Pekanbaru (Nadariau.com) – Pak Amir, begitu ia biasa dipanggil, sudah lebih dulu memberikan semangat positif dan openness saat Tim Jamkesnews menghampiri. Ketika itu, ia memang sedang kontrol di Eka Hospital, Pekanbaru.
Kepada tim, pria yang bernama lengkap Amiruddin M. Amin ini berbagi sepenggal kisah dirinya memanfaatkan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang dikelola BPJS Kesehatan saat ia divonis Penyakit Jantung Koroner (PJK).
Amir dan keluarga terdaftar sekitar akhir tahun 2015. Ia menyadari bahwa perlu kiranya ia dan keluarga memiliki suatu jaminan kesehatan sebagai antisipasi ke depan barangkali jika dibutuhkan.
“Dan memang pemikiran itu terjadi. Di tahun 2017 saya divonis PJK dan kini sudah pasang ring,” ceritanya.
Gejala-gejala yang mulanya ia rasakan adalah gejala-gejala umum yang memang dirasakan oleh pasien jantung, seperti kolesterol dan juga pola hidup Amir sebelumnya.
Sudah mulai terasa (gejala – red) di tahun 2016. Apalagi jika saya ada dinas ke luar kota. Saat naik-turun tangga atau saat melewati garbarata menuju pesawat, itu saya selalu merasakan sesak. Mulanya cek-cek biasa.
“Beberapa kali konsul ke sini, dan itu sempat menggunakan dana pribadi karena saya berpikirnya untuk tahap awal. Tapi lama-kelamaan semakin membutuhkan tindakan dengan berbiaya besar, seperti CT Cardiac, Kateterisasi, lalu saya akhirnya menggunakan BPJS Kesehatan,” kata dia.
“Saya kemudian di-CT Cardiac. Di situlah terdeteksi kurang lebih 50 persen terjadi penyumbatan,” lanjut Amir. Sejak itu Amir suka mencari tahu informasi-informasi seputar PJK dan penanganannya.
Sekitar September 2017 di suatu malam, Amir kena serangan. Berbekal pengetahuannya, Amir dan keluarga sudah melakukan penanganan pertama sebelum esok harinya dibawa ke RS. Oleh dokter, Amir lalu dicek dengan tindakan Kateterisasi.
“Untuk melihat ke dalam dan memastikan hasil CT Cardiac. Besoknya langsung pasang stent (ring) jantung. Selama rawat inap, pengobatan, tindakan operasi tidak ada iur biaya. Waktu itu hanya mengeluarkan sekitar 40ribu yang hanya keperluan pribadi sehari-hari,” ungkap Amir.
Sampai kini, Amir sesekali masih kontrol. Jika dulu pasca operasi kontrol bisa per dua bulan, sekarang kapan terasa kurang nyaman saja.
“Sesekali masih terasa karena waktu itu deteksinya yang tersumbat (dan dipasangkan ring) yang di belakang. Pembuluh darah ke jantung kan ada 3, kiri, kanan, dan belakang. Sementara yang kanan dan kiri sudah sekitar 50 persen terjadi penumpukan plak,” lanjutnya. Meski demikian, kini Amir memang lebih mawas diri. Dia tak lagi memaksakan tubuhnya. Jika sudah mulai terasa lelah, ia akan istirahat.
Dosen yang juga Pengusaha ini berpesan kiranya program ini karena memang untuk kepentingan publik, disamakan dengan apa yang berlaku di bidang pendidikan. Semuanya disubsidi. Karena menurutnya, iuran yang ada sekarang di Kelas 1 itu berat.
“Namun saya berpikirnya sederhana saja, saya sudah gunakan mungkin puluhan sampai ratusan juta, maka saya kembalikan itu selagi saya mampu. Dan saya tetap dan rutin membayar setiap bulan. Harapannya BPJS Kesehatan kiranya tetap dan terus bantu orang-orang. Kelola-lah BPJS Kesehatan secara baik sehingga dapat terus memberikan kemaslahatan bagi orang banyak,” tutup Amir. (ind)


