalkan.

“Forum RT, RW dan Lingkungan Pangkalan Kerinci lahir dari keprihatinan akan ketiadaan lahan untuk pemakaman di Pangkalan Kerinci,”kata Ketua Forum Erik Suhenra, Jumat (28/10/2021)

Hari hari Erik disibukkan dengan menjalin komunikasi dengan seluruh RT,RW dan lingkungan di tiga kelurahan se Kecamatan Pangkalan Kerinci.

Beberapa kali pula, Forum RT,RW dan Lingkungan ini mengadakan hearing bersama Ketua DPRD Pelalawan, dengan Bupati Pelalawan beserta Dinas Sosial.

Dalam rapat dengar pendapat bersama DPRD Pelalawan, Forum yang digawangi oleh Erik ini mengusulkan untuk pengadaan lahan TPU yang baru baiknya dilakukan dengan sistem pelepasan Hak Guna Usaha (HGU) PT. Inti Indo Sawit (IIS) atas lahan yang berada di dalam wilayah Kota Pangkalan Kerinci.

Gedung wakil rakyat merespon wacana tersebut, manajemen perusahaan pun dihadirkan, tak lupa perwakilan Badan Pertahanan Nasional (BPN) Kabupaten Pelalawan pun diminta pendapat nya terkait pelepasan HGU perkebunan sawit  IIS.

“Kata BPN, dalam hearing di DPRD, pelepasan lahan HGU perusahaan dengan luas kurang dari lima hektar dan untuk kepentingan umum yang mendesak dapat dilakukan tanpa SK Menteri KLHK.”tegas Erik

Namun pihak perusahaan bergeming, mereka tak Sudi lahan yang diatasnya ditanami sawit di lepaskan untuk TPU, namun mereka memberi opsi lain, menyanggupi untuk menyediakan lahan seluas 3 hektar untuk TPU Pangkalan Kerinci.

“Di hearing itu sekitar bulan Januari 2021, pihak perusahaan bersedia menyiapkan lahan seluas tiga hektar untuk TPU. Mereka tidak mau melepas HGU, tapi mereka akan membeli lahan lain untuk dijadikan pemakaman umum, dan kita menerima,”kata Erik.

Setelah berjalan 10 bulan dengan intensitas pertemuan dan perjuangan dari Forum RT,RW dan lingkungan Pangkalan Kerinci meningkat, namun perusahaan milik Sukanto Tanoto itu hanya memberikan harapan palsu.

Forum RT, RW dan kaling melakukan aksi demo di kantor bupati Pelalawan menuntut penyediaan lahan TPU

Namun tanpa lelah, Erik dan forum tetap fokus dan tak surut semangat memperjuangkan hak masyarakat akan lahan TPU di Pangkalan Kerinci untuk diwujudkan.

“Yang kita minta tanah negara yang mereka garap, UU memperbolehkan kita mengambilnya untuk kepentingan umum, bukan kepentingan Erik Suhenra pribadi, maka ini akan tetap menjadi garis perjuangan saya,”tegasnya lagi.

“Kemarin saat mau pergi main sepakbola bersama pak bupati, ada top manajemen PT.IIS yang datang, mereka berjanji di akhir tahun 2021 ini, akan direalisasikan pengadaan lahan TPU sebagaimana yang telah disepakati,” tandasnya lagi.

Dalam dunia sosial, bukan masalah lahan TPU saja yang menjadi perhatian Erik, sulitnya kehidupan di masa pandemi, membuatnya hatinya tergerak untuk membantu sesama yang kekurangan bahan makanan karena ekonomi memburuk imbas dari serangan Covid 19 yang menyerang setiap sendi kehidupan.

Sering berdiskusi bersama pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan  Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) yang menjadi salah satu ujung tombak dalam layanan kesejahteraan sosial. Lewat Pendamping PKH dan PSM pula, Erik mendapatkan data data keluarga yang hidup dalam kategori miskin dan belum mendapatkan sentuhan Pemerintah.

“Ada banyak kasus kemiskinan yang tidak bisa disentuh oleh pemerintah, salah satu kendalanya karena ketiadaan kelengkapan administrasi kependudukan, kita jembatani ini, agar akses mereka (orang miskin) untuk mendapatkan bantuan dapat terwujud, Alhamdulillah kita mendapat support dari ibuk ibuk pendamping PKH dan PSM,” kata Erik bercerita tentang mimpinya dapat membantu orang orang lemah ekonomi.

Di pertengahan tahun 2021, Erik mulai mengumpulkan jaringan, disatukan dalam grup WhatsApp bernama Sahabat jum at, idenya tiap pekan ada keluarga yang benar benar miskin yang dibantu, walau tidak seberapa yang penting niat ikhlas harus disampaikan.

“Jika kita lakukan bersama sama, akan menjadi ringan, jika satu grup diisi oleh 20 anggota saja, tiap pekan anggota menyumbang Rp. 50 ribu, sudah terkumpul satu juta rupiah. Kita belikan 10 paket sembako, berisi beras 5 kg, telor, minyak makan dan mie instan, satu paket bernilai seratur ribu rupiah, berarti ada 10 orang miskin yang terbantu di hari Jumat itu,”terangnya

“Jikapun tidak ada orang yang berinfak, maka tetap akan saya lakukan Jum at barokah itu, walaupun cuma satu paket yang berasal dari saya sendiri, itu niat saya, semangat saya,”akunya

Setelah berjalan beberapa pekan, semangat Sahabat Jumat semakin bersemi, semakin hari semakin bertambah jumlah anggota komunitas orang orang ikhlas beramal, tiap pekan pula semakin bertambah jumlah paket yang dibagikan, kadang ada instansi yang menitipkan bantuannya untuk disalurkan ke orang orang yang membutuhkan. Niat Erik kini mewabah ke kawan lain dengan keprihatinan yang sama.

“Alhamdulillah, semakin banyak saja, jumlah paket yang kita bagikan, semoga ghirah (gairah) ini terjaga, tidak sewaktu pandemi saja, hati kita berempati pada yang lemah,”harap Erik

Pria yang juga berprofesi sebagai pekerja jurnalistik ini mengisahkan suatu pengalamannya saat memberikan bantuan berupa paket sembako ke keluarga miskin, data diterima dari pendamping PSM, infonya ada satu keluarga tinggal di rumah kayu berdinddingakn triplek dan plastik diatas rawa dan serba keterbatasan sanitasi yang layak, sang kepala keluarga, Sangkot Bahari (44) mengalami kelumpuhan , sang ibu Rina Ria (47) berjualan kopi dan teh di kedai kecil yang dibangun di tepi jalan di depan rumahnya.

Erik Suhenra saat menyambangi kediaman Sangkot bahari ditemani Bela Amalia

Di rumah itu juga tinggal seorang anak, Bela Amalia namanya, berusia 13 tahun, putus sekolah karena tidak ada sekolah di Pangkalan Kerinci yang mau menerimanya, ia memang terlambat mendaftar, karena sebelumnya ia berniat mau menyambung pendidikan nya di pondok pesantren, kendala biaya akhirnya ia gagal mendaftar, sedangkan sekolah negeri sudah tutup pula pendaftaran, nasib memaksa Bela jadi pengangguran di usia dini.

“Ketika mengantarkan paket sembako, saya bertemu dengan Bela, ia punya semangat ingin sekolah, keadaan memaksanya harus di rumah saja, ketika saya tanya, Bela mau sekolah?, ia mengangguk, dan saya bilang ke dia, kalau memang ada kemauan akan dibantu agar Bela bisa sekolah,”kisah Erik

Berkat banyak relasi sebagai wartawan, SMPN 5 yang baru tahun ini buka siap menampung keinginan Bela untuk sekolah lagi, Seragam dan semua kebutuhan sekolah Bela pun disanggupi oleh Baznas Pelalawan menyediakan. Jalan Bella semakin mudah untuk kembali sekolah.

Keluarga Sangkot nantinya dimasukkan ke dalam keluarga penerima PKH tahun anggaran 2022, kedepannya akan ada bantuan secara berkelanjutan kepada keluarga ini yang masih berjuang untuk keluar dari masa sulit ekonomi.

“Untuk keluarga pak Sangkot, setelah kita berbagi info di beberapa grup WhatsApp, banyak tawaran bantuan yang datang, ada yang memberikan pekerjaan kepada bapak dan ibu itu, dan jaminan anak nya disekolahkan, semuanya tergantung mereka, yang penting, mereka sudah masuk di data PKH, dan Baznas juga siap membantu, Alhamdulillah masih banyak orang orang yang baik hati saat ini,” katanya

Bantuan dari Sahabat Jumat sangat disyukuri oleh Sangkot Bahari, selain memberikan sembako, putri kesayangan sudah bisa pula kembali mengenyam pendidikan. Hatinya terharu, masih banyak orang baik rupanya di negeri ini.

“Alhamdulillah, sekarang Bella sudah sekolah, terima kasih kepada Sahabat Jumat, Baznas dan banyak pihak yang sudah membantu kami, terutama pak Erik,”ungkap Sangkot Bahari

Dalam setiap aksi Sahabat Jum at, selalu ada cerita haru yang membangkitkan hati untuk menjaga eksitensi komunitas ini, di ujung jalan setapak di Kelurahan Kerinci Timur, ada seorang bapak bapak yang tinggal di gubuk reok, tanpa listrik, tanpa air bersih dan dengan penghasilan serba kurang dari pekerjaan menjaga kebun sawit orang. Di gubuk lusuh, bapak Marsidi (64) bersama seorang putra 16 tahun tanpa mengenyam pendidikan, ijazah SD pun ia tak punya.

Marsidi adalah pedatang yang sudah 2 tahun tinggal di Kabupaten Pelalawan, sebelumnya pernah tinggal di Siak, dan bahkan di beberapa daerah lainnya, ia tidak punya KTP, di Siak pun ia tidak pernah mengurus kartu identitas, pria yang mengaku kelahiran Sulawesi itu belum sedikitpun mendapat bantuan dari pihak manapun.

“Secara adminstrasi, pak Marsidi sulit mengakses bantuan dari pemerintah, karena tidak punya KTP, tidak punya KK, tidak punya tempat tinggal tetap, tapi secara kemanusiaan, bapak anak itu harus dibantu. Nanti kita akan coba komunikasikan dengan instansi terkait, semoga ada jalan keluar,” kata sekretaris JMSI Kabupaten Pelalawan ini.

Dingin nya hati yang dipancarkan oleh para pegiat sosial di Sahabat jumat di rasakan oleh Izrah Hikma (19) yang mengalami kelumpuhan sejak kecil ini,. Ketika didatangi sahabat Jumat yang dikomandoi Erik Suhenra, Izra hanya terbaring di tempat tidur, bibirnya hanya mau berucap satu dua kata, ia sampaikan harapannya yang sederhana ke Sahabat Jumat untuk memiliki kasur baru dan kursi roda agar memudahkannya ke toilet.

“Dulu pernah dijanjikan akan dibantu Dinas Sosial, itu tiga tahun lalu, sampai sekarang tidak datang datang,” kata ayah Izra, Suwandy (58).

Izra yang membutuhkan uluran tangan para dermawan, menjadi motivasi bagi Erik Suhenra menggalang dana ke berbagai relasi dan jaringan sosial nya, gayung bersambut, banyak pihak yang kemudian datang memberikan bantuan.

Izra Hikma kemudian didatangi Pengurus TP PKK Kabupaten Pelalawan, Baznas Pelalawan memberikan bantuan berupa kursi roda, kasur baru dan pempers, serta pihak pihak lain yang peduli pun datang membantu meringankan beban keluarga Suwandi.

Pendamping PKH Kelurahan Kerinci Kota Ela Manjo mengatakan melalui program Sahabat Jumat yang diinisiasi oleh Erik Suhenra banyak orang orang yang sangat membutuhkan dapat dibantu, apalagi sejak pandemi Covid 19, banyak keluarga yang terjun bebas ekonomi nya, tidak semua nya pula dapat disentuh melalui program pemerintah, dengan adanya komunitas sosial masyarakat seperti Sahabat Jumat menumbuhkan benih benih cinta antar sesama umat manusia.

“Kadang sesuatu kebaikan membutuhkan tangan pertama, seperti kasus Izra, setelah kedatangan Sahabat Jumat, banyak bantuan yang datang, “ kata Ela

Ela berharap, komunitas sosial harusnya mendapat dukungan masyarakat, saling berbagi dalam kebersamaan agar segala sesuatu jadi mudah.

“Kalau kita perhatikan saat ini di Kabupaten Pelalawan, banyak komunitas sosial yang tumbuh di masa pandemi, ada komunitas ibu ibu yang menyiapkan makanan untuk jamaah shalat jumat di masjid masjid, ada kommunitas masyarakat yang menyiapkan sarapan gratis untuk petugas kebersihan, pengumpul barang rongsokan, pengemis dan gelandangan, ada juga komunitas sosial yang membantu pasien pasien dari keluarga miskin, komunitas komunitas ini muncul karena semangat berbagi dengan keikhlasan sejati,” ungkap Ela

Dari Semangat yang telah disemai Erik bersama forum RT, RW dan Kaling serta Sahabat Jumat nya, serta semangat lain dari komunitas sejenis menyadarkan kita semua, bahwa pandemi yang mewabah dan telah membunuh ratusan ribu orang di republik ini, yang telah memporakporanda sendi sendi kehidupan masyarakat, membuat kondisi ekonomi memburuk, lapangan usaha sulit. Covid 19 mengirim orang ke bangsal bangsal Rumah Sakit, ke keranda jenazah, dan mengirim rasa ketakutan yang teramat sangat. tapi, Covid 19  tak menyentuh hati, tak membunuh nurani, tak mengkerdilkan jiwa anak bangsa untuk saling berbagi dan tolong menolong, bahkan situasi sulit malah melahirkan cinta.***

Penulis : Apon Hadiwijaya